Cara Pembayaran Menggunakan KPA Makin Diminati Pembeli Apartemen

Meningkatnya penggunaan KPA (kredit pemilikan apartemen) memperlihatkan makin banyak end-user yang membeli apartemen.

apartemen jakarta - sentra-timur-residence-tahap-1-rumahhokie-anto-erawan-dok
Sejak 2013, penggunaan fasilitas KPA makin diminati pembeli apartemen di Jakarta (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Jumlah pasokan apartemen di Jakarta hingga dua tahun ke depan mengalami koreksi. Pasok apartemen tahun 2018, di awal tahun diproyeksi mencapai 25.410, tetapi di kuartal III ini terkoreksi menjadi 19.883 unit.

Pasokan apartemen di 2019, di awal tahun ini diperkirakan mencapai 20.234 unit, tetapi terkoreksi menjadi 17.721 unit. Sementara suplai apartemen di 2020, di awal tahun ini diperkirakan 14.324 unit, namun terkoreksi menjadi 12.829 unit.

Baca Juga: Sentimen Negatif Masih ‘Menghantui’ Pasar Apartemen di Jakarta

Menurut Ferry Salanto, Senior Associate Director Colliers International Indonesia, hal ini disebabkan banyak pengembang menunda proses groundbreaking atau bahkan menghentikan penjualan proyek apartemen mereka.

“Developer umumnya skeptis untuk mengenalkan proyek baru sejak 2015 akibat lesunya penjualan,” jelas Ferry Salanto saat pemaparan Property Market Update Kuartal III-2018, Rabu (3/10/2018).

Pasokan Terus Menurun
Menengok ke belakang, jumlah pasokan apartemen terlihat mengalami penurunan signifikan sejak 2015 silam. Di 2015, pasokan mencapai 18.840 unit sementara penyerapan 5.025 unit (hanya mencapai 26,67%).

Di 2016 pasokan turun menjadi 12.648 unit, sedangkan penyerapan pun turun menjadi 2.148 unit (16,98%). Di 2017 pasokan hanya 9.720 unit dengan penyerapan 2.410 unit (24,79%). Sedangkan di 2018 (year-to-date), pasokan 4.494 unit dengan penyerapan 1.220 unit (27,14%).

Baca Juga: Pasokan Apartemen di Tahun 2018 Akan Naik Signifikan

Di sisi lain, kenaikan harga apartemen sejak 2015 tercatat hanya 3%, sementara di tahun-tahun sebelumnya bisa menyentuh 16%.

“Ini yang menyebabkan investor apartemen menunda pembelian, karena yield yang diharapkan saat ini kurang menarik bagi mereka,” ujar Ferry.

KPA Makin Diminati
Lebih lanjut Ferry mengatakan, cara pembayaran apartemen mengalami perubahan. Di 2013 silam, pembayaran secara tunai mencapai 21%, installment paling banyak dipilih 63%, dan KPA hanya 16%.

Namun di 2017, pembayaran tunai turun menjadi 19%, installment 52%, dan KPA naik menjadi 29%. Sementara di 2018, tunai 19%, installment 48%, dan KPA menjadi 33%.

Baca Juga: Tips Membeli Rumah Susun Sederhana Milik (Rusunami)

“Penggunaan KPA (kredit pemilikan apartemen) yang meningkat, memperlihatkan bahwa jumlah end user makin banyak yang membeli apartemen,” kata Ferry.

Dia menuturkan, porsi KPA bisa diperbesar dengan beberapa regulasi, seperti pelonggaran LTV (loan to value). Tetapi aturan LTV tidak bisa berdiri sendiri, harus ditopang dengan suku bunga kredit yang rendah.

“Dengan kondisi suku bunga acuan yang naik di pertengahan Agustus 2018, hanya beberapa minggu setelah pelonggaran LTV, dan disertai melemahnya nilai tukar Rupiah, maka aturan baru LTV kali ini tidak terlalu berdampak,” urainya.

Baca Juga: Ini Dia, Tips Keren Cara Top-Up KPR/KPA

Namun, selain aturan LTV, ada cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan porsi KPR/KPA, yakni dengan memperpanjang masa cicilan (tenor).

“Saat ini kebanyakan tenor hanya sampai 20 tahun. Mungkin tenor bisa diperpanjang hingga 30 tahun, terutama untuk generasi milenial yang telah masuk dunia kerja. Dengan demikian, cicilan menjadi lebih ringan,” papar Ferry.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda