Trik Hebat Jual Properti dalam Waktu Singkat

Sebagai elemen investasi, properti punya kelemahan, yakni tidak mudah diuangkan. Di antara instrumen lainnya, properti paling reseh karena tidak likuid.

RumahHokie.com – Semua sepakat bahwa sebagai elemen investasi, properti punya kelemahan, yakni tidak mudah diuangkan. Di antara instrumen lainnya, properti paling reseh karena tidak likuid.

Apa investasi yang likuid? Emas, saham, BPKB, HP atau sejenisnya yang tinggal jual langsung saku terisi lagi.

Sama dengan properti, isteri juga tidak mudah dilepas ketika sudah dimiliki. Makanya, pikir matang sebelum melamar. Isteri dan properti itu unik. Keduanya identik. Setelah terima surat, tidak boleh batal.

Gimana ini? Udah belinya mahal, nggak pula mudah dijual. Mana ada beli satu dapat dua? Yang ada “Buy one get one key”.

Isteri juga “get one, buy one key”. Sekali I love you, besok satu rumah langsung pindah nama. Beli properti itu gampang, tapi saat menjual jadi tak mudah-mudah amat. Apa kiat menjual agar cepat laku?

Pertama, pakai agen properti. Komisi 3% jangan ditawar, karena dia harus berbagi dua dengan jaringan yang disebut co-broking. Kalau pelit, agent juga ogah bantu.

Statistik ‘National Association of Realtor’ mencatat bahwa properti di Amrik terjual rata-rata 108 hari setelah calon buyer longak-longok di 10 pilihan. Yang banyak jualan, nenek-nenek usia 53 ke atas. Saya kasih nama Menopause Community. Di sini namanya Neli (nenek lincah).

Kedua, below market strategy. Jual 90% – 95% di bawah harga realisasi terbaru.

Kok? Udahlah, denger apa kata saya. Best deal itu terjadi pada penawaran kedua. Kuncinya, penjual jangan ketemu calon buyer pada penawaran pertama. Ilmu saya tinggi, lho.

Ketiga, kuasai teknik dasar bernegosiasi. Ceiling price tarik-menarik dengan bottom price. Hasilnya? Lose-lose! Siapa bilang win-win?

Memang, Hazel Handerson bilang bahwa win-win itu kalo perang dibatalkan. Perang memang tidak terjadi, tapi pembeli terpaksa menaikkan penawaran dan penjual merengut karena mimpinya menjual harga tinggi jadi bodong.

Keempat, ya sadar saja bahwa menjual properti memang tak bisa seperti ke Pegadaian: “Mengatasi Masalah Tanpa Masalah”. Properti itu sumber masalah kalau saatnya menjual.

Makanya, pikir dulu sebelum beli. Harus market friendly. Laku nggak ya kalau tiga tahun lagi saya jual? Harus matang dipikir.

Nah, properti ada juga bedanya dengan isteri. Melamar isteri, jangan ada dusta. ”Cerai nggak ya tiga tahun lagi?”. Menikah harus long-term, meski ongkos pemeliharaan memang tambah lama tambah banyak.

Bersama F. Rach Suherman F. Rach Suherman
Mentor investasi properti nasional ini sebelumnya menjabat CEO di tiga perusahaan properti yang berbasis di Indonesia. Saat ini Suherman juga menjadi dosen dan aktif memberi seminar, pelatihan, dan konsultansi untuk perencanaan dan pemasaran properti.

Bila Anda memiliki pertanyaan, kirimkan ke: redaksi@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda