Di Tangan Pengembang BUMN, Proyek TOD Dinilai Kurang Greget

Kenyataannya sebagian besar tanah-tanah yang diperuntukkan sebagai TOD belum memiliki payung hukum yang jelas.

Transit-oriented-development-TOD-RumahHokie.com
Transit Oriented Development (Foto: Dok. RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Makin menipisnya lahan di Jakarta membuat hunian—mau tak mau—harus beralih ke arah vertikal seperti apartemen. Bahkan, suplai apartemen di ibukota kian hari kian menurun.

Sementara itu, kemacetan yang seakan menjadi kutukan kota besar membuat hunian yang memiliki akses terhadap transportasi umum menjadi impian kalangan pekerja, terutama dari generasi milenial.

Baca Juga: Salah Kaprah Pengembangan Kawasan Berbasis TOD di Jakarta

Melirik ceruk pasar tersebut, beberapa developer mengusung konsep TOD (transit oriented development) di proyek-proyek yang mereka kembangkan.

Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch mengatakan, konsep TOD sangat mungkin menjadi primadona jika bisa terealisasi. Namun, kenyataannya sebagian besar tanah-tanah yang diperuntukkan sebagai TOD belum memiliki payung hukum yang jelas.

“Contoh, proyek TOD yang menggunakan tanah PT KAI ternyata belum jelas. Infonya, PT KAI minta tanahnya dibayar dengan harga tinggi, jadi enggak bisa ketemu,” kata Ali.

Baca Juga: TOD: Mewujudkan Transportasi Publik dan Kualitas Hidup Masyarakat

Dia menuturkan, sasaran TOD adalah generasi milenial dan komuter yang harga per unitnya berkisar Rp300 juta – Rp500 juta per unit. Namun, di Jakarta sudah hampir tidak mungkin ada lahan untuk apartemen dengan kisaran harga tersebut.

Untuk itu, imbuhnya, perlu regulasi pemerintah sehingga BUMN (Badan Usaha Milik Negara) bisa menjual lahannya di bawah harga pasar dan motto ‘BUMN Hadir untuk Negeri’ tidak sekadar slogan.

“BUMN bisa mengalokasikan 10% saja lahan mereka—tidak perlu semua—untuk pembangunan Rusunami subsidi dengan harga Rp250 juta. Kami sudah usulkan hal itu, tapi sampai sekarang belum ditanggapi,” tukas Ali Tranghanda.

Baca Juga: Sinergi BUMN Kembali Bangun Tiga Proyek TOD di Jakarta

Tak hanya PT KAI, PD Pasar Jaya pun bisa direvitalisasi untuk rumah susun seperti di Pasar Minggu dan Pasar Rumput. Namun, kebijakan pemerintah terhadap masalah rumah susun ini terlihat tidak memiliki kelanjutan.

“Lihat saja Wisma Atlet Kemayoran yang sudah dipakai di ajang Asian Games 2018 lalu. Wujudnya suda jadi, tapi pemerintah masih belum tahu mau dijadikan apa, mau disewakan atau jual? Saat ini masih kosong begitu saja,” katanya.

Jadi Pusat Komersial Baru
Senada dengan apa yang diutarakan Ali, Anton Sitorus, Head of Research Savills Indonesia memaparkan, proyek-proyek TOD sebenarnya bisa jadi penyumbang pasokan apartemen terbesar di Jakarta, namun sayangnya sampai saat ini belum ada proyek yang terealisasi.

“Di saat kondisi butuh banyak suplai dalam keterbatasan lahan, salah satu harapan terbesar adalah dari proyek TOD yang pemegang terbesarnya adalah pengembang BUMN,” kata Anton.

Baca Juga: Yayat Supriatna: Pembangunan TOD Masih Berjalan Tidak Sinkron

Menurutnya, kunci keberhasilan TOD ada pada BUMN yang bersangkutan. Potensinya TOD besar sekali, namun berhubung yang pegang proyek adalah BUMN, jadi progresnya agak lama. Berbeda jika proyek ini dikerjakan oleh pengembang swasta.

Lebih lanjut, Anton mengatakan, masalah TOD di Jakarta ini sebenarnya adalah PR pemerintah. Selain mengisi suplai hunian, TOD juga bisa mengurangi macet dan menjadi titik komersial baru.

“Bila sudah banyak seperti di Singapura dan Hong Kong, titik-titik TOD bisa menjadi sentra komersial baru, dimana lingkungannya dan distribusi bisnis berkembang, sementara kemacetan pun berkurang,” pungkasnya.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda