Hartono Sarwono: Menyoal Perizinan Broker, Tahun Politik, dan Generasi Milenial

Berdasarkan undang-undang, pembukaan kantor broker properti tanpa izin merupakan tindak pidana dan dapat dikenakan denda Rp10 miliar.

Hartono Sarwono - AREBI - rumahhokie - dok
Hartono Sarwono, Ketua Umum DPP AREBI (Foto: Yuniar Susanto - Properti Indonesia)

RumahHokie.com (Jakarta) – Baru-baru ini, dua kantor agen properti disegel oleh Ditjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan (Kemendag), lantaran diduga tidak mengantongi izin usaha sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 51 tahun 2017 terkait bisnis perusahaan perantara properti.

Menanggapi penindakan tersebut, Hartono Sarwono, Ketua Umum DPP Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) mengatakan penindakan tersebut lebih bersifat mendidik dan hanya berupa pembekuan sementara. Kendati demikian, yang bersangkutan tetap diminta mengurus perizinan.

Baca Juga: Cara Dapat Double Commission dan Triple Income Bagi Broker Properti

“Berdasarkan undang-undang, pembukaan kantor (broker properti) tanpa izin merupakan tindak pidana dan dapat dikenakan denda Rp10 miliar,” kata Hartono kepada RumahHokie.com.

Menurutnya, kejadian ini merupakan pendidikan bagi perusahaan broker properti di Tanah Air. Tanpa ada sweeping seperti ini, semua akan santai saja, tidak mengurus perizinan.

“Kantor agen properti sebaiknya jangan menunggu tindakan pemerintah yang lebih jauh lagi. apalagi mereka yang memang secara profesional menggeluti profesi sebagai broker properti. Proses perizinan ini gratis dan bisa dilakukan secara online. Jadi, jangan diabaikan, karena untuk kebaikan industri kita bersama,” urainya.

Baca Juga: Uang Mudah dari Jualan Properti: Kedap-kedip Closing

Hartono menyatakan sosialisasi mengenai peraturan ini sudah cukup digaungkan melalui pertemuan-pertemuan AREBI dan media massa. Namun, dia mengaku, sosialisasi tanpa penindakan akan sulit juga.

“Sebenarnya peraturan dari Kementerian Perdagangan ini sudah lama berlaku. Sejak 2012 diatur sudah harus punya SIUP4 (Surat Izin Usaha Perusahaan Perantara Perdagangan), dan sudah setahun Permendag No. 51 tahun 2017 diberlakukan. Jadi, peraturannya sudah jelas,” papar Hartono.

Lebih lanjut, dia mengatakan, saat ini anggota AREBI hampir 1.000, tapi dia memerkirakan baru sepertiganya yang memiliki SIUP4.

“Kami tidak mengaharapkan penidakan, kami justru berharap seluruh broker mematuhi peraturan. penindakan adalah langkah terakhir dan tidak pandang bulu. Jadi, anggota AREBI atau bukan, akan kena penidakan,” katanya.

Tax Amnesty dan Tahun Politik
Hartono memaparkan, secara umum pasar bisnis broker properti di Tanah Air masih bergerak naik, dalam arti permintaan tetap tinggi dan pertumbuhan ekonomi tetap terjadi.

Masalahnya adalah stok dari investor cukup banyak dilepas ke pasar. Di sisi lain, minat investor untuk berinvestasi di properti belum pulih setelah kebijakan tax amnesty akhir 2016 silam. Ini tentu saja membuat animo investasi menurun.

Baca Juga: Tips Agen Properti: Tiga Zona Mencari Pembeli Potensial

“Tetapi penurunan hanya di primary market, sebaliknya di secondary market permintaan tetap tinggi dengan perbandingan 70:30,” ujarnya.

Memasuki tahun politik yang makin menghangat, Hartono mengatakan, kebutuhan primer seperti rumah tidak akan terpengaruh, kecuali properti yang jadi ajang investasi atau spekulasi, yang perlu melihat iklim kondusif.

“Di tahun politik ini, masih akan dipegang pasar secondary, tetapi pasar primary mulai mengisi kekosongan, karena suplai dari investor tak selamanya banyak,” tutur Hartono. “Yang penting pertumbuhan ekonomi positif dan pertumbuhan penduduk tinggi, pasti terjadi permintaan.”

Ancaman Bagi Generasi Milenial
Hartono menguraikan, belakangan di pasar properti terjadi shifting. Hal ini  mulai terlihat di sektor ritel, dimana banyak gerai berguguran, sementara mal berganti konsep ke arah entertainment/food court.

“Perilaku konsumen berubah, baik di sisi minat, maupun gaya hidup di era digital. Jika dulu orang ingin produk bermerek, sekarang wisata yang diminati. Coba lihat, generasi milenial yang selfie. Mereka mementingkan lokasi, bukan merek baju yang dipakai,” jelas Hartono.

Baca Juga: Tips Agen Properti: Mengatur dan Memproteksi Database Klien

Generasi milenial ini, imbuhnya, mengalami pertumbuhan income yang luar biasa dan jumlahnya banyak. Tetapi, daya tahan mereka secara finansial masih lemah, karena belum stabil dan gaya hidup yang high profile.

Berbeda dengan golongan menengah punya saving tinggi, generasi milenial punya spending yang tinggi. Mereka suka bergonta-ganti gadget dan hobi jalan-jalan. Mereka harus berfikir mengurangi biaya lifestyle dan mulai berinvestasi—salah satunya membeli properti—karena ini masa depan mereka.

“Jangan sampai tidak terbeli rumah, karena kenaikan gaji tak akan setinggi kenaikan harga properti,” pungkasnya.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda