Pasar Kurang Kondusif, Laba Bersih Intiland Capai Rp203,7 Miliar

Di tengah tantangan yang terjadi di industri properti, Intiland membukukan pendapatan usaha sebesar Rp2,6 triliun, atau naik sebesar 16% dibandingkan tahun sebelumnya.

rupst - 2019 - intiland - anto erawan - rumahhokie - dok
Foto: Anto Erawan (RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk tahun buku 2018, Pengembang properti PT Intiland Development, Tbk (DILD) mengumumkan akan mengalokasikan laba bersih tahun 2018 senilai Rp203,7 miliar di beberapa tempat.

Dari perolehan laba bersih tersebut, sebesar Rp20,7 miliar dialokasikan untuk dividen atau senilai Rp2 per saham. Nilai dividen yang dibagikan kepada para pemegang saham tersebut setara 10,2% dari perolehan laba bersih Perseroan tahun 2018.

Baca Juga: Inilah Proyek-proyek Terlaris Intiland di Awal Tahun 2019

“Sisanya sebesar Rp180,9 miliar ditetapkan sebagai laba ditahan dan sebesar Rp2 miliar sebagai cadangan wajib,” ungkap Archied Noto Pradono Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland kepada awak media, Rabu (15/5/2019).

Perseroan juga mendapatkan persetujuan RUPST atas penyesuaian pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan perihal Maksud dan Tujuan serta Kegiatan Usaha untuk disesuaikan dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia.

Perubahan ini sehubungan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik dan Pengumuman Bersama Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

Pendapatan Usaha Capai Rp2,6 Triliun
Berkaitan dengan hasil pencapaian 2018, Archied mengungkapkan bahwa Perseroan cukup berhasil mempertahankan kinerja usaha di tengah kondisi pasar properti yang belum kondusif. Perseroan menilai tingkat permintaan pasar terhadap produk properti relatif tidak mengalami pertumbuhan secara signifikan.

“Kondisi sektor properti masih cukup berat dan belum kembali kondusif. Tapi kami percaya peluang tetap ada dengan fokus pada segmen-segmen pengembangan yang memberi ruang untuk menciptakan pertumbuhan usaha,” kata Archied.

Baca Juga: Proyek Mixed-Use dan High Rise: Sumber Pendapatan Terbesar Intiland

Di tengah tantangan yang terjadi di industri properti, Perseroan pada tahun lalu membukukan pendapatan usaha sebesar Rp2,6 triliun, atau naik sebesar 16% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp2,2 triliun. Laba usaha dan laba bersih tercatat mencapai Rp327 miliar dan Rp203 miliar atau masing-masing mengalami penurunan sebesar 5,2% dan 31,6%.

“Penurunan kinerja profitabilitas terutama disebabkan oleh menurunnya margin laba kotor dan tingginya beban bunga,” ungkap Archied.

Berdasarkan hasil laporan keuangan kuartal I yang berakhir 31 Maret 2018, Perseroan berhasil membukukan pendapatan usaha Rp887,6 miliar, atau naik sebesar 25% dibandingkan kuartal I 2018 yang mencapai Rp709,2 miliar. Laba usaha dan laba bersih Perseroan tercatat mencapai Rp156 miliar dan Rp48 miliar.

Perlu Terobosan yang Efektif
Perseroan melihat tantangan yang dihadapi para pelaku di industri properti tahun ini masih cukup berat. Dibutuhkan terobosan-terobosan yang efektif untuk mempertahankan kinerja usaha, baik dari aspek strategi ekspansi, manajemen konstruksi, pemasaran dan penjualan, hingga aspek pengelolaan biaya.

Menghadapi kondisi tersebut, salah satu fokus Perseroan adalah terus berupaya mencari terobosan untuk menjaga kinerja penjualan. Perseroan telah menempuh dan menyiapkan sejumlah strategi kunci sebagai upaya untuk mengantisipasi tantangan dan arah perubahan pasar properti.

Baca Juga: Kolaborasi Intiland-Menara Prambanan, Poins Square Masuki Era Baru

Salah satu upaya yang ditempuh Perseroan adalah fokus pada pengembangan proyek-proyek yang sedang berjalan. Perseroan berusaha meningkatkan penjualan inventori atau stok unit produk yang terdapat di semua proyek pengembangan.

“Penjualan di tiga bulan pertama tahun ini masih cukup berat dan kami belum merasakan adanya tren perubahan minat beli dari konsumen dan investor. Tapi kita akan terus berusaha untuk mendorong penjualan lewat berbagai terobosan,” ungkap Archied lebih lanjut.

Kondisi ini juga tercermin pada hasil kinerja penjualan perseroan yang diraih di sepanjang kuartal I 2019. Perseroan tercatat membukukan pendapatan penjualan (marketing sales) Rp254,2 miliar, atau sekitar 10,2 %dari target tahun ini sebesar Rp2,5 triliun.

Andalkan Proyek Hunian
Untuk mengejar target penjualan, ungkap Archied, Perseroan akan memprioritaskan pada penjualan proyek-proyek hunian, baik yang berasal dari pengembangan kawasan perumahan maupun apartemen. Perseroan saat ini memiliki sejumlah pengembangan proyek hunian yang diproyeksikan dapat memberikan kontribusi penjualan cukup signifikan di tahun ini.

Pada segmen pengembangan kawasan perumahan, perseroan mengandalkan penjualan unit rumah dari proyek Serenia Hills dan Talaga Bestari di Jakarta serta Graha Natura di Surabaya.

Baca Juga: Lewat #LivingConnected, Intiland Kampanyekan Penggunaan Transportasi Publik

Sementara untuk pengembangan apartemen, perseroan masih mengandalkan penjualan dari lima proyek apartemen yakni 1Park Avenue, Fifty Seven Promenade, dan Regatta di Jakarta serta Graha Golf dan The Rosebay di Surabaya.

“Penjualan dari proyek-proyek residensial, khususnya pengembangan kawasan perumahan masih relatif stabil dan bisa diandalkan. Kalau untuk apartemen, kami akan fokus pada penjualan unit-unit stok,” tutur Archied.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda