Apa Perbedaan Strategi Developer China dan Jepang di Indonesia?

Developer China cenderung melihat daerah yang belum dikembangkan tapi akan memiliki infrastruktur yang baik. Bagaimana dengan developer Jepang?

Ferry Salanto (Foto: Dedy Mulyadi - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Memasuki 2017, sebagian stakeholder properti Tanah Air optimistis akan terjadi rebound, kendati tak sedikit yang meragukannya—dengan melihat kondisi ekonomi dan politik yang terjadi.

Ferry Salanto, Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia mengatakan, properti di 2017 akan lebih bagus dibanding 2016.

Di sektor apartemen, imbuhnya, pasar sudah terlihat menggeliat dengan indikasi pembelian di beberapa proyek hunian vertikal tersebut.

“Kami memprediksi kenaikan harga akan lebih tinggi dibanding 2016 yang hanya 4%. Saya belum bisa mengatakan berapa angkanya, namun di saat normal, capital gain apartemen di Jakarta bisa mencapai 10% – 15% per tahun,” kata Ferry di sela seminar properti yang digelar Aliansi Real Estate Agent Indonesia (AREAI), Rabu (22/3/2017).

Selain capital gain yang terbilang rendah, kondisi pasar yang lesu ini diperparah oleh pasar sewa (rental market) yang juga lesu.

“Untuk apartemen, segmen yang paling laku adalah yang menyasar end user, yaitu segmen menengah dan menengah ke bawah. Harganya berkisar Rp300 juta hingga di bawah Rp1 miliar,” tuturnya.

Di sisi lain, sektor perkantoran masih over supply. Hal ini menyebabkan persaingan antar-gedung perkantoran memuncak dan harga terkoreksi.

“Gedung-gedung lama harus bersaing dengan gedung baru yang lebih bagus, tetapi gedung baru pun harus bisa mengisi okupansi dalam persentase tertentu agar operating cost (seperti listrik dan security system) tertutupi) tertutupi. Setelah itu mereka bisa tahan harga,” papar Ferry.

Investor China dan Investor Jepang
Mengomentari maraknya investor asing yang masuk ke Indonesia, Ferry mengatakan beberapa developer besar China sudah masuk, seperti China Harbour yang mengembangkan Daan Mogot City dan China Fortune Land Development yang bekerjasama dengan Alam Sutera.

“Mereka (developer China) kebanyakan membuat superblok atau proyek berskala besar (township) dengan pengerjaan jangka panjang. Berbeda dengan investor Jepang yang kecenderungannya lebih safe player dan menggarap proyek di daerah yang sudah proven, seperti di CBD dan Selatan Jakarta. Risikonya tak terlalu besar dan proyeknya kecil tapi lebih eksklusif,” urai Ferry.

Di sisi lain, developer China masuk tak hanya uang, tapi juga dengan tenaga kerja dari negeri asalnya. Sedangkan investor Jepang masuk hanya dengan tenaga kerja di level managerial.

Developer China juga cenderung melihat daerah yang belum dikembangkan tapi akan memiliki infrastruktur yang baik. Jadi, biasanya mereka juga main di sektor infrastruktur juga.

“Ada banyak cara mereka masuk, misalnya lewat sektor industri, kemudian menciptakan peluang lapangan kerja dan populasi. Selanjutnya, membangun fasilitas lain, seperti kesehatan, pendidikan, dan lain-lain,” katanya.

Anto Erawan

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda