Hal Penting yang Perlu Diketahui Seputar Siklus Pasar Properti

Sesuai dengan teori ekonomi, pasar properti juga memiliki siklus. Bagaimana siklus ini bisa terjadi? Simak Uraiannya berikut ini.

RumahHokie.com (Jakarta) – Pasar properti juga memiliki siklus yang memperlihatkan naik-turunnya penjualan properti di saat tertentu. Siklus ini terbagi dalam empat fase, yakni fase resesi, booming (puncak), recovery (pemulihan), dan ekspansi. Bagaimana siklus ini bisa terjadi?

Turun-naiknya pasar properti disebabkan satu hal utama: inflasi. Ketika inflasi rendah seperti saat ini (3,07% per September 2016) dan BI rate di angka 6,5%, maka perlahan suku bunga KPR (kredit pemilikan rumah) akan turun ke single digit.

Baca: Mau Jadi Investor Mumpuni, Pahami 7 Sifat Dasar Properti

Pada saat suku bunga rendah seperti itu, banyak konsumen berlomba membeli rumah, sementara pengembang juga berlomba-lomba mengembangkan tanah dan bangunan.

Ketika itu, pasar sedang bergairah dan menuju booming. Dalam siklus properti, keadaan ini merupakan sebuah ekspansi moneter, atau terjadi pertambahan jumlah uang yang beredar di pasar.

Demikian banyak orang yang membeli dan membangun rumah, mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan antara jumlah uang dan jumlah barang. Dengan kata lain, uang mencari barang.

Dengan pergerakan uang yang cepat, di sisi lain, produk yang akan dibeli masih dibangun, sehingga terjadilah kenaikan harga. Permintaan jauh lebih tinggi dari suplai, karena menyediakan suplai tidak mudah dan cepat.

Tentu saja hal ini membuat harga-harga bahan bangunan mulai merangkak naik untuk merespon jumlah demand yang terus meningkat. Kenaikan harga ini juga dipicu juga oleh inflasi yang naik.

Baca: Tips Sukses Investasi Properti dari Investor Andal! 

Di lain pihak, suku bunga pun ikut naik, karena pemerintah harus menjaga tingkat suku bunga (BI rate) di atas inflasi, untuk memberikan marjin kepada para deposan yang memasukkan uangnya di deposito.

Ketika suku bunga naik—biasanya secara mendadak, maka para calon konsumen akan berfikir ulang untuk membeli properti. Sementara itu, pengembang mulai mengurangi stok, sehingga terjadilah masa koreksi terhadap bisnis properti itu (resesi).

Siklus ini terjadi berulang-ulang. Pada saat peralihan antara masa ekspansi dan resesi itulah kondisi pasar disebut soft market (pasar lembut) dan weak market (pasar lemah).

Anto Erawan

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda