Alvin Andronicus: Properti Menggeliat, Saatnya Ambil Ancang-ancang

Pasar properti Tanah Air masih ada buying power, tetapi tergantung segmentasi. Kelas menengah ke atas stop, tetapi kelas menengah ke bawah masih pergerakan, karena pembelinya end user.

alvin-andronicus-paramount-land-anto-erawan-rumahhokie-2019-dok
Alvin Andronicus, Marketing Director Paramount Land (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Tangerang) – Para stakeholder properti Tanah Air memprediksi bisnis properti bakal menggeliat di semester kedua 2019 ini, terutama setelah ajang kontestasi politik berakhir.

“Tidak ada lagi masa penantian setelah politik cooling down. Kita pelaku industri sudah harus masuk. Jika masih menunggu dan tidak melakukan ancang-ancang itu salah,” kata Alvin Andronicus, Marketing Director Paramount Land.

Baca Juga: Corral @ Malibu Village Gading Serpong Menangi Properti Indonesia Award 2019

Kendati demikian, jelasnya, pasar masih belum benar-benar pulih. Hal inilah yang menjadi tantangan terbesar para pengembang properti saat ini.

“Kebutuhan dasar masyarakat terhadap properti tidak akan berhenti. Meski demikian, sangat sulit bagi developer membuat produk yang tidak cocok dengan pasar,” jelas Alvin Andronicus saat ditemui RumahHokie.com pekan lalu.

Baca Juga: Paramount Land Bidik Generasi Milenial dengan Pemasaran Zaman Now

Dia menjelaskan, dalam tiga tahun terakhir developer merasakan pasar properti tiba-tiba stagnan. Namun, kondisi stagnan bukan berarti investor tidak memiliki daya beli, tetapi wait and see.

Kondisi ini, menurut Alvin, bermula sejak diterapkannya tax amnesty, kemudian disusul turbulensi ekonomi global, serta instabilitas politik dalam negeri jelang Pemilu dan Pilpres.

“Pasar properti kita ini buying power-nya ada, tetapi tergantung segmentasi. Untuk kelas menengah ke atas jelas stop, tetapi di kelas menengah ke bawah (harga di bawah Rp1 miliar) ada pergerakan, karena pembelinya end user,” urai Alvin.

Baca Juga: Gading Serpong Rilis Tagline Baru untuk Tangkap Pasar Milenial

Keadaan ini memerlukan dukungan pihak perbankan. Pasalnya, properti dinilai merupakan lokomotif yang membawa efek domino bagi perekonomian. Terbukti Bank Indonesia (BI) di Agustus 2018 meringankan loan to value (LTV) hingga 100% untuk rumah pertama.

“Pasar konsumen end user sangat rentan pada cash, tetapi dengan fasilitas KPR mereka mau masuk (membeli). Itu pun mereka masih alergi dengan bunga tinggi,” ujarnya. “Selain itu, jangka waktu cicilan yang lama juga sering jadi pertimbangan.”

Dengan demikian, pasar properti tergantung pada pengembang yang harus membuat strategi yang paralel dengan kebijakan pemerintah dan permintaan pasar.

Konsumen Milenial
Alvin menyoroti pengembang yang banyak latah mengincar pasar generasi milenial. Segmen ini menurutnya memang menggiurkan karena potensinya berkisar 23 juta jiwa, tetapi dia meragukan sejauh mana mereka bisa mengangsur.

“Tidak semua generasi milenial bisa membeli properti, karena tidak semua memiliki tabungan. Belum lagi gaya hidup mereka yang konsumtif cenderung tidak memiliki pikiran untuk investasi,” katanya.

Baca Juga: Cara Jitu Paramount Land Rangkul Konsumen Milenial

Lebih lanjut Alvin memaparkan, generasi milenial harus diedukasi cara mempergunakan uang untuk investasi properti. Ujung-ujungnya, mereka bisa memiliki properti sesuai kebutuhan

“Ada dua hal yang harus dilakukan pengembang untuk merangkul generasi milenial. Pertama, lakukan pendekatan personal. Jadi pengembang harus melakukan jemput bola. Kedua, buat hunian yang cocok dengan mereka. Karena mereka cenderung jarang di rumah, tawarkan rumah yang tidak besar, sehingga harga bisa ditekan,” urainya.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda