Indonesia Akan Tampilkan ‘Sunyata’ di Venice Architecture Biennale 2018

Kembali ikut serta dalam ajang Venice Architecture Biennale, Paviliun Indonesia akan dirancang dalam bentuk bangunan ringan yang terbuat dari kertas Tyvek,

Paviliun Indonesia diajang Venice Biennale di tahun 2014 yang lalu, sukses menarik perhatian para pengunjung pameran tersebut. (Foto: Nico Saleh)

RumahHokie.com (Jakarta) – Setelah melalui proses seleksi yang dilakukan beberapa waktu lalu oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) RI dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), tema Sunyata: The Poetic of Emptiness dipilih untuk ditampilkan pada desain Paviliun Indonesia dalam gelaran akbar Venice Architecture Biennale 2018 mendatang.

Melalui konsep Sunyata, tim kurator Indonesia yang beranggotakan Ary Indra, David Hutama, Dimas Satria, dan Jonathan Aditya ingin meletakan manusia ke dalam inti dari sebuah karya arsitektur.

Mereka ingin menjadikan manusia (pengunjung) kembali sebagai tokoh penting di dalam ruang-ruang yang diciptakan nanti.

“Kami juga ingin melakukan ‘provokasi’ kepada pengunjung mengenai ruang kosong diberbagai tempat dan waktu yang sebenarnya sangat berperan penting untuk mereka,” ujar  Ary Indra di Galeri Nasional Indonesia.

Baca Juga: Cerita Tentang Arsitek Masjid Istiqlal yang Belum Diketahui Publik

Sketsa dari rancangan Paviliun Indonesia di ajang Venice Architecture Biennale 2018. Tim kurator menetapkan Sunyata: The Poetic of Emptiness sebagai judul dari karya desain tersebut. (Foto: Istimewa)

Menariknya, tema Sunyata akan diterjemahkan dalam bentuk bangunan ringan yang terbuat dari kertas Tyvek berwarna putih, selebar 14 meter x 18 meter yang terbuat dari bahan Polypropylene. Ary berujar bahwa jenis kertas tersebut biasa dipakai dalam material baju astronot.

Kertas yang tidak bisa disobek dan dicoret itu, nantinya akan menggantung di tengah-tengah, membentuk lengkungan setinggi 6 meter. Dibuat seolah-olah melayang, memisahkan antara ruang di atas dengan ruang-ruang di bawahnya. Para pengunjung bisa masuk ke bagian tengahnya, menikmati suasana yang kontras antara area bawah dengan ruang di atasnya.

Ketua tim kurator Paviliun Indonesia, Ary Indra menceritakan ide tema Sunyata muncul dari falsafah hidup yang dimiliki oleh masyarakat Jawa.

Ary Indra, salah satu arsitek yang menjadi kurator untuk pendirian Paviliun Indonesia di ajang Venice Architecture Biennale 2018 mendatang. (Foto: Adhitya Putra – RumahHokie.com)

“Kami mengambil falsafah hidup pada masyarakat Jawa yang selalu menyediakan ruang-ruang yang kosong. Kemudian, bagaimana imajinasi mereka dalam mengisi ruang-ruang kosong itu dengan kekuatan dan kekuasaan,” jelas arsitek penerima penghargaan AR Emerging Architect di tahun 2010 untuk kategori Highly Commended Project for Slide of Joy ini.

Baca Juga: Mengenal Gaya Mid-Century Modern dan Tips Penerapannya di Hunian

Pameran Venice Architecture Biennale yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali itu termasuk ajang yang penting, karena menjadi barometer perkembangan arsitektur global di masa depan.

“Kami akan menelaah nilai dan arti dari kekosongan serta void yang banyak dijumpai pada arsitektur Indonesia di masa lalu hingga sekarang. Selain itu, potensinya untuk dikembangkan sebagai kekuatan arsitektur Indonesia yang tidak kalah dari negara lainnya,” pungkas Ary Indra.

Adhitya Putra Pratama
adhitya.putra@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda