Laporan Khusus: Bisnis Properti Menuju Era Digital

Media online semakin mengubah wajah bisnis properti Tanah Air. Tokoh-tokoh pengembang ini menilai media-media konvensional bakal ditinggalkan.

Mencari properti lebih mudah dengan gadget di tangan (Foto: Dedy Mulyadi -RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Media online (daring) makin menjadi tren dan memengaruhi gaya hidup hingga cara berbisnis. Pengaruh media online juga mengubah wajah bisnis properti, terutama di sisi branding dan marketing.

Ishak Chandra, CEO Strategic Development and Services Sinar Mas Land mengatakan, penggunaan media daring untuk memasaran properti harus melihat siapa target market yang disasar.

“Kalau targetnya generasi milenial atau Y Generation, bisa menggunakan media online. Kalau targetnya X Generation apalagi Baby Boomer, masih belum banyak yang menggunakan media online,” tutur Ishak.

Ishak Chandra, CEO Strategic Development and Services Sinar Mas Land (Foto: Dok. Sinar Mas Land)
Ishak Chandra, CEO Strategic Development and Services Sinar Mas Land (Foto: Dok. Sinar Mas Land)

Saat generasi Baby Boomer dan Generasi X mulai tidak produktif, imbuhnya, Generasi Y akan memasuki usia produktif dan memiliki buying power yang tinggi.

Ditambah dengan kelas menengah (middle class) yang naik dengan sangat cepat, kata Ishak, maka cepat atau lambat media online akan akan menggantikan media konvensional.

“Saya rasa media online akan menggantikan media konvensional dalam lima sampai 10 tahun ke depan. Sinar Mas Land sendiri sudah harus lari ke sini (online),” papar Ishak yang mengatakan perbandingan promosi online dengan konvensional Sinar Mas Land saat ini sekitar 50:50.

Media Cetak Kurang Efektif
Di temui di tempat terpisah, Alvin Andronicus, ‎Assistant Vice President Marketing PT Agung Podomoro Land, Tbk. (APLN) mengakui, di era digital seperti saat ini opini masyarakat mudah terbentuk lewat media sosial, baik positif maupun negatif.

Di sisi positif, semua bisnis sudah harus terkoneksi dengan digital. Bahkan media sosial pun menawarkan potensi bisnis.

“Pertanyaannya, bagaimana kita mengelola sistem online ini, sehingga user, developer, serta investor bisa terkoneksi dan menghasilkan transaksi,” ujar Alvin.

Menurutnya, era digital marketing sudah mengubah cara memasarkan properti. Dia memberi contoh, di era 1990-an pameran properti sangat diminati, namun belakangan ini peminatnya makin sedikit.

“Saat ini, konsumen cukup searching saja secara online dan mereka sudah bisa dapat banyak informasi,” kata Alvin. “Jadi, dotcom company yang bermain di bisnis properti harus siap. Tapi yang harus dipikirkan adalah bagaimana kemasannya, sehingga orang tertarik.”

Alvin Andronicus, Assistant Vice President Marketing PT Agung Podomoro Land, Tbk. (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)
Alvin Andronicus, Assistant Vice President Marketing PT Agung Podomoro Land, Tbk. (Foto: Anto Erawan – RumahHokie.com)

Alvin mengungkapkan, beriklan di koran sudah kurang efektivitasnya. Saat ini, memasang iklan satu halaman penuh di surat kabar ternama pun hanya bisa menghasilkan leads di bawah 100, bahkan terkadang di bawah 50 leads.

Menyinggung belanja iklan, Alvin mengatakan di 2016 lalu APLN lebih fokus beriklan di media elektronik seperti televisi. Bahkan, sebanyak 60% biaya promosi digunakan untuk beriklan di TV.

“Iklan di televisi menelan cost paling besar, karena biaya produksinya tinggi. Iklan pun harus dibuat menarik, sehingga orang mau duduk dan menonton,” jelasnya.

Alvin mengatakan, tahun ini sebagian cost promosi akan dialihkan ke media daring. Untuk itu, pihaknya akan menggandeng portal-portal properti online.

“Kami sadar, dunia sudah berubah dan kami juga harus berubah,” ujarnya.

Televisi Akan Ditinggalkan
Sementara itu, Bambang Sumargono, Direktur Marketing Kingland Avenue @Alam Sutera mengatakan, pihaknya mulai masuk ke digital marketing sejak 2016 lalu.

Untuk itu, pihaknya menggunakan beragam tools, seperti media sosial, media online properti, dan SEO (search engine optimization).

Bambang menjelaskan, di 2016 lalu dengan digital marketing melalui beberapa media properti daring, Kingland Avenue bisa closing puluhan unit apartemen.

Hal itu, menurutnya, tak pernah terbayangkan sebelumnya, dan ini membuktikan bahwa media online begitu powerful.

“Saat ini, kami lebih percaya (efektivitas) media online dibanding media elektronik seperti televisi,” kata Bambang.

Bambang Sumargono, Direktur Marketing Kingland Avenue @Alam Sutera (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)
Bambang Sumargono, Direktur Marketing Kingland Avenue @Alam Sutera (Foto: Anto Erawan – RumahHokie.com)

“Ada beberapa kelebihan media daring dibanding TV, di antaranya informasi tidak pernah hilang. Sekali tayang, selamanya ada di sana. Bandingkan dengan televisi. Hari ini tayang, besok sudah hilang, sehingga terbatas (penerima informasinya),” urainya.

Dengan maraknya penggunaan ponsel pintar, Bambang yakin penetrasi digital marketing makin tinggi. Apalagi Indonesia memasuki era bonus demografi di 2020 di mana generasi milenial—yang internet savvy—mulai memiliki buying power.

“Sekarang ini adalah masa transisi. Anak-anak muda Generasi Y akan menjadi potential buyer. Mereka tidak akan pindah lagi ke media televisi—mungkin akan menggunakan media baru lagi yang lebih canggih. Jadi TV memang sudah ketinggalan zaman, selain itu bujetnya juga terlalu besar,” urai Bambang.

Perlu Sentuhan Personal
Strategi digital marketing bisa digunakan untuk produk properti, bukan hanya sebagai brand awareness, tetapi juga untuk edukasi produk dan penyebaran informasi secara luas.

Hanya saja, transaksinya masih tetap mengutamakan sistem konvensional. Demikian penuturan Henry S. Lango, Director Sales and Marketing PT Cowell Development, Tbk. kepada editor RumahHokie.com, Dedy Mulyadi.

“Tetapi bagi kami sebagai developer, digital marketing cukup efektif, karena daya jangkaunya tanpa batas,” kata Henry.

Menyoal sistem transaksi properti secara online, menurutnya saat ini masih belum bisa diterapkan, karena masyarakat masih lebih memilih sistem konvensional, dimana dalam proses terjadinya transaksi perlu personal touch.

“Kesuksesan transaksi properti butuh proses panjang. Calon konsumen harus melakukan kunjungan terlebih dahulu untuk melihat properti yang hendak dibeli. Di sana, mereka bisa merasakan aura atau melihat kondisi di sekitar lokasi secara langsung. Hal ini yang tidak bisa ditawarkan digital marketing,” katanya.

Henry S. Lango, Director Sales and Marketing PT Cowell Development, Tbk (Foto: Dedy Mulyadi - RumahHokie.com)
Henry S. Lango, Director Sales and Marketing PT Cowell Development, Tbk (Foto: Dedy Mulyadi – RumahHokie.com)

Digital marketing saat ini cukup membantu calon konsumen dalam pencarian properti. Tapi sistem ini pada akhirnya butuh sentuhan marketing dalam penjelasan informasi secara detail.

“Strategi ini lebih tepat untuk mendapatkan banyak appointment. Kami akui, untuk mendapatkan buyer potensial biasanya lebih banyak dari digital marketing,” tutur Henry yang mengatakan melalui digital marketing, 70% sampai 80% calon konsumen bisa deal untuk membeli properti.

Dia memaparkan, dalam memuluskan bisnisnya, saat ini semua developer membutuhkan digital marketing. Teknologi ini sudah menjadi kewajiban.

Bahkan untuk menjaring calon konsumen, para developer menerapkan kecanggihan aplikasi 3D agar mereka tidak perlu datang ke show unit.

“Perlu diketahui, dunia sales properti lebih mengedepankan kedekatan personal untuk bisa menciptakan transaksi. Bagi konsumen di level khusus, mereka tidak hanya membeli produk, tapi juga membeli jasa. Bahkan mereka terkadang tidak melihat dulu produk propertinya, tetapi lebih melihat siapa marketingnya,” pungkas Henry.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda