Jika Pasar Properti Tak Bangkit Tahun Ini, Sungguh Terlalu!

Pemerintah telah memberikan sejumlah stimulus yang dapat memantik bangkitnya sektor properti Indonesia, seperti BI Rate, LTV, KPR Inden, hingga Tax Amnesty.

RumahHokie.com (Jakarta) – Pemerintah terus menggelontorkan stimulus ke sektor properti, baik secara langsung maupun tak langsung. Kendati demikian, riset Indonesia Property Watch (IPW) di kuartal II-2016 memperlihatkan transaksi penjualan perumahan masih mengalami pertumbuhan negatif 13,3% (qtq) dan turun 49,8% (yoy), namun sedikit harapan mulai muncul dengan adanya kenaikan tipis 3,2% bila dilihat berdasarkan jumlah unit terjual.

Menurut Ali Tranghanda, CEO IPW, menurunnya nilai penjualan diperkirakan karena saat ini pasar perumahan lebih mengarah ke segmen menengah bawah dibandingkan menengah atas.

Beberapa stimulus yang berpotensi memberikan tenaga tambahan bagi pasar perumahan dan properti untuk terus tumbuh, antara lain:

BI Rate
Turunnya BI Rate di level 6,5% diperkirakan masih akan berlanjut. Bahkan sebagian pihak menilai di akhir 2016 suku bunga KPR bakal turun menjadi single digit.

Pelonggaran LTV dan KPR Inden
Pelonggaran aturan Loan to Value (LTV) dan Inden yang sudah dikeluarkan Bank Indonesia segera akan berdampak dengan besar uang muka menjadi sebesar 15% dari 20% dan dibukanya kembali larangan pembelian rumah secara inden untuk KPR Kedua.

Pembangunan Infrastruktur
Pembangunan infrastruktur yang merupakan terbesar saat ini dalam sejarah Indonesia yang diperkirakan mencapai Rp300 triliun pada saatnya akan memberikan dampak luar biasa bagi perekonomian nasional, termasuk properti.

Program Sejuta Rumah
Program yang pro pasar perumahan rakyat telah sejak tahun lalu digelontorkan pemerintah untuk menarik minat pengembang membangun rumah sederhana dengan suku bunga FLPP 5%, Besaran uang muka 1% dan bantuan uang muka Rp 4 Juta/unit.

Dana Investasi Real Estate (DIRE)
Pemotongan pajak DIRE menjadi single tax dengan total besaran pajak sebesar 1,5% seharusnya dapat menjadi salah satu alternatif pembiayaan proyek properti. Besaran pajak ini masih lebih murah 50% dibandingkan REITs di Singapura yang mengenakan pajak 3%.

PPh Final
PP No. 34 Tahun 2016 Tentang Tarif Baru PPh Final atas Pengalihan Hak Atas Tanah/Bangunan tentang PPh dari 5% menjadi 2,5% untuk non-subsidi dan 1% untuk subsidi.

Kepemilikan Asing
Setelah sangat lama berkutat masalah kepemilikan asing, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 103 Tahun 2015 tentang Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing yang Berkedudukan di Indonesia, diterbitkan Desember 2015. Meskipun demikian masih banyak aturan yang belum dapat diterapkan karena belum sesuai dengan kondisi lapangan yang ada. Paling tidak isu ini sudah mulai digulirkan.

Tax Amnesty
Program pengampunan pajak ini memengaruhi properti secara langsung ataupun tidak langsung. Tax amnesty bila berjalan dengan baik maka roda ekonomi akan berputar luar biasa.

Dana-dana besar dari luar akan masuk ke sektor-sektor padat modal seperti pembangunan infrastruktur yang menjadi salah satu tujuan investasi. Selain itu perbankan nasional akan kebanjiran dana-dana murah.

Di sektor properti sendiri dengan terbitnya PMK 122/2016, maka investasi boleh dilakukan di sektor properti dengan pembelian tanah dan/atau bangunan.

Birokrasi Perizinan
Munculnya Paket Kebijakan Ekonomi XIII memangkas jenis perizinan dari 33 izin menjadi 11 izin dengan waktu 1,5 bulan. Dengan demikian, pengembang bisa memangkas cost 30%. Namun tentunya perlu kesiapan masing-masing Pemda untuk segera menyiapkan Perdanya agak program ini dapat segera berjalan.

“Potensi kenaikan pasar perumahan dan properti semata-mata tidak hanya dikarenakan stimulus dari Pemerintah. Prediksi yang dilakukan Indonesia Property Watch tahun lalu mengisyaratkan siklus properti mulai akan bangkit di semester II-2016 dengan melihat indikator ekonomi dan properti nasional,” kata Ali.

Bila benar terjadi peningkatan di semester II tahun ini, imbuhnya, maka tentunya akan semakin luar biasa dengan paket-paket kebijakan yang akan menjadi booster bagi pasar properti nasional.

“Dengan banyaknya stimulus yang diberikan, seharusnya dalam waktu tidak lama lagi pasar properti akan kembali unjuk gigi untuk memberikan manfaat bagi bangsa dan negara Indonesia. Jika pasar perumahan tidak juga tumbuh sungguh keterlaluan!” tegasnya.

Anto Erawan

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda