Hingga Akhir 2017, Suplai Perkantoran Diprediksi Tembus 600.000m2

Triwulan I tahun ini tingkat permintaan di pasar perkantoran khususnya di CBD mencapai 21.000 meter persegi. Tingkat hunian rata-ratanya mencapai 84%.

savills Jakarta CBD Office Market Pickup 2020
Kawasan perkantoran di CBD (Foto: Dok. RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Sepanjang triwulan pertama di 2017, tiga sektor properti yang mulai membaik satu diantaranya adalah perkantoran.

Lembaga analisa properti Jones Lang LaSalle mengatakan, secara global pasar properti Indonesia mulai membaik. Sektor perkantoran mengalami pertumbuhan.

“Di tengah jumlah pasokan yang tinggi, sektor perkantoran di triwulan pertama tahun ini mengalami permintaan yang cukup kuat,” ucap  James Taylor, Head of Research Jones Lang LaSalle Indonesia (JLL), Rabu, 5/4/2017.

Menurut Taylor, permintaan tertinggi datang dari E-Commerce. Sejumlah sektor properti memperlihatkan optimismenya termasuk perkantoran di CBD.

Sejak tahun 2015 JLL mencatat, pasokan perkantoran mencapai 260.000 meter persegi (m2). Sedangkan di tahun 2016, suplai ruang perkantoran tembus 450.000m2. Angka tersebut diprediksi akan bertambah menjadi 600.000m2 hingga akhir 2017.

Dari data terakhir yang terangkum JLL, satu-satunya proyek perkantoran yang berhasil dirampungkan pada triwulan ini adalah Menara Pertiwi, dengan luas mencapai 45.000m2.

Tingkat Hunian di Kawasan CBD Mendominasi
“Okupansi di kawasan CBD berkisar diangka 84%, hanya saja diperkirakan akan turun sesaat hingga akhir 2017. Peningkatannya dipastikan akan stabil kembali awal tahun 2018 hingga 2020,” tegaskan Angela Wibawa, Head of Markets Jones Lang Lasalle Indonesia.

Menurut Angela, pada triwulan I tahun ini tingkat permintaan di pasar perkantoran khususnya di CBD mencapai 21.000m2. Sedangkan di luar CDB, permintaan ruang perkantoran mencapai 20.000m2 sepanjang triwulan pertama 2017.

Secara menyeluruh, data analisa tingkat hunian dan ruang sewa di kawasan perkantoran kelas A pada triwulan ini 73%, sedangkan kelas B: 89%, kelas C: 90% dan kawasan CBD : 84%.

“Hanya saja dari data itu, harga ruang sewa perkantoran kelas A mengalami penurunan 4,7% jika dibandingkan triwulan sebelumnya di 2016. Ini sudah terjadi selama tujuh tahun berturut-turut,” terang Angela.

Untuk perkantoran strata, permintaan tertinggi berasal dari pasar lokal. Harganya tetap stabil karena banyak pasokan yang muncul, suplainya mencapai 220.000 pada tahun 2020.

Pasokan gedung perkantoran baru di kawasan non CBD yang baru dirampungkan di triwulan ini adalah office tower Lippo St, Moritz dengan luas lahan mencapai 24.000m2.

“Jumlah pasokan hingga akhir 2017 akan bertambah 520.000m2. Secara umum, tingkat hunian ruang perkantoran non CBD rata-rata sebesar 77%. Hal ini didasari oleh adanya kompetisi ruang perkantoran baru di kawasan CBD,” papar Angela.

Tingkat hunian di sepanjang koridor TB Simatupang berkisar diangka 66%. Harga sewa diwilayah tersebut juga mengalami penurunan. Diperkirakan, harga sewa perkantoran non CBD akan mengalami penurunan hingga tahun 2018 dan mulai mengalami peningkatan di awal 2019.

Selain itu Co-working space menjadi salah satu sektor yang mulai berkembang, walau masih didominasi perusahaan lokal, namun tidak menutup kemungkinan bahwa perusahaan asing juga siap mengembangkan segmen ini di Jakarta.

Dedy Mulyadi

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda