Hendro Gondokusumo: Jangan Lakukan Direct Fighting!

"Pengembang harus pandai-pandai menghadapi kondisi apapun. Properti memang slowing down, tetapi tidak berarti properti mati," katanya.

Hendro Gondokusumo, Founder PT Intiland Development, Tbk (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Proyek Fifty Seven Promenade yang belum lama ini diluncurkan PT Intiland Development, Tbk (DILD), ternyata mendapat sambutan hangat dari konsumen. Penjualan proyek yang berada di kawasan Waduk Melati, Jakarta Pusat ini telah mencapai Rp2,3 triliun atau setara dengan target penjualan di 2017.

Menanggapi proyek Fifty Seven Promenade yang laku keras, Hendro Gondokusumo, Pendiri dan Presiden Direktur Intiland menuturkan, hal tersebut lantaran Intiland menerapkan strategi yang tepat serta tim yang bagus.

Baca Juga: Rilis Fifty Seven Promenade, Intiland Tawarkan Cara Pembayaran Unik

“Intinya, jangan melakukan direct fighting dengan proyek yang ada di sekeliling. Kalau ada yang gagal, maka proyek di sekitar, biasanya terkena imbas (gagal) juga,” kata Hendro kepada awak media, Kamis (12/10/2017).

Strategi serupa juga dilakukan Intiland di proyek 1Park Avenue yang berdekatan dengan Pakubuwono Residence dan Gandaria Height.

“Meski berdekatan, namun positioning 1Park Avenue berada di bawah Pakubuwono namun di atas Gandaria Height,” katanya.

Menurutnya, lokasi yang bagus pun tidak cukup, namun harus ditunjang dengan akses dan fasilitas yang baik.

Baca Juga: Targetkan Pendapatan Rp120 Miliar, Intiland Expo 2017 Digelar

Sebagai contoh, Fifty Seven Promenade memiliki fasilitas yang lengkap di sekelilingnya yang telah eksis lebih dahulu, seperti pusat belanja Grand Indonesia, perkantoran, serta sarana transportasi yang memadai, mulai LRT hingga kereta cepat ke bandara Soekarno-Hatta.

“Sebanyak 10% pembeli Fifty Seven Promenade berasal dari luar Jakarta dan mereka merasa nyaman dengan sarana dan fasilitas yang ada,” imbuh Hendro menjawab pertanyaan RumahHokie.com.

Pemilu dan Reklamasi
Hendro mengakui pasar properti memang belum kondusif. Sebenarnya konsumen punya uang, tetapi mereka lebih memilih, karena pilihan produk banyak saat ini.

“Terlepas dari masalah politik yang menghangat jelang pemilu 2019, pengembang harus pandai-pandai menghadapi kondisi apapun. Properti memang slowing down, tetapi tidak berarti properti mati,” katanya.

Baca Juga: The Rising Momentum Bisnis Properti di Indonesia

Hendro berpendapat bahwa properti harus ditangani secara full time. Pasalnya, kalau satu gagal, akan merembet ke proyek lain. Sementara jika ada yang sukses, maka properti di sekitarnya biasanya juga ikut sukses.

Menyoal reklamasi yang baru-baru ini dicabut moratoriumnya, Hendro mengatakan porsi Intiland adalah yang terkecil, karena sebelumnya sudah mereklamasi Pantai Mutiara seluas 100 hektar.

“Kami akan lakukan pembangunan setelah semua surat-surat (perizinan) beres,” katanya.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda