Kehadiran Co-Working Space Bantu Penyerapan Ruang Perkantoran CBD Jakarta

Savills Indonesia melaporkan bahwa total penyerapan ruang perkantoran di kawasan CBD Jakarta telah mencapai 105.000 meter persegi.

Savills Indonesia, Pasar Perkantoran CBD Jakarta
Ilustasi perkantoran CBD Jakarta (Foto: Adhitya Putra-RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Penyerapan ruang perkantoran pada kawasan Central Bussines District (CBD) di Jakarta dinilai Savills Indonesia mengalami sedikit perbaikan apabila dibanding dengan kondisi tahun lalu.

Menurut Anton Sitorus, Direktur Riset Savills Indonesia, dalam pemaparan Property Market Update, Rabu (19/12/2018) di Senayan, Jakarta, penyerapan (net take-up) ruang kantor di kawasan CBD Ibukota hingga September telah meningkat jumlahnya dibandingkan kondisi sebelumnya.

Net take-up tahun ini sudah melebihi raihan pada tahun sebelumnya. Total penyerapan ruang perkantoran di CBD telah mencapai 105.000 meter persegi. Ini tanda yang cukup positif,” tuturnya.

Baca Juga: Permintaan Sewa Kantor di Kawasan CBD Jakarta Masih Tertekan

Jumlah penyerapan gedung perkantoran itu dijelaskan oleh Anton tak terlepas dari peran hadirnya tren co-working space yang kian menjamur.

Mayoritas ketersediaan ruang perkantoran digunakan oleh perusahaan penyedia co-working space, baik dari dalam negeri maupun luar negeri untuk mengembangkan bisnis mereka.

“Dalam periode awal co-working space seperti saat ini, kami melihat agresivitas mereka sangat tinggi. Perusahaan penyedia co-working terus menambah jumlah outlet mereka untuk mencapai market share yang diinginkan. Akibatnya, membantu penyerapan gedung perkantoran di kawasan CBD,” ungkap Anton.

Baca Juga: Pertumbuhan Harga Sewa Gedung Perkantoran Non CBD Masih Melemah

Meskipun demikian, pasar sewa gedung perkantoran di CBD Jakarta tengah mengalami kenaikan tingkat kekosongan (vacancy) sebesar 3,7%.

Dari yang sebelumnya vacancy berada di level 21%, meningkat menjadi 24,7%. Savills melihat tren tersebut disebabkan oleh melimpahnya pasokan ruang perkantoran CBD sejak 2015 lalu.

Konsultan properti itu mencatat tingkat kekosongan gedung grade A saat ini hampir mencapai 30%. Untuk vacancy gedung dengan level premium berada di angka 23%. Sementara itu, tingkat kekosongan gedung perkantoran grade B berada di level 16,5% dan gedung perkantoran grade C mencapai 14%.

Baca Juga: Benarkah Asian Games 2018 Pengaruhi Pasar Properti Indonesia?

Anton mengatakan, kemungkinan tingkat kekosongan gedung perkantoran CBD masih terus berlanjut hingga tahun depan, yang akan meningkat hingga level 27%.

Savills memprediksi tingkat kekosongan ruang perkantoran akan mulai surut di tahun 2020, dimana mereka memperkirakan antara pasokan dengan permintaan sewa mulai seimbang. Adapun harga sewa masih tertekan di level Rp202.000 per meter persegi per bulan.

“Disinilah kesempatan para tenant untuk melakukan negosiasi harga sewa atau melakukan ekspansi ruang kantornya. Hal itu dikarenakan pemilik lahan (landlord) saat ini bersedia melakukan negosiasi untuk mempertahankan tingkat okupansi gedung perkantoran,” pungkasnya.

Adhitya Putra Pratama
adhitya.putra@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda