Di Balik Uniknya Tampilan Natural Cofftea House di Kompleks GBK Jakarta

Material eco faux produksi Viro diaplikasikan dalam bentuk atap rumbia pada bangunan Cofftea House di komplek GBK, Senayan Jakarta.

Cofftea House Di GBK Jakarta-Viro-RumahHokie.com-Istimewa
(Foto : Adrie Prasetyo)

RumahHokie.com (Jakarta) – Beberapa hari lalu, masyarakat Indonesia dan khalayak dunia merasa terkagum oleh upacara pembukaan (opening ceremony) ajang Asian Games 2018 yang berjalan meriah dan sukses.

Pemerintah Indonesia memang terlihat menyiapkan dengan sangat serius penyelenggaraan pesta olahraga se-Asia yang digelar di Jakarta dan Palembang tersebut.

Pembangunan beberapa venue baru serta revitalisasi komplek Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) menjadi gambaran bagaimana Asian Games 2018 dipersiapkan dengan sangat matang.

Baca Juga : Usung Konsep Archineering, Viro Bangun Gazebo Gedong Panjang

Selain memperbaiki infrastruktur venue olahraga, KemenPUPR turut pula membangun sarana dan fasilitas pendukung yang ada di area stadion, salah satunya adalah Cofftea House.

Berdasarkan laman digital KemenPUPR, Cofftea House memiliki luas bangunan mencapai 1.938 meter persegi dan berdiri di atas lahan seluas 45.000 meter persegi.

Cofftea House GBK, Vir
Dengan tampilan bagian atap yang natural, membuat Cofftea House menjadi ikon baru di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta. (Foto: Instagram @virobuild)

Uniknya, bangunan yang difungsikan sebagai area bersantai itu menggunakan atap rumbia, sehingga memberikan kesan natural pada tampilan arsitektur-nya.

Dilansir dari siaran pers yang diterima RumahHokie.com, Selasa (21/08/2018), atap rumbia yang diaplikasikan pada bangunan Cofftea House itu dibuat dengan bahan non-natural yang dikembangkan oleh Viro.

Baca Juga : Kolaborasi Viro dengan Kezia Karin Bukti Anyaman dapat Tampil Kekinian

Atap rumbia terbuat dari materi eco faux, yang merupakan kombinasi bahan non-natural high-density polyethylene (HDPE) dengan mineral alami. Bahan atap anyaman itu terlihat bisa menyatu dengan arsitektur bangunan dan juga lingkungan di sekitarnya.

“Selain bernilai estetika tinggi, atap rumbia eco faux ini memiliki ketahanan dari terpaan angin hingga 20 tahun dan tidak mudah terbakar, serta dapat didaur ulang hingga 7x pemakaian,” papar Johan Yang, Executive Vice President, PT Polymindo Permata, perusahaan pemilik merek Viro.

Cofftea House GBK, Vir
Interior Cofftea House GBK semakin elegan dengan perpaduan aplikasi plafon rotan dan lampu klasik. (Foto: Instagram @virobuild)

Selain di Cofftea House, Johan melanjutkan, material eco faux juga menjadi pilihan dalam pagelaran seni di acara puncak syukuran dari penyelesaian patung ikonik Garuda Wisnu Kencana di Ungasan, Bali.

“Dengan respon yang baik dari para pemangku kepentingan di Indonesia, saya rasa pelaku bisnis semakin menyadari kebutuhan material bangunan yang tidak hanya memiliki umur pakai lama, namun juga lebih ramah terhadap lingkungan” pungkasnya.

Adhitya Putra Pratama
adhitya.putra@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda