Hanya Perumnas yang Bisa Membangun Rusunami

Salah satu kendala dalam pembangunan Rusunami adalah akad kredit pembiayaan (KPA) yang baru dapat dilakukan pada saat serah terima unit.

Rusunami Sentraland Bekasi (Foto: Dok Perumnas)

RumahHokie.com (Jakarta) – Sejak didirikan pada 1974, Perumnas merupakan perusahaan pelat merah yang menyediakan perumahan dan permukiman bagai masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

“Jadi, misi Perumnas adalah mendorong perumahan MBR,” kata Muhammad Nawir, Direktur Pemasaran Perumnas dalam acara Diskusi Forum Wartawan Perumahan Rakyat (Forwapera) yang mengangkat tema “Kupas Tuntas Dua Tahun Program Sejuta Rumah”, Selasa (9/5/2017).

Baca Juga: Perumahan Subsidi Jangan Jadi Ajang Investasi!

Menurutnya, pengembangan rumah sederhana tapak menghadapi banyak persoalan. Kendala terbesar adalah pengadaan lahan untuk perumahan subsidi.

“Umumnya rumah sederhana tapak berjarak 60 kilometer dari pusat kota. Rumah subsidi Perumnas sendiri berada di Serang, Parung Panjang, dan Karawang,” katanya.

Dengan makin langka dan mahalnya lahan—terutama di perkotaan—sekaligus mendorong agar target pembangunan satu juta rumah per tahun tercapai, urai Nawir, maka hunian vertikal atau rumah susun harus dipertimbangkan.

Dia mengatakan, sudah saatnya MBR tinggal di hunian vertikal, karena saat ini bisa dibilang tidak ada kota yang tidak macet. Pasalnya, jumlah penduduk makin bertambah akibat urbanisasi.

“Sebanyak 60% penduduk Indonesia saat ini tinggal di kota. Hal ini membuat kebutuhan hunian di kota sangat besar, sehingga harga tanah dan hunian tinggi. Padahal, keterjangkauan pembelian rumah masih rendah,” tutur Nawir yang mengatakan hunian vertikal lebih efisien di perkotaan.

Regulasi yang Memberatkan
Salah satu problem di sektor Rusunami (rumah susun sederhana milik) adalah selisih harga. Jika di Jakarta harga Rusunami per meter persegi Rp9,2 juta, maka di Bandung, Semarang, dan Makassar hanya Rp7,4 juta/m2.

Kendala lain adalah akad kredit pembiayaan (KPA) subsidi untuk Rusunami, baru dapat dilakukan pada saat serah terima unit.

Baca Juga: Presiden Resmikan 6.000 Unit Rusunami Seharga Rp293 Juta

“Dengan demikian, investasi yang diperlukan (untuk membangun Rusunami) besar sekali. Berbeda dengan apartemen biasa yang bisa menggunakan skema KPA inden,” katanya.

Area parkir juga menjadi masalah tersendiri bagi pembangunan Rusunami. Secara teori, Rusunami tak perlu memiliki lahan parkir yang luas karena penghuninya rata-rata menggunakan transportasi umum atau sepeda motor.

“Namun berdasarkan pengalaman kami di Rusunami Perumnas, gedung parkir harus ada. Penghuni bahkan hampir semua memiliki mobil, sehingga penghuni memarkir kendaraan di jalan, sehingga penduduk sekitar protes. Jadi, desain baru Rusunami kami harus memiliki gedung parkir satu banding lima,” paparnya.

Sulitnya regulasi terkait pembangunan Rusunami, membuat tak ada pengembang yang membangun Rusunami, kecuali Perumnas. Perumnas pun berat,” aku Nawir.

Baca Juga: Apa Sebab Pengembang Enggan Membangun Rusunami?

Perumnas tengah mengembangkan Rusunami Bandar Kemayoran, Sentraland Bekasi, Grand Sentraland Karawang, dan Sentraland Cengkareng.

Perumnas juga akan mengembangkan apartemen murah yang mengusung konsep transit oriented development (TOD) di tiga stasiun kereta yaitu di Stasiun Bogor, Tanjung Barat, dan Pondok Cina dengan total 5.000 unit.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda