Harga Sewa Perkantoran di CBD Diperkirakan Turun Hingga 2019

Meski pasokan tambahan 270.000m2. Iklim pasar saat ini akan menjadi tantangan bagi para pemilik gedung untuk bisa memenuhi ruang kosong.

Secara keseluruhan, harga sewa ruang kantor di CBD tercatat mengalami penurunan sekitar 0,8%.

RumahHokie.com (Jakarta) – Dalam enam bulan pertama di tahun 2017, tercatat sedikitnya ada enam gedung perkantoran yang diselesaikan dengan total pasokan mencapai 270.000 meter persegi (m2).

Keenam perkantoran baru yang berhasil diselesaikan diantaranya adalah Satrio Tower, The Convergence Indonesia, Menara Palma 2, Telkom Landmark Tower 2, Tokopedia Tower dan Menara Pertiwi.

“Meski adanya tambahan pasokan baru, penyerapan yang terjadi belum maksimal. Serapannya tidak lebih dari 63.000m2. Artinya, hanya kurang dari sepertiga. Angka tersebut membuat tingkat kekosongan di wilayah CBD naik menjadi 18,4% dari total pasokan yang masih kosong,” ungkap Anton Sitorus, Director of Research and Consultancy Savills Indonesia.

Baca juga: Tingkat kekosongan Tinggi, Sewa Perkantoran Non CBD Stagnan

Dibandingkan dengan tahun lalu kata Anton, vacancy lose hanya mencapai 15,7% di pertengahan tahun 2016. Dari analisanya, pasokan terbanyak di dominasi oleh segmentasi perkantoran di grade A (36%), diikuti perkantoran grade B (32%), premium grade (21%) dan grade C (11%).

Karena kondisi pasar yang melemah, ada beberapa tenant grade B dan C yang pindah ke gedung grade A. Selain lokasinya lebih bagus, perkantoran grade A harganya lebih terjangkau.

“Artinya, tingkat kekosongan terbesar sebenarnya terjadi di grade A. Hingga pertengahan tahun ini tercatat 27%. Kondisi seperti ini sangatlah memprihatinkan, bahkan masuk dalam record tertinggi dalam lima tahun terakhir,” terang Anton.

Untuk kategori premium grade, tingkat kekosongannya mencapai 16%. Angka ini menurun jika dibandingkan dengan pertengahan tahun lalu. Sementara, penyerapannya masih positif. Lain halnya yang terjadi pada grade B dan C.

“Gambaran yang terjadi, banyak ruang kosong di area CBD. Hal ini berakibat pada pertumbuhan harga sewa. Tercatat, sepanjang pertengahan tahun 2017, sewa ruang perkantoran tertekan,” ucap Anton.

Indeks Harga Sewa Merosot
Analisanya mengurai, indeks harga sewa untuk perkantoran grade A merosot, dari harga Rp231.000 permeter persegi menjadi Rp229.000. Sedangkan premium grade dari Rp196.000 menjadi Rp193.000.

Secara keseluruhan, harga sewa ruang kantor di periode ini tercatat mengalami penurunan sekitar 0,8%.

Menurut Anton, jika developer menyelesaikan pembangunan gedung perkantoran sesuai jadwal hingga akhir tahun 2017, akan ada hampir 850.000m2 ruang kantor baru di CBD.

Perkiraannya, tidak sampai 200.000m2, perbedaan antara supply dan demand  jauh. Dengan kondisi seperti ini, vacancy akan naik pada level 25% dan bahkan 30% hingga akhir tahun ini.

Iklim pasar saat ini tentunya akan menjadi tantangan bagi para pemilik gedung untuk bisa memenuhi ruang kosong. Tahun 2018 juga diprediksi ada tambahan pasokan baru.

“Artinya, untuk mendapatkan ruang perkantoran harusnya lebih mudah, karena calon penyewa bisa langsung bernegosiasi dengan pemilik gedung. Sehingga posisinya lebih tinggi untuk mendapatkan ruang yang lebih bagus,” papar Anton.

Menurutnya lagi, perkiraan harga sewa akan terus menurun hingga tahun 2019. Reborn untuk mengoreksi kembali diperkirakan akan terjadi pada tahun 2020.

Segmentasi perkantoran di CBD dapat disimpulkan bahwa, hingga pertengahan tahun ini total pasokan mencapai 5.700.000m2. Pasokan tambahan tercatat 270.000m2. Permintaannya hanya tercatat 72.000m2, kurang lebih 30% dari pasokan yang ada. Sedangkan harga sewa mengalami penurunan 0,8%.

Dedy Mulyadi
dedy.mulyadi@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda