Pasok Melimpah, Pasar Perkantoran Sewa Jakarta Masih Tertekan

Setengah dari total permintaan ruang perkantoran CBD tingkat A di Jakarta diserap oleh co-working space dan kantor berbasis teknologi.

James Taylor, Head of Research JLL Indonesia, saat memaparkan Jakarta Property Market Update 4Q19, Rabu (29/01/2020) di Jakarta. (Foto: Adhitya Putra - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Konsultan real estat global, JLL Indonesia mencatat kondisi pasar perkantoran sewa di Jakarta, terutama kawasan central business district (CBD) masih relatif tertekan.

Meski total penyerapan ruang sewa perkantoran kawasan CBD hingga kuartal IV-2019, mencapai 200.000 meter persegi, namun masih belum mampu mendongkrak tingkat okupansi gedung dan harga sewa perkantoran CBD Jakarta.

Menanggapi kondisi ini, James Taylor, Head of Research JLL Indonesia, yang ditemui Rabu (29/01/2020) di gedung BEI Jakarta, mengatakan bahwa tertekannya tingkat hunian perkantoran CBD diakibatkan tingginya volume pasok yang terjadi selama beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: Prediksi 5 Tren Properti Tahun 2020 yang Wajib Diperhatikan Investor

Berdasarkan data yang dirilis JLL Indonesia, James memaparkan tingkat penyerapan gedung perkantoran level A di kawasan CBD pada kuartal IV-2019 ini sebesar 26.000 meter persegi

“Setengah dari total permintaan ruang perkantoran CBD tingkat A diserap oleh co-working space dan kantor berbasis teknologi,” ujarnya.

Lebih lanjut, James menerangkan sepanjang tahun 2019 terdapat 360.000 meter persegi pasok ruang baru perkantoran CBD grade A.

Baca Juga: Co Working Space Aktif Menguasai Penyerapan Perkantoran di Jakarta

Sedangkan di tahun ini, akan ada tambahan suplai ruang baru sekitar 520.000 meter persegi.

Hal ini menurut James Taylor, tentu akan berdampak pula pada harga sewa gedung perkantoran kelas A yang tertekan di sepanjang tahun ini.

Sedangkan untuk perkantoran non CBD, tingkat penyerapan hingga kuartal IV-2019 hanya sebesar kurang lebih 9.000 meter persegi. Hal ini dikarenakan tidak adanya gedung perkantoran baru di wilayah non CBD yang selesai dibangun.

Sementara itu ditemui dalam kesempatan yang sama, Vivin Harsanto, Head of Advisory JLL Indonesia berpendapat, meski tertekan tingkat penyerapan di gedung perkantoran CBD maupun non CBD, sebenarnya relatif cukup baik.

Baca Juga: Investasi Real Estat Asia Pasifik Tahun 2020 Akan Ungguli Wilayah Lain

“Ada sedikit peningkatan jika dibandingkan tahun lalu. Hanya karena pasok yang melimpah, membuat tingkat okupansi dan harga sewa sedikit tertekan,” ucap Vivin.

Dia menambahkan, harga sewa perkantoran Jakarta di tahun lalu terjadi penurunan sebesar 4% dan belum banyak perubahan pada tahun 2020 ini.

“Kami optimistis dan mengharapkan okupansi gedung perkantoran di wilayah CBD tahun ini naik menjadi 78%, dimana di tahun sebelumnya masih berada di level 76%,” pungkas Vivin.

Adhitya Putra Pratama
adhitya.putra@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda