Pasar Properti Jakarta Mulai Aktif, tapi Belum Signifikan

Kelesuan makroekonomi yang berangsur membaik mampu membawa sentimen positif terhadap bisnis properti. Pengembang pun menawarkan strategi baru,

proyek - thamrin city - apartemen - mixed use - rumahhokie - anto erawan - dok
Foto: Anto Erawan

RumahHokie.com (Jakarta) – Aktivitas bisnis properti secara umum terlihat mengalami pertumbuhan secara bertahap sejak awal 2016. Kendati penurunan harga dan tingkat hunian masih terjadi di pasar perkantoran, tingkat penyerapan dan permintaan mulai terindikasi meningkat meski belum signifikan.

Demikian hasil riset “Jakarta Property Market Update Kuartal III-2016” yang dirilis konsultan properti asal Chicago, Amerika Serikat: JLL.

Angela Wibawa, Head of Markets JLL Indonesia menerangkan, pada kuartal ketiga, pasar perkantoran Jakarta menunjukkan sejumlah pergerakan positif, walaupun belum bisa menunjukkan bahwa terjadi peningkatan di pasar perkantoran.

“Kelanjutan dari penurunan harga dan tingkat hunian kembali terjadi di kuartal ini yang didorong oleh para tenant yang masih melakukan efisiensi, terutama mereka yang berhubungan dengan sektor minyak dan gas bumi,” kata Angela.

Sementara itu, imbuhnya, sektor ecommerce, IT, dan professional services masih melanjutkan tren positif dari kuartal sebelumnya. Hal ini terlihat dari masih berlangsungnya aktivitas ekspansi dan relokasi ke gedung yang lebih baik.

“Tingkat serapan pada kuartal ketiga ini mencapai 10.000 meter persegi, dikarenakan sejumlah ekspansi dan penambahan pasokan baru. Harga sewa masih menunjukkan harga kembali terkoreksi sekitar 2,5% pada perkantoran kelas A dan premium,” paparnya.

Gerai Kuliner Makin Diminati
James Taylor, Head of Research JLL Indonesia mengungkapkan, aktivitas pasar ritel cenderung stabil, mengingat tidak terlalu banyak jumlah pasokan dan tingkat hunian yang masih sangat baik. Di sisi lain, penjualan di pasar kondominium masih menunjukkan tren yang cenderung stabil.

“Hal ini terindikasikan dengan pertumbuhan harga yang relatif stagnan,” jelasnya.

James menambahkan, peningkatan jumlah permintaan di pasar ritel tiga bulan ke belakang didukung oleh sejumlah pasokan baru. Tingkat serapan di kuartal III didukung oleh tenant yang melakukan ekspansi dan beberapa nama baru yang masuk ke pasar ritel Jakarta.

“Sektor kuliner (F&B) masih menjadi daya tarik bagi landlord karena dianggap mampu menarik konsumen untuk datang,” ujarnya.

Di sub sektor kondominium, aktivitasnya penjualannya terpantau cukup stabil selama enam bulan ke belakang.

Pasar masih terlihat stagnan, baik dari segi harga maupun penjualan, karena pasar belum merespon secara positif, meski ada ekspektasi tinggi dari program tax amnesty.

Investor Asing Masih Melirik
Di kuartal III lalu, pengembang dan konsumen terlihat lebih aktif dibandingkan kuartal sebelumnya, kendati belum terjadi peningkatan signifikan.

Kelesuan makroekonomi yang berangsur membaik mampu membawa sentimen positif terhadap bisnis properti secara keseluruhan.

“Oleh sebab itu, para pelaku bisnis properti selalu muncul dengan strategi baru, mengingat persaingan di berbagai sektor akan semakin kompetitif,” tutur Vivin Harsanto, Head of Advisory JLL Indonesia.

Di lain pihak, investor asing yang terlihat cukup aktif, mengindikasikan bahwa pasar properti Indonesia memiliki daya tarik tersendiri.

“Investor asing yang berasal dari Hongkong, Singapura, China, Jepang, dan Korea secara konsisten masih menaruh minat yang cukup tinggi terhadap properti di Indonesia,” kata Todd Lauchlan, Country Head JLL Indonesia.

Sektor ritel di kota sekunder dan tersier di seluruh Indonesia; perkantoran untuk daerah CBD; dan pasar kondominium untuk daerah Jakarta masih menjadi target dari beberapa investor tersebut.

“Kami yakin bahwa dalam beberapa bulan ke depan, sejumlah aktivitas yang terjadi akan menstimulasi bisnis properti ke arah yang lebih baik,” pungkasnya.

Anto Erawan

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda