Mau Beternak Properti di Australia, Simak Resep Berikut ini

Pembeli cukup membayar DP 10% yang ditempatkan di trust account bank Australia. Sisanya baru dibayar pada saat properti rampung.

Herman Suwito (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Kendati Pemerintah tengah menggalakkan investasi properti di Tanah Air lewat program tax amnesty, namun untuk beberapa kalangan, membeli properti di luar negeri masih menjadi pilihan.

Ada beberapa hal yang menjadi alasan, di antaranya untuk tempat tinggal kedua saat berlibur, hunian anak yang bersekolah, hingga sarana investasi.

Australia belakangan menjadi primadona, menyaingi negara-negara tujuan investasi properti “tradisional” seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura.

Baca Juga: Ini Kelebihan Properti Sydney Dibanding Singapura

Herman Suwito, Head of Major Project Crown Group Indonesia memaparkan, ada enam alasan mengapa properti di Australia menari untuk dikoleksi.

Pertama, Australia adalah negara yang kondusif secara ekonomi dan politik. Kedua, Australia adalah negara dengan budaya Eropa yang terdekat dengan Asia. Ketiga, keunikannya ini membuatnya menjadi tujuan turis mancanegara.

Keempat, di sisi pendidikan, Australia juga merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Hal ini membuat banyak orangtua—termasuk dari Indonesia—menyekolahkan anaknya di Australia.

Kelima, pemerintahan yang konsisten tengah mengembangkan infrastruktur dengan investasi miliaran Dolar. Keenam, cara pembayaran properti di Australia jauh lebih baik dibanding Indonesia.

“Pembeli cukup membayar uang muka 10%.  Dana trust account ini kemudian ditempatkan di bank Australia, bahkan developer sendiri tak bisa mengambilnya sampai properti yang dibangunnya rampung,” tutur Herman.

Tips “Beternak” Properti
Lebih lanjut dia menguraikan, untuk membeli properti, terutama apartemen, di Australia, konsumen mesti menaruh uang tanda minat—untuk produk-produk Crown Group, jumlahnya Rp25 juta—setelah itu konsumen diberi knowledge tentang produk yang akan dibeli. Konsumen yang berminat, kemudian membayar DP 10%, setelah itu boleh memilih unit.

“Sisa uang yang 90% dibayar setelah properti tersebut jadi. Bisa secara tunai, namun kami menyarankan agar konsumen mengunakan loan bank (kredit pemilikan apartemen atau KPA), untuk menghindari pajak yang besar,” kata Herman.

Baca Juga: Tips Sukses Investasi Properti dari Investor Andal!

Dia menjelaskan, untuk pembeli lokal bisa mengajukan loan hingga 90%, tapi untuk pembeli luar negeri tak bisa.

Sebelumnya, KPA bisa mencapai 60% – 70%. Artinya, setelah membayar DP, pembeli harus menambah 20% – 30% lagi sebelum memeroleh persetujuan KPA.

Sekarang ini loan hanya 50%, artinya pembeli harus membayar lagi tambahan uang muka 40%.

“Jadi, setelah apartemen rampung, konsumen menambah DP 40%, dan setelah loan bank disetujui (akad kredit), baru bisa dilakukan serah terima unit.

Uniknya lagi, imbuh Herman, tenor KPA di Australia bisa mencapai 30 tahun. Dari 30 tahun, 10 tahun pertama, debitur bisa hanya membayar bunga saja. Baru di tahun ke-11, dia mulai membayar bunga plus pokok.

“Regulasi ini membuat pemain properti bisa memiliki 10 properti atau lebih di Australia,” tukasnya.

Bagaimana caranya? Herman memberi penjelasan, konsumen bisa membayar buna saja sampai 7 – 8 tahun, kemudian lakukan refinancing dengan mengagunkan aset—yang harganya telah naik—tersebut untuk membayar uang muka apartemen baru.

“Jadi, apartemen bisa ‘beranak’ tanpa harus mengeluarkan uang lagi,” katanya.

Anto Erawan

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda