KPR Syariah: Perbedaan, Keuntungan, dan Perhitungan Cicilan

Bank syariah menawarkan pembiayaan KPR tanpa bunga dan cicilan yang flat selama jangka waktu cicilan. Selain itu, KPR syariah juga bebas dari unsur riba.

RumahHokie.com (Jakarta)KPR (kredit pemilikan rumah) syariah semakin digemari konsumen. Hal ini tercermin dari maraknya bank-bank syariah yang menyasar ceruk pasar ini.

Secara umum ada dua segmen masyarakat yang menjadi konsumen KPR bank syariah.

Pertama, konsumen yang fanatik dengan sistem Islami (syariah). Mereka menganggap bank konvensional mengandung unsur ribawi, sementara bank syariah tidak mengandung riba.

Kedua, konsumen rasionalis yang melihat produk KPR mana yang lebih menguntungkan. Mereka biasanya terlebih dahulu membandingkan uang yang mesti dikeluarkan untuk mencicil rumah.

Baca Juga: Cara Cerdas Agar Pengajuan KPR Disetujui Bank

Ini pula penyebab pembiayaan syariah mulai diminati di negara-negara berpenduduk mayoritas non-muslim. Di Amerika Serikat misalnya, penggunaan KPR syariah mulai diperhitungkan, terutama setelah krisis finansial global di 2009 lalu, yang menyebabkan harga properti jatuh.

Konsumen memilih KPR syariah karena dinilai memiliki aturan yang lebih ketat. Bank syariah tidak akan mengucurkan KPR, jika investasi properti yang diinginkan calon debitur dianggap tidak prospektif. Hal ini sesuai dengan prinsip bank syariah, yakni berbagi risiko.

Perbedaan KPR Syariah
Lantas, ada perbedaan antara KPR syariah dengan KPR konvensional? Pada KPR syariah, yang ditransaksikan adalah barang (dalam hal ini rumah) dengan prinsip jual-beli (murabahah). Sementara pada KPR konvensional, yang ditransaksikan adalah uang.

Dalam pembiayaan KPR bank syariah, ada tiga pihak yang terlibat, yaitu nasabah, bank, dan developer. Pihak bank membeli properti dari developer, kemudian menjualnya kembali kepada nasabah yang dibayar secara angsuran.

Meski tidak memberlakukan sistem bunga, bank syariah mengambil margin keuntungan dari harga jual rumah—dan hal ini diperbolehkan dalam sistem syariah dan tidak tergolong riba.

Baca Juga: Tips Lengkap Sebelum Memilih Bank dan Produk KPR

KPR Syariah juga telah memenuhi unsur transaksi syariah, sesuai fatwa Dewan Syariah Nasional, sehingga transaksi dijamin kehalalannya.

Pembiayan ini, dapat digunakan untuk membeli rumah, ruko, rukan, apartemen, bisa juga untuk membiayai pembangunan atau renovasi rumah, serta pengalihan pembiayaan KPR dari bank lain.

Jangka waktu pembayaran KPR syariah yang ditawarkan perbankan syariah umumnya sangat panjang sekitar 10-15 tahun.

Keuntungan dan Perhitungan Cicilan
Bank konvensional biasanya menerapkan suku bunga KPR tetap (fixed) selama beberapa tahun pertama, setelah itu menggunakan suku bunga floating, yang naik-turun tergantung kondisi ekonomi dan suku bunga acuan.

Sementara itu, cicilan KPR syariah tetap selama masa tenor, sedangkan pendapatan konsumen (biasanya) akan naik. Hal ini akan tentu akan meringankan konsumen dalam mencicil.

KPR syariah juga tidak mengenal istilah value of money. Dengan demikian, jika konsumen (debitur) terlambat atau menunggak pembayaran, tidak akan dikenakan denda. Demikian pula jika konsumen ingin melunasi cicilan sebelum waktunya.

Baca Juga: Strategi Pembiayaan yang Cerdas

Hal terpenting, KPR Syariah tidak menerapkan compound interest atau bunga berganda dalam penghitungan margin atau angsurannya. Sistem bunga angsuran dihitung berdasarkan pengaruh inflasi yang sudah dibicarakan sebelumnya antara pihak bank dengan debitur.

Sebagai contoh, debitur membeli rumah seharga Rp500 juta dengan uang muka sebesar 20% (Rp100 juta). Dengan demikian bank syariah akan membiayai Rp400 juta.

Misalnya, pihak bank mengambil marjin keuntungan Rp200 juta dengan masa cicilan 10 tahun, maka uang yang harus Anda cicil selama masa tenor adalah Rp600 juta atau Rp5 juta per bulan.

Anto Erawan

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda