Cara Agar Rumah Tusuk Sate Membawa Hoki

Rumah tusuk sate tidak selamanya membawa sial. Sayangnya banyak orang yang tak tahu cara menyiasatinya.

RumahHokie.com (Jakarta) – Rumah tusuk sate dinilai banyak orang kurang membawa hoki, bahkan membawa efek buruk bagi penghuninya. Dalam kajian feng shui, rumah tusuk sate merupakan persoalan tersendiri, tetapi bukan tidak dapat diatasi. Meski demikian, banyak orang tidak mengetahui cara mengatasinya.

(Baca: Enam Bentuk Tanah Kavling dan Kelebihannya)

Pakar Feng Shui Mauro Rahardjo menjelaskan, pada dasarnya rumah tusuk sate memiliki aliran chi yang sangat kuat. Begitu kuatnya, hingga aliran chi tersebut bisa rusak.

Mauro mengibaratkannya seperti aliran angin yang masuk ke dalam lorong. Rumah tusuk sate yang letaknya ada di bawah (lebih rendah dari permukaan) jalan, lebih sulit diatasi dibanding rumah yang posisinya di atas jalan.

“Tetapi jika rumah memiliki tanah yang luas, di atas 300 meter persegi, hal itu masih bisa diatasi,” tuturnya.

Rumah di tusuk sate bisa mendatangkan berbagai keburukan, jika si penghuni tidak cocok dengan lokasi tersebut atau jika keberuntungannya sedang turun.

“Keburukan yang bisa datang bagi penghuni adalah semua hal bisa terasa serba salah, kesehatan menurun dan sakit-sakitan, keuangan menipis, dan keharmonisan keluarga memburuk,” kata Mauro.

Tetapi sebaliknya, jika orang tersebut cocok dengan lokasi tusuk sate, justru kesehatan, keuangan, dan keharmonisan keluarga justru makin membaik, imbuhnya. Hal ini disebabkan aliran chi yang kuat di lokasi tersebut.

Cara Antisipasi
Menurut pendiri Feng Shui School ini, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi tersebut. Metode pertama, dengan melihat kua calon penghuni.

Kua terbagi menjadi tiga, yaitu kua kuat, sedang, dan lemah. Kua kuat adalah 2, 5, dan 9; kua lemah 1, 6, 8; sementara kua sedang, yakni 3, 4, dan 7 (lihat cara menghitung kua di bagian akhir artikel).

Penghuni yang memiliki kua kuat justru cocok jika tinggal di rumah tusuk sate, sebaliknya mereka yang memiliki kua lemah tidak dianjurkan tinggal di tusuk sate. Sementara, penghuni yang memiliki kua sedang, baik atau buruknya tinggal di hunian tusuk sate, tergantung peruntungan atau hokinya. Jadi terkadang bisa baik, terkadang bisa buruk.

Metode kedua, imbuh Mauro, adalah dengan memperlambat aliran chi. Caranya, dengan menutupi akses masuk rumah dengan pohon yang rimbun.

“Jadi dari arah jalan tusuk sate, yang terlihat lebih dulu adalah pohon-pohon. Selain menghalau aliran chi yang kuat, pepohonan ini juga  mampu meredam kebisingan kendaraan,” jelasnya.

Bisa juga sebelum mendirikan rumah, tanah ditinggikan kira-kira 1,5 meter, sehingga bangunan lebih tinggi dari jalan. Hal ini membuat aliran chi yang deras dari tusuk sate menabrak tanah urukan. Cara lain, pintu masuk dibuat tidak langsung menghadap tusuk sate.

Di samping itu, imbuhnya, bentuk bangunan keseluruhan pun mesti disesuaikan, yakni dengan menggunakan bentuk dari unsur api (segitiga) dan logam (bulat).

“Rumah di tusuk sate harus dibuat dengan tipe khusus seperti ini. Tipe rumah tusuk sate pun bisa dimodifikasi sehingga mendekati bentuk rumah standar, tetapi sebaliknya, tipe rumah standar tidak bisa dimodifikasi menjadi rumah tusuk sate,” jelas Mauro.

Dengan cara-cara penanggulangan tersebut, sudah semestinya para developer mulai mendidik pasar, sehingga mereka mengerti bahwa lokasi rumah tusuk sate sebenarnya bagus dan membawa hoki.

“Kalau tidak seperti itu, rumah di lokasi tusuk sate tetap akan sulit laku,” tuturnya.

Cara Menghitung Kua
Untuk Laki-laki: angka 100 dikurangi dua angka terakhir tahun kelahiran, kemudian dibagi 9. Sisa dari hasilnya adalah angka kua.

Contoh:
laki-laki lahir tahun 1954.
100-54=46:9=5, sisa 1
Angka kua Anda adalah 1

Untuk Wanita: dua angka terakhir tahun kelahiran, dikurangi 4, kemudian hasilnya dibagi 9. Sisa yang didapat itulah angka kua.

Contoh:
wanita kelahiran 1955
55-4=51:9=5 sisa 6
Angka kua Anda 6

Anto Erawan

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda