Pasar Perkantoran Ibukota Diprediksi Tertekan Hingga Akhir 2019

Cushman & Wakefield mencatat, selama kuartal pertama 2019, tingkat hunian perkantoran rata-rata terus menurun menjadi 74,13% dari 76,67% pada periode yang sama tahun 2018.

kawasan-perkantoran-thamrin-jakarta-rumahhokie-xiaomi-by-anto-erawan
Kawasan Perkantoran CBD Jakarta (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Tahun ini, pertumbuhan ekonomi nasional diprediksi Bank Indonesia berada di angka 5,0% hingga 5,4%. Selama kuartal pertama, pasar saham mengalami peningkatan signifikan sebesar 4,4%, dengan penutupan indeks gabungan di 6.469 pada 29 Maret 2019.

Di sisi lain, nilai tukar Rupiah mengalami peningkatan dibanding kuartal terakhir 2018 menjadi Rp14.196 per Dolar AS. Sementara itu, tingkat inflasi tercatat sebesar 2,57%, atau lebih rendah dibanding 2018 yang mencapai 3,18%.

Baca Juga: Pasar Perkantoran Sewa Jakarta Masih dalam Kondisi Stagnan

Konsultan properti Cushman & Wakefield mencatat, selama kuartal pertama 2019, tingkat hunian perkantoran rata-rata terus menurun menjadi 74,13% dari 76,67% pada periode yang sama tahun 2018. Hal ini terutama disebabkan oleh penyelesaian pasokan tambahan yang besar pada kuartal pertama 2019.

“Sementara, tingkat penyerapan bersih sebesar 53.000 meter persegi. Angka ini hampir sama dengan tingkat penyerapan di kuartal pertama 2018,” kata Arief Rahardjo, Director Strategic Consulting Cushman & Wakefield Indonesia dalam laporan riset yang diterima RumahHokie.com.

Baca Juga: Perusahaan Teknologi dan Co Working Serap 33% Perkantoran di Jakarta

Cushman & Wakefield juga melihat terjadi lebih banyak tekanan pada tarif sewa kotor rata-rata untuk semua kelas gedung. Hal ini menyebabkan tarif sewa dalam Dolar AS turun 7,3% dibandingkan periode yang sama di 2018 menjadi USD20,24 per meter persegi per bulan.

Arief Rahardjo menuturkan, bisnis penyewaan ruang perkantoran diperkirakan akan tetap berada di bawah tekanan hingga akhir 2019, dengan jumlah ruang kosong diprediksi  akan semakin meningkat lantaran pertumbuhan pasokan saat ini telah melampaui permintaan.

Tingkat Okupansi Kelas C Tertinggi
Cushman & Wakefield mengungkapkan, total suplai ruang perkantoran di CBD Jakarta hingga Kuartal I-2019 mencapai 6.669.089 m2. Suplai dari Gedung kelas A sebanyak 4.499.164, sementara Kelas B dan C masing-masing sebesar 1.174.775 m2 dan 995.150 m2.

Sebanyak 739.000 m2 ruang perkantoran masih dalam perencanaan dan pembangunan yang disumbang oleh perkantoran Kelas A (699.000 m2) dan Kelas B (40.000 m2).

Baca Juga: Kekosongan Gedung Perkantoran Non CBD di Jakarta Utara Sentuh 38%

Secara rata-rata, tingkat vacancy (ruang kosong) perkantoran di CBD Jakarta mencapai 25,87%. Vacancy rate Gedung Kelas A tertinggi, yakni 30,26%, sementara Kelas B mencapai 19,76% dan Kelas C hanya 13,91%.

Di samping itu, tarif sewa ruang kantor per meter persegi per bulan dalam Rupiah mencapai Rp351.700 (Kelas A), Rp253.000 (Kelas B), dan Rp227.400 (Kelas C). Sedangkan, tarif sewa dalam Dolar AS berada di angka USD24,78 (Kelas A) dan USD11,82 (Kelas B), dan USD16,02 (Kelas C).

Baca Juga: Pasar Saham Menurun, Sewa Gedung Perkantoran CBD di Asia Lesu

Di kuartal pertama 2019, beberapa transaksi sewa ruang kantor besar, di antaranya Tokopedia Tower di Jalan Dr. Satrio (4.500 m2), Menara Global  Jalan Gatot Subroto (3.000 m2), dan Noble House di Kawasan Kuningan (3.700 m2).

Ke depan, ada sederet proyek perkantoran yang ditargetkan rampung dalam kurun satu tahun ke depan, yaitu Pakuwon Tower seluas 83.000 m2 yang akan selesai Kuartal I-2019; World Capital Tower seluas 75.000 m2 dan Sudirman 7.8 seluas 50.000 m2 (Kuartal II-2019); Thamrin Nine Fase 2 Tower 1 seluas 86.000 m2 (Kuartal III-2019); serta Chitaland Tower seluas 100.000 m2, Gedung Indonesia 1 (North & South) seluas 132.500 m2, dan Rajawali Place seluas 40.000 m2 (Kuartal I-2020).

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda