Kehadiran Material Eco Faux Diharapkan Dapat Gairahkan Industri Anyam Indonesia

Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan RI, bidang kerajinan anyaman mencatatkan peningkatan nilai ekspor dari tahun 2016 sebesar 0,5% menjadi USD71,4 juta pada tahun 2017.

Viro, Eco Faux, Industri Anyam Indonesia
(Foto; Dok. Viro)

RumahHokie.com (Jakarta) – Indonesia telah lama dikenal sebagai salah satu negara yang kaya akan keanekaragaman budaya, salah satunya adalah budaya anyam.

Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan RI, bidang kerajinan anyaman mencatatkan peningkatan nilai ekspor dari tahun 2016 sebesar 0,5% menjadi USD71,4 juta pada tahun 2017.

Dengan potensi yang cukup besar, industri anyaman diharapkan dapat terus berkembang dan berkontribusi pada perekonomian negara serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui penyediaan lapangan pekerjaan alternatif.

Baca Juga: Usung Konsep Archineering, Viro Bangun Gazebo Gedong Panjang

Meskipun demikian, industri ini juga menghadapi berbagai tantangan. Misalkan saja, kurangnya ketahanan material pada kondisi cuaca tertentu, minimnya inovasi pada variasi desain dan juga menurunnya minat dan kesadaran generasi muda untuk menekuni budaya menganyam.

Sebagai bagian dari upaya untuk melestarikan budaya anyam, Viro, perusahaan pembuat material bagi arsitektur dan desain nasional, mencoba menyempurnakan materi serat buatan bernama eco faux.

Dilansir dari siaran pers yang diterima RumahHokie.com, Kamis (27/12/2018), Johan Yang, Executive Vice President PT Polymindo Pertama, perusahaan pemilik merek Viro menerangkan, selain menyerupai material anyam yang biasa digunakan, seperti rumbia maupun rotan, serat eco faux ini juga dapat menyerupai balok bambu.

Baca Juga: Kolaborasi Viro dengan Kezia Karin Bukti Anyaman dapat Tampil Kekinian

“Materi ini dapat memenuhi kebutuhan penganyam. Serat buatan tersebut memiliki kelebihan dapat didaur ulang, tidak beracun, lebih tahan api dan berbagai macam kondisi iklim ekstrem serta anti hama,” ujarnya.

Melalui penggunaan bahan eco faux ini, Johan berharap dapat kembali menggairahkan industri anyam dengan membuka peluang baru bagi penganyam untuk memproduksi berbagai kerajinan tangan maupun produk-produk arsitektur dan desain interior.

Untuk itu, ia mengatakan Viro menjalin kerjasama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB).
dengan mengundang beberapa penganyam dari Kecamatan Selaawi, Garut, Jawa Barat, untuk mengikuti pelatihan.

Baca Juga: Di Balik Uniknya Tampilan Natural Cofftea House di Kompleks GBK Jakarta

“Pelatihan itu bertujuan untuk menciptakan desain produk dan pola baru yang bernilai jual. Semakin sedikitnya penganyam yang berkecimpung dan melestarikan budaya tradisional ini merupakan hal yang sangat disayangkan. Sudah menjadi tugas kami untuk turut andil dalam memastikan budaya ini dapat terus hidup dan diturunkan pada generasi selanjutnya,” pungkas Johan.

Adhitya Putra Pratama
adhitya.putra@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda