Mau Investasi Properti di Kawasan Serpong, Ini Rekomendasinya

Apa kelebihan Alam Sutera, Gading Serpong, dan BSD City? Bagaimana potensi rumah tapak, apartemen, dan ruko di kawasan tersebut? Simak ulasannya di sini.

BSD-City-sinar-mas-land-rumahhokie-by-anto-erawan-dok

RumahHokie.com (Serpong) – Kawasan Serpong dan sekitarnya memang sempat booming di periode 2009 – 2013 lalu. Namun, memasuki 2014 pasar properti di kawasan tersebut terlihat melambat.

“Kawasan Serpong dan sekitarnya sempat mengalami slowing down tapi sekarang mulai recovery,” jelas Yogi Gie Hok, Direktur Century 21 Emerald saat dijumpai RumahHokie.com. “Akan tetapi perlambatan tak hanya terjadi di Serpong, tetapi juga di daerah lain, seiring melemahnya ekonomi nasional.

Dia mengakui, pada 2009 – 2013 di Serpong banyak terjadi goreng harga, sehingga harga properti di atas harga pasar. Pada rentang waktu tersebut, harga properti bisa naik hingga 100%.

“Hal ini membuat pasar agak overheat di 2014 dan pergerakan harga dari 2015 ke 2016 kurang terlihat,” imbuhnya.

Perang Harga dan Munculnya Eagle Investor
Menurutnya, kenaikan harga properti masih terjadi di beberapa kawasan, terutama kawasan yang mature dengan permintaan stabil, seperti Pondok Hijau Golf (Gading Serpong), Sutra Narada, Magnolia, dan Telaga Biru (Alam Sutera). Itu pun, kenaikannya hanya sedikit.

“Namun, ada pula kawasan yang mengalami penurunan harga properti. Ciri-cirinya, rumah dibeli di atas 2013. Rumah-rumah baru tersebut baru diserahterimakan di 2015 dan 2016, serta kondisinya masih kosong, sementara tidak ada kekuatan demand di sana,” tutur Yogi.

Di kawasan ini juga terjadi perang harga, karena para investor yang sudah “kehabisan napas” ini ingin segera menjual propertinya. Bahkan ada juga yang menjual rugi maksimal 10% dari harga beli karena butuh uang.

“Pembeli properti-properti ini umumnya end user. Tetapi setelah tax amnesty, mulai muncul eagle investor yang melirik, padahal sebelum tax amnesty tak ada,” kata Yogi.

Eagle investor biasanya mencari insentif (diskon besar) dari developer. Untuk rumah second, mereka mencari rumah-rumah yang ditawarkan di  bawah harga pasar.

“Harga yang dinginkan umumnya Rp1 miliar – Rp4 miliar, tapi landed, bukan apartemen,” ujarnya.

Rental yield rumah berkisar 2,5%. Tidak terlalu bagus, karena harga rumah sempat naik gila-gilaan. Padahal sebelumnya yield sempat berada di kisaran 5%.

Yogi-Gie-Hok-Century-21-Emerald-rumahhokie-by-anto-erawan

Alam Sutera, BSD City, atau Gading Serpong?
lebih lanjut Yogi menguraikan, rumah paling mahal di kawasan Serpong ada di Alam Sutera, karena stok tanah paling sedikit. Sementara, lahan milik developer lain masih bisa dimekarkan.

“Jadi, kalau mau investasi tanah, sebaiknya di Alam Sutera, karena kelasnya menengah-atas. Kedua, tanah sudah terbatas (berkisar Rp12,5 juta per meter). Ketiga, ukuran tanahnya ideal, yakni 300 meter persegi hingga 400 meter persegi. Selain itu, lokasinya dekat dengan akses tol ke Jakarta Barat,” jelasnya.

BSD City, paparnya, masih memiliki banyak lahan dengan harga berkisar Rp10,5 juta per meter persegi. Tetapi luasan lahan besar-besar (400 m2 – 700 m2) sehingga tidak fast moving.

“Di masa depan, potensi paling besar ada di BSD City, karena fasilitas di sana lengkap dengan investasi triliunan rupiah. Tapi kapan waktunya (booming) tidak bisa diprediksi,” kata Yogi.

Di sisi lain, potensi Gading Serpong juga bagus, karena secara demografi lebih padat dan segmen menengahnya gemuk.

“Jadi, masing-masing investor bisa memilih properti sesuai tipe investasinya masing-masing,” ujar Yogi.

Ruko atau Apartemen?
Proyek ruko sempat over supply di kawasan Serpong. Tetapi karena dalam 2-3 tahun belakangan tak ada developer yang membangun ruko—hanya menghabiskan stok—maka stok ruko mulai terisi.

“Ruko bisa jadi investasi yang bagus, tetapi harus berada di kawasan yang mapan dengan crowd yang cukup ramai. Apalagi jika ruko dijual 10% – 20% lebih rendah dari harga pasar—karena banyak yang butuh uang—kami sangat menyarankan,” kata Yogi.

Harga ruko paling potensial untuk dijadikan investasi berkisar Rp2,5 miliar – Rp5 miliar. Harga yang lebih tinggi ada, namun lebih sulit disewakan.

Rental yield berkisar 2,5%, memang masih kurang bagus, namun cukup stabil,” ujarnya.

Sementara itu, apartemen terpantau masih oversupply. Beberapa developer pun pusing memasarkan apartemen mereka, bahkan beberapa harus menghentikan pembangunan.

“Untuk investor apartemen, sebaiknya membeli produk yang sudah terisi dan bagus yield-nya (4% – 5%). Apartemen yang dekat mal, seperti U Residence Karawaci atau Atria bisa jadi pilihan,” ungkap Yogi.

Bagi end-user yang uangnya pas-pasan, bisa juga memilih apartemen lain yang lebih murah. Pasalnya, saat ini banyak developer menawarkan insentif.

Anto Erawan

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda