Mengupas Model Bisnis Kawasan TOD di Jakarta dan Sekitarnya

Proyek TOD harus dikembangkan menjadi kawasan yang sustainable, sehingga tidak menjadi problem degeneratif lingkungan dan menciptakan kekumuhan baru.

Transit-oriented-development-TOD-RumahHokie.com
Transit Oriented Development (Foto: Dok. RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD) yang menciptakan compact city dinilai sudah sangat dibutuhkan untuk regenerasi kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya: Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Puncak-Cianjur (Jabodetabekpunjur).

Pengembangan TOD memerlukan aspek pengembangan bisnis, kerangka hukum dan regulasi, zoning regulation, kelembagaan, teknologi untuk efisiensi dan kelaikan konstruksi, serta aset komunitas. Demikian penuturan Zulfi Syarif Koto, Ketua Umum The Housing and Urban Development (HUD) Institute.

Baca Juga: Salah Kaprah Pengembangan Kawasan Berbasis TOD di Jakarta

Kendati demikian, imbuhnya, TOD seyogianya tidak menciptakan bentuk baru pemarginalan warga masyarakat yang tertinggal (no one be left) dari derap keberlanjutan pembangunan perkotaan dan komunitas (sustainabiliy cities and communities).

“Pasalnya, kepentingan publik paling diperhatikan dalam regenerasi kota dan karenanya peran pemerintah dan pemerintah daerah sebagai ‘leader’ yang profer dalam penyelenggaraan kawasan TOD dengan segala lingkupnya,” urai Zulfi dalam siaran pers yang diterima RumahHokie.com.

Baca Juga: Sinergi BUMN Kembali Bangun Tiga Proyek TOD di Jakarta

Dia menerangkan, aspek model bisnis dalam penyelenggaraan kawasan TOD tentu mencakup kebijakan dan skema pembiayaan. Apalagi dalam hal pengembangan TOD yang cenderung masif, maka pembiayaan terkait TOD memerlukan inovasi model bisnis, bentuk kerjasama (partnership) antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.

“Pengembangan kawasan TOD yang menyedot pembiayaan besar bukan saja menghendaki inovasi kebijakan yang memastikan kehadiran pemerintah dalam pembiayaan, kerjasama pemerintah dengan badan usaha (KPBU), bentuk-bentuk dukungan pemerintah dan penjaminan pemerintah, yang membuka partnership dengan sektor privat/badan usaha,” urai Zulfi.

Baca Juga: Di Tangan Pengembang BUMN, Proyek TOD Dinilai Kurang Greget

Model binis bukan hanya pembiayaan dan kerjasama antar pihak namun mencakup perumusan bentuk pengelolaan, pengusahaan, pengoperasian dan perawatan, pengendalian, perlindungan konsumen dan mekanisme komplain bagi warga masyarakat.

“Oleh karena itu, HUD Institute mengelaborasi, mendesain, dan mengadvokasi inovasi model bisnis pengembangan kawasan TOD yang lebih detail dan utuh. Sebab, hal itu meniscayakan pembentukan kelembagaan pengembangan kawasan TOD masuk dalam lingkup urusan konkuren pemerintah/pemerintah daerah,” lanjut Zulfi.

Jangan Jadi Problem Degeneratif Lingkungan
Sementara itu, Muhammad Joni, Sekretaris Umum HUD Institute mengatakan, pengembangan kawasan TOD dengan membuat inovasi model bisnis yang tepat akan mengoptimalkan nilai guna tanah dengan land value capture, termasuk nilai guna ruang bawah tanah dan ruang atas tanah yang masih ada kekosongan hukum.

“Dengan demikian, perlu pengaturan yang pasti, namun hal itu bukan mulus tanpa berbagai tantangan terutama di sisi hukum dan regulasi,” tuturnya.

Baca Juga: Kementerian PUPR: Proyek TOD Tidak Dimonopoli Pengembang BUMN

Di sisi lain, terkait dengan pengoperasian kawasan TOD, berkembang pemikiran yang mendorong pihak swasta yang mengembangkan TOD membuat kawasan tersebut menjadi keberlanjutan (sustainable), sehingga tidak menjadi problem degeneratif lingkungan, bahkan menciptakan kekumuhan baru.

Lebih lanjut, Joni menerangkan, pengembangan model bisnis kawasan TOD tidak sepatutnya lepas dari paradigma “City for All” dengan memerhatikan kepentingan publik (public housing, affordable housing, public space, public utilities, dan public interest lainnya).

Baca Juga: Inilah 5 Prinsip Pengembangan Transit Oriented Development (TOD)

Tujuannya, agar kawasan TOD tetap dalam arah dan koridor pembangunan perkotaan yang memberdayakan, membahagiakan, dan menyejahterakan warganya. Meski hal itu menjadi tantangan dan misi tersendiri dalam pencapaian keberlanjutan pembangunan perkotaan dengan komunitas.

“Karenanya social engineering dan pemberdayaan komunitas bukan soal  yang tertinggal dalam pengembangan kawasan TOD, termasuk inovasi model bisnis TOD,” pungkas Joni.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda