Investasi Properti Komersial di Asia Terdampak Perang Dagang AS-China

Menurut laporan Colliers International, perang dagang yang berlangsung antara AS-China nampaknya ikut membebani arus modal di pasar properti Asia.

Ilustrasi properti Asia, Colliers International
Ilustrasi properti di Asia. (Foto: shutterstock)

RumahHokie.com (Hong Kong) – Ketegangan perang perdagangan antara Amerika Serikat-China, menimbulkan bayang-bayang negatif bagi aliran investasi pada industri di Asia.

Konsultan real estat global, Colliers International dalam laporan-nya bertajuk ‘Radar Spectre of Long Trade War’ yang dirilis, Senin (12/08/2019) lalu, menerangkan bahwa ketegangan perdagangan AS-China nampaknya membebani arus modal properti dari Asia ke global dan begitu pula sebaliknya.

“Setelah penurunan YOY yang signifikan di paruh pertama tahun 2019, kedua pos investasi properti Asia sekarang terlihat paling datar di tahun ini. Sebaliknya, aliran modal intra-Asia masih tampak kokoh,” jelas Andrew Haskins, Direktur Eksekutif Riset Asia Colliers International.

Baca Juga: Investor Masih Aktif Mengambil Berbagai Peluang di Pasar Properti Asia

Meskipun ada minat aktif baru-baru ini dari investor Singapura dan Korea Selatan di pasar properti global, menurut Andrew belum cukup membebaskan beban pada jalur investasi modal di pasar properti Asia.

Ia menjelaskan, akibat dari ketegangan perdagangan antara AS-China adalah tertundanya permintaan ruang kantor di pasar Asia.

Hal itu kemudian, menambah dampak meningkatnya pasokan ruang gedung perkantoran serta mendorong kekosongan.

Pasar kantor Shanghai dan Beijing telah dipengaruhi oleh permintaan yang tertunda karena perang perdagangan dan pasokan baru yang besar.

Baca Juga: Pasar Apartemen: Antara Investor, Pemilu, dan Ekonomi Global

Pada kesempatan yang sama, Sam Harvey Jones, Managing Director Occupier Services Colliers Asia, berujar jika perang perdagangan berlanjut, Hong Kong mungkin akan lebih banyak kehilangan daripada kota-kota lainnya di China.

“Dengan 60% gedung perkantoran grade A diisi oleh perusahaan multinasional, membuat Hong Kong rentan terhadap permintaan ruang yang lebih rendah. Terutama, jika pembaruan perang perdagangan menekan pasar saham,” kata Sam.

Dia berpendapat, hal itu tentu masuk akal bagi penyewa gedung perkantoran untuk mempertimbangkan ekspansi di pasar lain untuk mengurangi risiko.

Baca Juga: Tingkat Hunian Perkantoran CBD Jakarta Diprediksi Akan Membaik

“Kami mengharapkan ada prospek jangka panjang yang positif ditengah kepercayaan yang menurun di antara perusahaan teknologi di China Selatan,” ujar Sam Harvey Jones.

Sebenarnya, ekonomi AS dan China saling terkait erat. Pada tahun 2018, menurut Dana Moneter Internasional (IMF), transaksi ekspor China ke AS mencapai USD481. Sedangkan transaksi ekspor AS ke Negeri Bambu tersebut sebesar USD120 miliar.

Adhitya Putra Pratama
adhitya.putra@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda