Mau Sukses Berinvestasi, Pahami Empat Siklus Properti

Empat fase siklus properti berlaku umum dan dapat dijadikan rujukan bagi investor untuk membeli, menjual, atau menahan (buy, sell, or keep) properti.

kavling-perumahan-subsidi-sederhana-menengah-drone-rumahhokie-dok
Foto: Dok. RumahHokie.com

RumahHokie.com (Jakarta) – Setelah pada artikel sebelumnya dijelaskan bagaimana siklus pasar properti bisa terjadi, di artikel ini akan dibahas empat tahap siklus pasar properti beserta ciri-cirinya.

Siklus properti berlaku umum dan dapat dijadikan rujukan bagi investor untuk membeli, menjual, atau menahan (buy, sell, or keep) properti.

Baca: Hal Penting yang Perlu Diketahui Seputar Siklus Pasar Properti

Berikut ini empat tahap siklus properti yang mesti Anda ketahui:

Pasar Aktif (Active Market)
Pasar aktif biasanya ditandai dengan terjadinya peningkatan permintaan (demand). Sayangnya, persediaan (supply) properti tidak bisa langsung mengikuti demand, lantaran pembangunan properti memerlukan waktu berbulan-bulan, bahkan tahunan (untuk properti high rise).

Ketidakseimbangan supply-demand ini tentu saja akan membuat harga naik secara otomatis, seiring dengan naiknya jumlah transaksi di pasar.

Kondisi seperti ini terjadi pada saat suku bunga dan tingkat inflasi berada di titik paling rendah, sementara jumlah uang yang beredar di pasar banyak. Di saat seperti ini, penjual dan developer adalah raja, sehingga fase pasar aktif biasa juga disebut sebagai seller’s market.

Pasar Lembut (Soft Market)
Fase ini terjadi pada masa setelah ekonomi booming, yakni situasi ekonomi yang normal mulai mengalami perlambatan. Biasanya, pada masa seperti ini, tingkat inflasi mulai naik dan ikut mengungkit tingkat suku bunga.

Pada fase pasar lembut terjadi peningkatan permintaan, tetapi relatif diimbangi oleh peningkatan persediaan. Hal ini membuat kenaikan harga yang terjadi akan langsung mengakibatkan berkurangnya jumlah transaksi, lantaran calon pembeli memiliki lebih banyak pilihan. Fase ini biasa disebut pasar yang seimbang (market equilibrium).

Pasar Bebal (Dull Market)
Di fase ini permintaan mulai menurun, tetapi tidak disertai dengan penurunan persediaan. Hal dapat disebabkan properti yang dibangun pada saat pasar aktif baru rampung pengerjaannya.

Kondisi ini tentu membikin harga properti turun seiring dengan turunnya jumlah transaksi. Kondisi seperti ini berlangsung pada saat keadaan ekonomi menuju resesi, dimana pemerintah melakukan pengetatan moneter, sementara suku bunga terus dinaikkan guna mengekang inflasi.

Di masa seperti ini, tak sedikit orang menjual properti karena butuh uang. Di pasar primer, melihat penjualan yang makin menurun, biasanya pengembang menurunkan harga jual dengan memberikan banyak insentif dan diskon.

Di sisi lain, pembeli justru akan menikmati keuntungan, karena bisa membeli properti dengan harga lebih murah. Itu sebabnya, fase ini sering disebut sebagai buyer’s market.

Pasar Lemah (Weak Market)
Fase ini berlangsung setelah masa resesi ekonomi, dimana kondisi ekomoni normal menuju pada fase recovery (pemulihan).

Pada fase pasar lemah, terjadi penurunan permintaan (terutama disebabkan tingginya suku bunga KPR), tetapi relatif diimbangi oleh penurunan persediaan, karena pengembang banyak yang menghentikan pembangunan proyek.

Penjualan rumah dapat ditingkatkan bila harga diturunkan dan pembeli diberi berbagai kemudahan, terutama untuk konsumen menengah ke bawah.

Anto Erawan

 

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda