Mau Bayar Tanda Jadi dan Uang Muka Rumah, Perhatikan Hal Ini!

Tanda jadi merupakan prasyarat yang diminta penjual atau pengembang, sedangkan uang muka diminta oleh pemberi pinjaman (bank).

Mau Bayar Tanda Jadi dan Uang Muka Rumah, Perhatikan Hal Ini!
Foto: Dok. RumahHokie.com

RumahHokie.com (Jakarta) – Salah satu hal yang paling berat dalam membeli rumah adalah pembayaran uang muka. Namun, hal yang sering tidak jelas bagi calon pembeli adalah kapan mereka harus melakukan pembayaran tersebut.

Kendati demikian, sebenarnya Anda tak perlu mengeluarkan seluruh uang muka (down payment/DP) saat tertarik untuk membeli rumah atau properti lain. Anda mungkin hanya perlu memasukkan tanda jadi, sementara sisa uang muka dapat dibayar belakangan saat transaksi.

Baca Juga: Tips Lengkap Buat Pengantin Baru yang Ingin Punya Rumah

Ada perbedaan besar antara uang tanda jadi dengan uang muka. Tanda jadi merupakan prasyarat yang diminta penjual atau pengembang, sedangkan uang muka diminta oleh pemberi pinjaman Anda untuk membeli properti tersebut—dalam hal ini pihak perbankan.

Perbedaan kedua jenis pembayaran ini adalah: uang tanda jadi mengindikasikan Anda adalah pembeli yang serius, sementara uang muka mengindikasikan Anda mampu membayar sisa cicilan selama masa tenor.

Tanda Jadi
Jumlah yang biasa disetorkan sebagai uang muka bervariasi, tergantung promosi dan gimmick dari pengembang. Namun biasanya berkisar 1% sampai 2% dari harga jual.

Dalam beberapa kasus, tanda jadi Rp5 juta sudah mencukupi, namun di pasar yang kompetitif—dengan unit-unit properti yang jadi rebutan—Anda harus membayar uang muka Anda lebih besar.

Baca Juga: WNA Pun Bisa Manfaatkan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera)

Semakin banyak Anda memberikan uang tanda jadi, biasanya semakin kuat pula tawaran Anda terlihat oleh pihak penjual. Memberikan uang tanda jadi bahkan dianggap sebagai salah satu cara mengamankan transaksi di pasar yang kompetitif.

Kendati demikian, jangan terlalu banyak menyetorkan uang tanda jadi sebelum transaksi. Pasalnya, ada beberapa pengembang yang menerapkan aturan uang jadi tidak bisa di-refund ketika terjadi masalah dengan kontrak.

Uang Muka
Di sisi lain, jumlah uang muka yang dibutuhkan untuk membeli rumah bervariasi berdasarkan pasar properti setempat atau promosi dan gimmick dari pengembang.

Bank Indonesia mengatur uang muka dengan regulasi loan to value (LTV). Jika LTV 80%, artinya uang muka yang harus dibayar sebesar 20%.

Baca Juga: Tips Bagi Mahasiswa yang Ingin Membeli Properti

Kendati demikian, biasanya pengembang mematok uang muka berkisar 10% sampai 30%, tergantung kondisi pasar dan siklus pasar properti.

Tentu angka tersebut tidak sedikit. Sehingga tak heran banyak konsumen yang harus menjual sebagian aset bahkan rumah untuk mendapatkan uang tunai guna membayar uang muka.

Salah satu pilihan untuk mengumpulkan dana yang diperlukan adalah berinvestasi di komponen investasi yang tak tergerus inflasi, seperti emas. Anda bisa juga menabung sejak jauh-jauh hari yang digunakan untuk uang muka.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda