Inilah 5 Prinsip Pengembangan Transit Oriented Development (TOD)

Konsep TOD yang mengandalkan stasiun transit transportasi masal digadang mampu mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang kerap membuat jalanan macet.

adhi karya - PT Adhi Commuter Properti - LRT City Urban Signature - talk show TOD - rumahhokie - dok
Foto: dok. Adhi Commuter Properti

RumahHokie.com (Jakarta) – Pertumbuhan penduduk yang cepat membuat mobilitas masyarakat kian meningkat dan menyebabkan pada kemacetan lalu lintas.

Data Biro Pusat Statistik DKI Jakarta di 2016 menyebut, jumlah kendaraan di Jakarta mencapai 18 juta unit. Dengan total panjang jalan yang mencapai sekitar 7.000 km, kerugian akibat kemacetan ini diperkirakan mencapai Rp6 triliun setiap tahun.

Baca Juga: Salah Kaprah Pengembangan Kawasan Berbasis TOD di Jakarta

Pemerintah pun membangun sistem transportasi seperti MRT, LRT, dan BRT untuk mengatasi problem kemacetan. Pembangunan infrastruktur dan transportasi masal ini membuat beberapa pihak mulai mengadopsi hunian dengan konsep transit oriented development (TOD).

Konsep TOD dipilih lantaran mengandalkan stasiun transit transportasi masal sehingga mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang kerap membuat jalanan macet. Demikian penuturan pengamat properti David Cornelis dalam Media Talk Show yang mengangkat tema “Potensi Properti Berbasis TOD”, Ahad (3/12/2018).

Baca Juga: Di Tangan Pengembang BUMN, Proyek TOD Dinilai Kurang Greget

Menurutnya, pengembangan TOD ke depannya mengintensifkan rasio luas lantai, menambahkan ruang hijau, dan meningkatkan desain yang berorientasi pada transit dan pejalan kaki. Pola distribusi TOD di wilayah-wilayah kota satelit memiliki hubungan yang kuat dengan tingkat perkembangan perkotaan dan ekonomi daerah.

“Pembangunan dan perencanaan TOD harus dilakukan dengan sungguh-sungguh karena akan tidak secara otomatis mengikuti ketika transportasi umum masal dibangun,” tutur David Cornelis.

Lima Prinsip Pengembangan TOD
Peluang pengembangan properti berbasis TOD, dibidik oleh PT Adhi Commuter Properti, anak usaha PT Adhi Karya (Persero) Tbk yang saat ini tengah mengembangkan beberapa proyek yang terkoneksi dengan stasiun LRT Jabodebek.

Amrozi Hamidi, Direktur Utama PT Adhi Commuter Properti mengatakan, hunian berbasis TOD akan menjawab kebutuhan masyarakat terhadap hunian terintegrasi dengan sistem transportasi masal.

Baca Juga: Tutup Atap, Serahterima LRT City Jaticempaka Dijadwalkan Akhir 2019

“Berkaca pada negara-negara lain, hunian seperti ini akan menjadi pilihan masyarakat kaum suburban, karena selain praktis juga terintegrasi dengan sistem transportasi masal, yang tentu memberikan kemudahan mobilitas bagi penghuninya,” jelas Amrozi pada kesempatan yang sama.

Dia memaparkan, salah satu proyek berbasis TOD yang dikembangkan oleh PT Adhi Commuter Properti adalah LRT City Urban Signature, yang berada disisi stasiun LRT Ciracas Jakarta Timur.

Baca Juga: Adhi Karya Optimistis LRT City Mampu Bantu Urai Kemacetan

Kawasan yang dikembangkan di lahan seluas 6,2 hektar ini mengadopsi prinsip dasar pengembangan TOD, yaitu walkable, dimana area yang dikembangkan mudah dijangkau dengan berjalan kaki atau bersepeda.

Kedua, shift and transit, yaitu penghuni dapat mengalihkan penggunaan kendaraan pribadi, dan beralih menggunakan transportasi umum masal.

Ketiga, connect, dimana kawasan ini dikembangkan dengan menciptakan jaringan jalan yang saling terhubung.

“Keempat, densify, yaitu pengoptimalan kepadatan lahan dengan perencanaan bangunan vertikal, serta mixed-use development, untuk mengoptimalisasi tata guna lahan,” jelas Amrozi.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda