Land Rich and Poor: Cara Cerdas Mengelola Lahan Kosong

Punya tanah, tapi miskin. Bagaimana mungkin? Ya, tanah di Jalan Sudirman, Jakarta harganya mencapai Rp120 juta per meter persegi.

lahan-tanah-apartemen-serpong-rumahhokie-anto-erawan-dok
Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com

RumahHokie.com – Bisnis real estat ya harus ada tanah, baru gedungnya dibangun. Tapi gedung doang nggak bisa. Kalo di laut? Kan tiangnya juga nancep ke dasar laut (seabed).

Punya tanah, tapi miskin. Bagaimana mungkin? Ya, tanah Sudirman, Jakarta harganya Rp120 juta per meter persegi. Punya 500 m2, maka harusnya punya Rp60 miliar.

Baca Juga: Enam Bentuk Tanah Kavling dan Kelebihannya

Tapi karena lokasinya mahal dan tanah kecil, jualnya harus bareng-bareng sekampung agar terbentuk besaran 2 hektar dan dibeli konglomerat. Kalau nggak dijual, ya engkong melarat.

Lihat di Rawa Buntu, Serpong. Tanahnya biasa-biasa aja dan dekat stasiun KA komuter. Jangan bayangkan seperti Utrecht Centraal Station, 36 menit dari Den Haag Centraal, yang rapi dan futuristik.

Stasiun-stasiun KA di negeri kita rata-rata kurang gizi. Tapi Utrecht nggak ada potensi rezeki, sementara tanah Rawa Buntu bisa buat sewa motor.

Baca Juga: Ketahui Empat Hal Prinsip dalam Penerbitan Sertifikat Tanah

Tanah mini ya cuma muat 40 motor. Tarifnya sehari Rp 5.000 per motor. Di Stasiun Bekasi, lahan PJKA cuma muat 2.000 motor dan itu udah empet-empetan. Maka di situ konon ada 10-an “juragan parkir”. Ada yg bisa menampung 200 motor. Sehari dapat Rp1 juta. Setahun Rp360 juta.

Dengan perkiraan harga tanah 300 m x Rp3 juta, maka Capitalization Rate 40%. Ini gila. Jadi, tidak punya tanah di Sudirman yang ratusan juta semeter, ternyata bisa hidup lebih layak.

Maka, aset hanya bisa bikin sejahtera kalau Anda mengolahnya. Dimana-mana kalau diem ya no good lah.

Bagaimana kalau duit kosong, tanah juga tak ada? Jangan mikir berbaring di rel KA, Dik! Di sebelah Grand Indonesia itu ada “secret alley” yang nembus dari UOB Plaza. Koridor umum ini disulap jadi deretan ratusan motor parkir. Ini namanya kemurahan Ibukota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri.

Hidup yang kreatif menjauhkan diri dari jual diri dan bunuh diri. Makanya jangan mikir sendiri. Berdiri dan bangun jati diri. Akhirnya banyak saldo di Bank Mandiri.

Bersama F. Rach Suherman F. Rach Suherman
Mentor investasi properti nasional ini sebelumnya menjabat CEO di tiga perusahaan properti yang berbasis di Indonesia. Saat ini Suherman juga menjadi dosen dan aktif memberi seminar, pelatihan, dan konsultansi untuk perencanaan dan pemasaran properti.

Bila Anda memiliki pertanyaan, kirimkan ke: redaksi@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda