Co-Working Mengisi Kesenjangan di Tengah Kelebihan Pasokan Kantor

Kehadiran co working space mengubah cara orang bekerja menjadi lebih fleksibel dan memberikan peluang untuk membangun networking.

Co working space-EV Hive-RumahHokie.com
Salah satu perusahaan yang gencar membuka co working space di Jakarta adalah Ev Hive yang kini mengubah namanya menjadi Cocowork. (Foto: Ev Hive)

RumahHokie.com (Jakarta) – Menurut konsultan properti Cushman & Herald, di tengah melimpahnya pasokan ruang perkantoran dan perubahan kultur kerja yang menekankan kepada fleksibilitas, bisnis co-working space di Indonesia semakin dibutuhkan untuk mengisi kekosongan pasar.

Christopher Widyastanto, Associate Director Cushman & Herald, menyebut tren co-working space sebagai sebuah “revolusi”.

Hal itu dikarenakan mengubah cara orang bekerja menjadi lebih fleksibel dan memberikan peluang untuk membangun networking.

Baca Juga : 3 Tahun Terakhir, Ruang Co Working di Asia Pasifik Tumbuh 150%

“Berbagai perusahaan co-working space, termasuk pemain-pemain besar di skala global, telah mulai menjajaki pasar Indonesia yang saat ini berpeluang besar, kata Christopher seperti dilansir dari siaran pers yang diterima RumahHokie.com, Jum’at (20/07/2018).

Berdasarkan data Cushman & Wakefield, tingkat rata-rata okupansi ruang kerja di kawasan pusat bisnis Jakarta pada kuartal-I 2018, mengalami penurunan apabila dibanding dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Jika sebelumnya tingkat okupansi mencapai 80,85%, pada periode ini menjadi 76,67%. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya pasokan tambahan di kuartal pertama tahun ini.

Sedangkan untuk harga sewa kotor bulanan ruang perkantoran, telah menurun sebesar 6,67%, menjadi USD21.82 per meter persegi.

Baca Juga : Meski Berkembang, Bisnis Co Working di Indonesia Terkendala Regulasi

Cushman & Wakefield memperkirakan harga sewa akan tetap berada di bawah tekanan sepanjang tahun 2018. Tingkat kekosongan juga diperkirakan akan meningkat di tengah kesenjangan antara banyaknya pasokan dan rendahnya permintaan ruang perkantoran.

Tingkat kekosongan juga diperkirakan akan meningkat di tengah kesenjangan antara banyaknya pasokan dan rendahnya permintaan ruang perkantoran.

“Pasar properti mesti menerima dan melihat perkembangan co-working space sebagai salah satu cara berbisnis, bukan sebagai gangguan di pasar real estat,” katanya.

Baca Juga : Bidik Startup Fintech, EV Hive dan BTPN Hadirkan Co Working Space

Meskipun pasar untuk co-working space meningkat, Christopher menyatakan bahwa ruang perkantoran tradisional tetap diminati oleh sebagian kalangan.

Untuk pemilik gedung perkantoran, ruang kerja bersama dan ruang perkantoran tradisional dapat saling melengkapi satu sama lain.

“Keduanya sangat penting sebagai inkubator perusahaan-perusahaan yang nantinya akan menyewa lebih banyak ruang di bangunan tersebut,” pungkasnya.

Adhitya Putra Pratama
adhitya.putra@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda