4 Tips Rahasia Mendapat Rumah Subsidi dari Pemerintah

Banyak orang yang tidak tahu bahwa ada perbedaan antara syarat untuk mendapat rumah subsidi dengan syarat untuk mendapat KPR subsidi.

Budi Permana - Bank BTN
Foto: Anto Erawan

RumahHokie.com (Jakarta) – Kekurangan kebutuhan (backlog) perumahan di Indonesia di 2015 lalu—berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS)—mencapai 11,4 juta unit. Angka ini menurun dari angka di 2010 yang mencapai 13,5 juta unit.

Kendati demikian, dalam lima tahun terakhir pembangunan rumah hanya berkisar 400 ribu – 500 ribu unit per tahun. Padahal kebutuhan rumah bagi per tahun sekitar 800.000 unit rumah.

Untuk itu, pemerintah sejak April 2015 lalu meluncurkan Program Sejuta Rumah yang bertujuan untuk membantu masyarakat—terutama Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)—memiliki hunian, baik rumah tapak maupun rumah susun.

Sejumlah kemudahan dan subsidi pun dikucurkan, seperti suku bunga tetap 5% dengan cicilan Rp700 ribu selama masa cicilan 20 tahun, serta uang muka hingga 1%.

Kepada RumahHokie.com, Budi Permana, Business & Sales Development Department Head, Subsidized Mortgage Division Bank BTN menjelaskan secara detail beberapa tips yang harus diperhatikan sebelum mengajukan rumah subsidi.

Wajib Dihuni
Harus diperhatikan, bahwa rumah subsidi diperuntukkan buat MBR yang belum memiliki tempat tinggal dan bukan komoditas investasi. Jadi, rumah subsidi harus dihuni.

Jika rumah tersebut kosong dalam satu tahun, disewakan, atau dijual, maka ada sanksi yang akan diberikan oleh Pemerintah.

“Sanksi bisa berupa penarikan subsidi. Rumah tetap menjadi milik si debitur, namun dia harus membayar sisa cicilan dengan bunga komersial. Selain itu, seluruh subsidi yang telah diberikan, seperti bantuan uang muka (BUM) dan selisih suku bunga KPR subsidi (5%) dengan bunga komersial yang berlaku, harus dibayar,” tutur Budi.

Untuk itu, lanjutnya, sebelum membeli rumah subsidi, Anda harus melihat lokasi rumah terlebih dahulu. Apakah dari lokasi rumah, Anda masih dapat mengakses tempat bekerja dan beraktivitas sehari-hari?

“Rumah subsidi umumnya memang jauh dari tengah kota, sehingga harus dilihat fasilitas transportasi menuju lokasi bekerja, apakah dengan kereta, busway, atau transportasi lain. Jangan sampai setelah dibeli, dia kesulitan mencapai kantor karena faktor waktu, sehingga rumah tak ditempati. Jika ini terjadi, subsidi akan dicabut,” papar Budi.

Setelah lima tahun, imbuhnya, rumah subsidi boleh dijual. Dengan asumsi, strata ekonomi si pemilik sudah meningkat.

Pengembang
Profil pengembang harus menjadi pertimbangan dalam memilih produk rumah subsidi. Pasalnya, rumah subsidi harus siap huni—tidak inden—sehingga pengembang harus memiliki komitmen membangun rumah subsidi dengan kualitas yang baik.

Apalagi jika membeli rumah susun, ujar Budi. Rumah susun tak bisa dikembangkan oleh pengembang sembarangan. Kontraktor yang mengerjakannya pun harus sudah berpengalaman.

“Biasanya kontraktor akan melihat, apakah pengembang tersebut memiliki finansial yang cukup,” katanya.

Mulai Menabung
Hal yang tak kalah penting jika ingin mendapat rumah subsidi adalah menabung. Menurut Budi, meskipun debitur sudah memiliki uang untuk membayar uang muka, tabungan dapat digunakan untuk membayar cicilan bulanan, peningkatan (renovasi) rumah, atau membeli kebutuhan (perabot) rumah.

“Tabungan juga bisa membuat calon debitur yang tidak bankable menjadi bankable,” jelasnya.

Penghasilan Pokok
Budi menuturkan, ada perbedaan antara syarat  mendapat rumah subsidi dengan syarat mendapat kredit KPR subsidi.

Menurut regulasi, mereka yang tergolong MBR dan memiliki hak untuk mendapat rumah subsidi harus memiliki penghasilan pokok (di luar bonus dan tunjangan) maksimal Rp4 juta per bulan untuk rumah tapak atau Rp7 juta per bulan untuk rumah susun.

Di sisi lain, untuk mendapat kucuran dana kredit subsidi, kata Budi, yang dihitung bank adalah seluruh penghasilan calon debitur.

“Misalnya, penghasilan pokok si calon debitur Rp3 juta. Dia layak dapat rumah subsidi. Namun, ketika diverifikasi, ternyata dia punya cicilan motor Rp1,2 juta dan tanggungan lain, sehingga sisa penghasilannya tidak cukup untuk membayar cicilan rumah subsidi. Hal ini menjadi pertimbangan bank untuk memberikan subsidi,” jelasnya.

Anto Erawan

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda