Mau Tahu Saat Tepat Beli Properti, Pantau Siklus Suku Bunga KPR

Tingkat suku bunga adalah indikator kondisi perekonomian. Ketika tingkat suku bunga rendah, investasi akan meningkat dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

membeli mencari rumah - kaca pembesar - cari rumah - pixabay - rumahhokie - dok
Foto: Pixabay.com

RumahHokie.com (Jakarta) – Jika pada artikel sebelumnya dibahas seputar siklus pasar properti, kali ini pembahasan beralih pada siklus tingkat suku bunga.

Tingkat suku bunga adalah indikator kondisi perekonomian secara umum. Ketika tingkat suku bunga rendah, investasi akan meningkat dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sebaliknya, saat tren suku bunga naik, investasi pun akan turun dan otomatis pertumbuhan ekonomi akan berhenti, bahkan turun.

Baca: Hal Penting yang Perlu Diketahui Seputar Siklus Pasar Properti

Siklus tingkat suku bunga ditandai dengan berbagai kebijaksanaan moneter yang terbagi dalam empat tahap, yaitu:

Maximum Ease
Pada kondisi ini, suku bunga berada di level bawah yang ditandai naiknya jumlah peredaran uang. Di sisi lain, pemerintah tengah melaksanakan kebijakan ekspansi moneter (monetary expansion), sementara perbankan melakukan strategi borrow long dan end short.

Di saat itu, BI Rate berada di kisaran 10%, sementara suku bunga KPR (kredit pemilikan rumah) di angka 12%.

Keadaan seperti ini merupakan kondisi dimana properti mengalami booming yang terlihat dari maraknya peluncuran produk. Di lain pihak, bunga KPR yang rendah memancing konsumen menyerbu produk-produk tersebut.

Di saat inilah terjadi kondisi “uang mencari barang” lantaran peredaran uang begitu cepat, sementara suplai properti tidak bisa tersedia dengan cepat.

Transition to Tightness
Kondisi saat tingkat suku bunga mulai meningkat, karena terjadinya pengetatan jumlah uang beredar di pasar uang (biasa disebut tight money policy/TMP). Pemerintah menarik uang dari pasar dengan menjual obligasi, sehingga jumlah uang yang beredar menurun dan mengakibatkan naiknya tingkat suku bunga.

Pada fase ini, BI Rate naik ke angka 10%, sementara suku bunga KPR berkisar 14%.

Dengan naiknya suku bunga, penjualan rumah bisa turun (berkisar 20% – 30%). Pasar hunian menengah ke bawah biasanya paling terkena dampaknya. Ini disebabkan konsumen di kelas ini sangat sensitif terhadap harga (price sensitive).

Sebaliknya, hunian menengah ke atas tidak terlalu banyak terpengaruh, karena umumnya mereka mampu membeli properti secara tunai (cash keras) atau tunai bertahap (installment).

Maximum Tightness (Puncak Pengetatan)
Maximum tightness adalah suatu keadaan dimana tingkat suku bunga tinggi. Saat itu, pemerintah sedang berusaha mengurangi jumlah uang yang beredar (monetary contraction), karena permintaan uang di masyarakat tinggi.

Di tahap ini, BI Rate berkisar 12%, sementara suku bunga KPR bisa menyentuh 17%.

Kendati demikian, kondisi ini merupakan peluang berinvestasi bagi mereka yang berkantong tebal. Di saat banyak orang butuh uang dan terpaksa menjual properti—terkadang di bawah harga pasar—investor besar akan senang membelinya.

Transition to Ease
Di fase ini, tingkat suku bunga kembali menurun dan pemerintah mulai mengambil kebijaksanaan ekspansi moneter sehingga terjadi penambahan jumlah uang yang beredar.

Di fase ini, BI Rate kembali turun berkisar 8%, sementara suku bunga KPR berada di kisaran 10%.

Pada saat seperti ini, terjadilah persiapan ekspansi properti. Fase ini merupakan saat yang tepat untuk membeli properti.

Anto Erawan

Sumber: buku “Cara Kaya Melalui Properti”

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda