Abdul Hamid: Dulu Polisi, Sekarang Pengembang Properti

Bermodal Rp15 juta hasil menggadaikan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Polisi, Hamid memulai usahanya menjadi seorang entrepreneur.

RumahHokie.com (Jakarta) – Perjalanan karir tak selamanya mulus. Kadang harus melalui jalan terjal berliku. Hal ini pula yang dialami Abdul Hamid, CEO dan pemilik Mika Group.

Terlahir di Tangerang, 4 Juni 1985, Abdul Hamid adalah anak bungsu dari delapan bersaudara. Sejak duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar, Hamid telah menjadi anak yatim dan semua biaya sekolah ditanggung oleh sang kakak.

Selepas menamatkan Sekolah Menengah Atas, pada 2004, dia mendaftarkan diri sebagai polisi. Alasannya, karena dia tidak mau membebani kakaknya yang telah membiayai pendidikannya sejak SD.

“Sebenarnya saya sudah diterima di UGM (Universitas Gajah Mada) saat itu, tapi saya memilih jadi polisi, karena saya ingin cari uang sendiri. Dan memang saya masuk kepolisian tanpa uang sama sekali,” tuturnya kepada RumahHokie.com.

Gadaikan SK Pengangkatan
Memasuki 2006, dengan modal Rp15 juta hasil menggadaikan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Polisi, Hamid memulai usahanya menjadi seorang entrepreneur.

Membuka peternakan ayam menjadi pilihannya. Namun pada 2007, wabah virus flu burung melanda Tanah Air dan membuat usahanya pailit.

Pantang menyerah, enam bulan kemudian dia memulai peternakan belut dan lele, tetapi lagi-lagi bangkrut. Beberapa jenis usaha lain pun sempat dicicipinya, seperti berbisnis limbah pelastik dan menjadi pemasok kayu ke kontraktor, namun ujung-ujungnya merugi.

Tahun 2009 bisa dikata merupakan titik balik bagi Hamid yang mencoba peruntungan di bisnis jasa pengelasan. Pada 2011, ayah dua anak ini sukses menyuplai pagar, teralis, dan kanopi ke perumahan Gading Serpong besutan Paramount Land.

Di tahun yang sama, dia pun mulai mengembangkan usahanya di bidang cut and fill. Sukses dalam bidang tersebut, Hamid mulai mengembangkan bisnis di bidang jasa keamanan (2012) dan showroom mobil (2014).

Untuk menaungi usahanya ini, Hamid menggunakan nama Mika Group yang merupakan kependekan dari Mida Karya Abadi.

“’Mida’ sendiri merupakan kebalikan dari nama saya. Karena nama ‘Hamid Karya Abadi’ rasanya kurang cocok,” ujarnya sembari tersenyum.

Membangun Mika Land
Hamid mengaku memiliki mimpi membangun sebuah perumahan yang memiliki fasilitas lengkap laiknya kota mandiri. Maka, dengan menyisihkan laba yang diperolehnya, Hamid mulai membeli lahan seluas 20 hektar di kawasan Munjul, Tigaraksa, Tangerang.

Pada 2014, Mika Land pun berdiri dengan proyek perdana Savana Residence, yang memasarkan rumah subsidi dengan luas tanah 60 m2 dan luas bangunan 30 m2.

Di tahap pertama, Savana Residence memasarkan 100 unit rumah dan tahap kedua 500 unit. Pada tahap ketiga, Mika Land meluncurkan 600 unit rumah yang semuanya habis terserap pasar.

“Untuk mengembangkan 1.200 unit rumah di tahap pertama, kami telah menyiapkan lahan sebesar 10 hektar. Sementara 10 hektar sisanya akan kami kembangkan menjadi perumahan komersial,” paparnya.

Merekrut Ahli
Kesibukan yang menyita waktunya, membuat Hamid harus memilih: ingin tetap menjadi polisi atau menjadi pengusaha. Akhirnya, dia mantap mengundurkan diri dari kepolisian dengan pangkat terakhir Brigadir Polisi.

“Awalnya dilema juga saat harus memilih. Namun, karena makin sibuk, akhirnya saya mengajukan pensiun dini pada tahun 2014,” akunya.

Memiliki banyak perusahaan dengan 700-an karyawan ternyata tak membuat Hamid pusing dalam menjalankannya. Pasalnya, dia selalu merekrut orang-orang yang ahli dalam bidangnya masing-masing.

“Dengan merekrut orang-orang yang berkompeten di bidang masing-masing, semua pekerjaan yang dipercayakan kepada kami akan dapat diselesaikan dengan baik,” pungkasnya.

Anto Erawan

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda