Pasar Perkantoran Jakarta: Pasokan Melimpah, Okupansi Rendah

Hingga akhir 2018 diperkirakan tingkat okupansi perkantoran di Jakarta akan turun. Penyebabnya adalah suplai yang sangat besar, yakni 783.906 meter persegi

kawasan-perkantoran-thamrin-jakarta-rumahhokie-xiaomi-by-anto-erawan
Kawasan Perkantoran CBD Jakarta (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Sektor properti perkantoran di Jakarta terindikasi belum mengalami perubahan signifikan dibanding kuartal-kuartal sebelumnya.

Tren yang terjadi memperlihatkan tingkat hunian (okupansi) terus mengalami penurunan. Demikian penjelasan Ferry Salanto, Senior Associate Director Colliers International Indonesia, saat pemaparan Property Market Update Kuartal III-2018, Rabu (3/10/2018).

Baca Juga: Kawasan CBD Jakarta Masih Dianggap Potensial untuk Bisnis Perkantoran

Ferry menuturkan, hingga akhir 2018 diperkirakan tingkat okupansi perkantoran di Jakarta akan turun. Penyebabnya adalah suplai yang sangat besar, yakni 783.906 meter persegi (611.337 m2 di CBD dan 172.569 m2 di luar CBD).

“Pasokan ruang kantor di 2018 merupakan yang terbesar di Jakarta sepanjang sejarah. Pasokan ini tidak terserap seluruhnya, hanya sekitar 300.000-an meter persegi, sehingga pasar menjadi tidak seimbang,” kata Ferry.

Baca Juga: Sektor e-Commerce Dongkrak Permintaan Perkantoran di Jakarta

Di kawasan CBD (central business district) Jakarta, jelasnya, hingga akhir 2018 tingkat okupansi rata-rata diperkirakan turun menjadi 80%, bandingkan dengan tahun 2017 yang mencapai rata-rata 82%.

“Sentimen negatif menjadi kendala non teknis penyerapan ruang kantor di Jakarta, imbuhnya, seperti masalah politik dan ekonomi Tanah Air yang mulai menghangat (jelang Pemilu),” kata Ferry.

Tingkat hunian perkantoran pada akhir 2018 diperkirakan menjadi yang terendah dalam sepanjang tahun di CBD Jakarta.

Baca Juga: Pertumbuhan Harga Sewa Gedung Perkantoran Non CBD Masih Melemah

Colliers International Indonesia mencatat, di 2019 mendatang pasokan ruang perkantoran di CBD akan mengalami penurunan, yakni hanya menyentuh 216.088 m2, sehingga diperkirakan tingkat okupansi akan merangkak naik.

Di periode 2018 – 2021, jumlah pasokan ruang perkantoran di CBD Jakarta diperkirakan akan tumbuh sekitar 4% per tahun, dengan pasokan baru sebanyak 141.000 m2 di 2020 dan 411.500 m2 di 2021 mendatang.

Rekomendasi untuk Pemilik Properti
Di luar CBD (Non CBD) Jakarta, total tambahan pasokan kantor di kurun 2018 – 2019 diperkirakan mencapai 496.729 m2. Pasokan baru terpantau terus menurun di tahun-tahun berikutnya, yakni 123.999 m2 di 2020 dan 41.000 di 2021.

Sementara itu, Ferry menjelaskan, tingkat okupansi tahun ini diperkirakan sedikit turun dari 84% di 2017 menjadi sekitar 83,5%.

Baca Juga: Seperempat Ruang Perkantoran Asia Tenggara Akan Dikuasai Perusahaan Teknologi

Colliers mencatat, kombinasi besarnya ruang kantor yang belum terserap dan tambahan gedung kantor baru, akan membuat kinerja pasar perkantoran di Jakarta semakin tertekan, terutama kepada tarif sewa dan tingkat hunian.

Di sisi lain, tingkat hunian yang terus mengalami penurunan pun ikut menekan rata-rata tarif sewa di 2018.

“Untuk itu, pemilik properti diharapkan dapat lebih fleksibel dan menawarkan beragam insentif kepada (calon) penyewa,” katanya.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

 

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda