Hidup Bersama dalam Hunian Berkonsep Co-Living Space, Seperti Apa?

Co-living space menargetkan generasi milenial yang memiliki kecenderungan tak mau repot: cukup membayar satu tagihan untuk mencakup semua fasilitas.

Co-living Space (foto: Dok. WeLive)

RumahHokie.com (Jakarta) – Anda mungkin sudah mengenal co-working space. Sebuah ruang kerja berukuran besar dengan beragam fasilitas yang digunakan oleh beberapa—bahkan banyak—perusahaan, terutama perusahaan startup.

Meski dianggap revolusioner, namun konsep co-working space ternyata tak mampu mengakomodasi kebutuhan paling pokok, yakni hunian bagi para pekerja di startup company tersebut.

Baca Juga: Minat Kantor “Co-Working Space” di Hong Kong Meningkat

Melihat potensi bisnisnya, kemudian co-living space pun digagas. Targetnya, siapa lagi kalau bukan generasi milenial. Generasi melek teknologi ini memiliki kecenderungan tak mau repot: cukup membayar satu tagihan yang mencakup semua fasilitas.

Sebagian dari mereka merasa bosan berbagi rumah/apartemen atau muak dengan pemilik rumah yang terkadang lambat dalam memenuhi kebutuhan atau memperbaiki kerusakan hunian. Sebagian lagi ingin pindah ke co-living space karena menginginkan berada di dalam komunitas.

Sebuah artikel majalah Wired menunjukkan bahwa generasi muda cenderung mengidap “sindrom kesepian”, dimana hampir 60% pemuda berusia 18 sampai 34 tahun mengaku bahwa mereka terkadang bahkan sering merasa kesepian.

Operator Co-Living Space
Perusahaan operator co-working space, WeWork, pada 2016 meluncurkan unit usaha co-living space yang disebut WeLive. WeLive menerapkan prinsip dasar WeWork ke hunian yang menawarkan apartemen sewa yang menyediakan sejumlah ruang dan layanan bersama, seperti memasak, membersihkan, dan laundry, serta beragam kegiatan.

Konsep ini pertama diluncurkan di New York City dan Washington DC. Sebuah dokumen internal yang bocor di 2014 menyatakan bahwa WeLive diproyeksikan menghasilkan 21% dari pendapatan WeWork pada 2018.

Baca Juga: Co-Working Space: Manisnya Peluang Bisnis “Kantor Bersama”

WeLive memiliki beberapa pesaing, salah satunya adalah Common yang berkantor pusat di New York dan HubHaus yang berkantor pusat di San Francisco.

Di Inggris, sebuah perusahaan co-living space bernama The Collective, mengaku sebagai yang terbesar di dunia lantaran memiliki 550 penghuni.

Berada di Old Oak, menara 10 lantai yang ramping di London barat, The Collective menawarkan tenant yang berusia rata-rata 28 tahun, sebuah kehidupan komunal, dimana segala aspek kebutuhan sehari-hari—mulai tagihan listrik hingga hiburan—dijaga.

Secara umum, bentuknya seperti aula universitas, tempat tinggal bagi para profesional muda, tetapi lebih mewah.

Ruang komunal di The Collective memiliki luas 1.115 meter persegi, termasuk di dalamnya sebuah perpustakaan, tempat nongkrong di taman, co-working office, bar dan bioskop. Ini merupakan daya tarik terbesarnya, selain aktivitas yang diselenggarakan oleh tim event khusus.

Co-Living Space di Indonesia
Di Tanah Air, bisnis co-living space pun mulai dilirik, salah satunya oleh perusahaan startup bernama LIVE yang saat ini bernaung di bawah induk perusahaan The Palapa Group.

LIVE didirikan oleh empat orang alumni SMAN 8, yakni Satrio Rama Widyowicaksono, Pandu Satrio Nugroho, Ryan Gulfa Wijaya, dan Richard Max Gustav Schulz.

Baca Juga: Pelaku Bisnis Start-Up Tinggalkan Silicon Valley, Bali Jadi Destinasi

“Jauhnya lokasi kerja serta kemacetan membuat waktu menjadi tidak efisien. Kolaborasi yang baik antarpelaku di dunia startup hanya bisa dicapai dengan co-living space. Dengan begitu, para penghuni bisa saling terhubung secara terus menerus,” tutur Satrio Rama Widyowicaksono, seperti dinukil dari laman Tech in Asia Indonesia.

Menurutnya, co-living space merupakan konsep tempat tinggal seperti apartemen atau kamar kos yang ditujukan untuk para pengusaha dan founder startup. Di dalamnya ada sebuah ruang kerja bersama yang bisa digunakan para penghuni untuk bekerja, serta berkolaborasi dengan penghuni lain.

Sejak didirikan pada 2015 lalu, LIVE mendapat pendanaan tahap awal sebesar USD400 ribu (sekitar Rp5,4 miliar) dari angel investor. Dana segar tersebut pun telah digunakan untuk mendirikan sebuah pilot project bernama Panorama Residence, sebuah hunian 46 kamar yang berlokasi di Jatinangor, Sumedang.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda