Masih Ada Ruang Bagi Pasar Properti Jakarta untuk Bertumbuh

Kota Jakarta dinilai memiliki potensi ekonomi yang besar. Hal ini menurut konsultan real estat, Savills Indonesia, dapat menjadi modal untuk pertumbuhan pasar properti domestik.

Savills Indonesia, Anton Sitorus, Pasar properti Jakarta
(Foto: Adhitya Putra - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Kendati kondisi pasar properti Jakarta tengah mengalami tren yang melambat. Akan tetapi, Ibukota memiliki potensi pasar yang masih bisa terus berkembang.

“Kami belum melihat pergerakan yang berarti dari pasar. Permintaannya masih dalam tren yang melambat dan masih tergolong rendah. Namun, sebenarnya Jakarta memiliki potensi yang besar,” tutur Anton Sitorus, Director of Research and Consultancy Savills Indonesia, Rabu (26/06/2019) lalu di Senayan, Jakarta.

Anton memaparkan, berdasarkan survei Savills Resilient Global Cities Index yang meniliti perekonomian kota-kota besar di dunia dengan tingkat PDB USD50 miliar, terjadi pergerakan geopolitik dunia, terutama pada kawasan Asia Pasifik.

Baca Juga: Sepuluh Kota dengan Harga Hunian Termahal di Dunia

Survei tersebut meniliti (Resilient) kota-kota yang tidak rentan terhadap perubahan ekonomi. Lebih lanjut dia mengatakan, bahwa kawasan Asia Pasifik dari waktu ke waktu semakin memiliki peranan yang besar secara global.

Tahun 2008 jumlah kota-kota di Asia Pasifik yang memiliki PDB di atas USD50 miliar hanya 29%. Sedangkan pada tahun 2018, jumlahnya meningkat menjadi 45%.

Dari data yang dimiliki oleh konsultan real estat tersebut, Jakarta berada di peringkat 20 atau lebih bagus daripada Thailand, Kuala Lumpur dan Manila.

Baca Juga: 5 Gedung di Jakarta yang Memiliki Arsitektur Unik dan Modern

“Mungkin banyak orang yang kurang menyadari bahwa Jakarta memiliki potensi ekonomi dan bisnis yang sangat besar. Dan ini menjadi modal bagi Ibu Kota untuk menarik para investor di bidang properti,” ucap Anton.

Selain populasi yang terbilang besar, menurutnya Jakarta memiliki kelebihan pada rata-rata nilai imbal hasil (Yield) gedung perkantoran di wilayah CBD, yakni sekitar 5%, yang tergolong cukup baik.

“Jakarta masih punya ruang untuk bertumbuh. Apabila dibandingkan dengan kota-kota besar di dunia, pertumbuhan pasar properti di sini tuh masih belum maksimal,” katanya.

Baca Juga: Kehadiran Co-Working Space Bantu Penyerapan Ruang Perkantoran CBD Jakarta

Anton mengatakan dibandingkan dengan Singapura, properti di Jakarta tergolong masih murah dan menarik secara investasi.

Dia memberi contoh, jika investor membeli apartemen mewah di Singapura hanya dapat 1 unit. Sedangkan di Jakarta, dengan harga yang sama mereka bisa mendapatkan 8 unit apartemen mewah dengan kualitas yang sama seperti di Singapura.

“Melihat situasi pasca Pemilu dan pertumbuhan ekonomi Indonesia, kami cukup yakin pasar properti akan mengalami rebound di tahun-tahun mendatang. Karena, sinyal-sinyal positifnya ada. Namun, saya pikir membutuhkan keterbukaan pikiran dan peran para stake holder dan pihak terkait lainnya,” pungkas Anton Sitorus.

Adhitya Putra Pratama
adhitya.putra@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda