Lukas Bong: Tentang Hunian Milenial, Pelemahan Rupiah, dan Broker di Era Teknologi

Belakangan terjadi perpindahan dari penggunaan media offline ke media online untuk memasang listing properti, namun hal ini tergantung pada beberapa hal.

lukas-bong-3-ketua-umum-dpp-arebi-era-max-by-anto-erawan-rumahhokie-dok
Lukas Bong, Ketua Umum DPP AREBI (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Menjamurnya portal properti online, ternyata tidak serta-merta membuat broker properti meninggalkan pemasangan iklan (listing) secara konvensional.

Hal ini diungkapkan Lukas Bong, Ketua DPP Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) saat ditemui tim RumahHokie.com beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Ketua AREBI Tekankan Pentingnya Sertifikasi dan Etika Broker Properti

Lukas mengakui, memang telah terjadi shifting dari media offline ke media online, namun kontribusinya tergantung pada nilai properti yang dijual.

“Jika properti tersebut menyasar end user (konsumen), seperti pasangan muda dan generasi milenial, biasanya mereka browsing terlebih dahulu sebelum membeli. Harga properti yang dicari lewat media online biasanya di bawah Rp1 miliar,” jelas Lukas.

Baca Juga: Tidak Tersertifikasi, Broker Properti Bisa Dipenjara Empat Tahun

Sebaliknya, jika harganya di atas Rp1 miliar, umumnya para pembeli lebih mature secara usia dan finansial. Mereka, imbuh Lukas, masih banyak mencari properti menggunakan media konvensional seperti brosur, koran, dan lain-lain.

Kendati demikian, Lukas mengakui bahwa porsi iklan online terus mengalami kenaikan.

“Oleh karena itu, broker properti harus belajar terus. Kalau tidak, (kemajuan teknologi) akan ‘membunuh’ dia pelan-pelan, karena pasar telah shifting ke online,” tutur Lukas.

Hunian Impian Milenial
Di sisi demand, meski belum kuat secara finansial, generasi milenial yang mulai menjadi pasar potensial para pengambang, memiliki “standar” tersendiri terhadap properti yang akan dibeli.

Menurut Lukas, pangsa properti dari generasi milenial yang produktif mencapai 30%, hanya saja daya beli mereka belum terlalu tinggi. Generasi milenial umumnya ingin properti dengan harga terjangkau, tapi banyak persyaratannya, seperti jaringan internet cepat, fasilitas kolam renang dan gym, lokasi yang terjangkau, dan lain-lain.

Baca Juga: Pasar Properti Tidak Bisa Lagi Menyasar Generasi Milenial

“Jika dulu yang penting dalam properti adalah ‘lokasi, lokasi, lokasi’, sekarang properti yang diinginkan milenial di-convert dengan konsep TOD (transit oriented development) atau dekat dengan pusat transportasi,” papar Lukas.

Saat ini, jelasnya, yang terpenting adalah jarak tempuh, bukan lagi jarak tempuh. Apalagi belakangan pembangunan infrastruktur makin gencar, dan otomatis developer akan mengikuti jalur infrastruktur tersebut untuk mengembangkan properti baru.

“Jadi, dengan waktu tempuh yang lebih cepat, waktu untuk keluarga pun lebih banyak. Selain itu, di jalan mereka tak pagi perlu memegang setir, sehingga bisa pegang gadget dan online terus,” urai Lukas.

Jual Dolar, Beli Properti
Lebih lanjut Lukas memaparkan, kondisi ekonomi di Tanah Air saat ini belum menunjukkan sinyal positif, salah satunya lantaran melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika.

“Untuk itu, kami dari AREBI dan beberapa stakeholder properti mengampanyekan hashtag #jualdolarbeliproperti,” ungkapnya.

Baca Juga: Puncak Pasar Properti Diperkirakan Terjadi Pasca Pilpres 2019

Lukas menambahkan, nilai Dolar masih tinggi dengan kenaikan sekitar 20% – 30% dibanding sebelumnya. Tetapi dia merasa fundametal Indonesia masih kuat, berbeda dengan di 1997 lalu dimana Dolar melejit dari Rp4.000 menjadi Rp16.000.

“Jika kita menjual Dolar sekarang, developer masih belum menaikkan harga propertinya, jadi ini kesempatan yang baik,” katanya.

Terkait ajang pemilihan presiden di 2019 yang mulai menghangatkan suhu politik, Lukas mengatakan hal tersebut tak akan berpengaruh banyak bagi bisnis di Indonesia. Pasalnya, Indonesia adalah negara autopilot: siapa pun presidennya, bisnis akan tetap jalan.

Baca Juga: Ini Sisi Positif Tahun Politik Terhadap Sektor Properti

Dia memprediksi semester pertama 2019, properti akan melambat, namun di semester kedua—saat presiden sudah terpilih—harusnya lebih bagus.

“Saya yakin Indonesia akan damai-damai saja. Dan yang namanya rumah (properti) akan selalu dicari orang, misalnya saja pasangan muda,” ujarnya.

Lesunya properti belakangan ini, imbuhnya, harus membuat developer lebih jeli. Suplai banyak, tetapi hanya sedikit yang terserap, hal ini lantaran produk tidak sesuai dengan demand.

“Karenanya, pengembang harus menyesuaikan lokasi dengan harga, untuk menyesuaikan dengan permintaan pasar,” pungkas Lukas.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda