Pasokan Melimpah, Pasar Apartemen Jakarta Belum Bergairah

Pasokan apartemen baru akan membanjiri Jakarta dalam tiga tahun ke depan, dengan total 59.968 unit.

rumah-susun-apartemen-rumahhokie-by-anto-erawan-xiaomi-dok
Proyek apartemen di Jakarta (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Konsultan properti, Colliers International Indonesia memerkirakan pasokan apartemen baru akan membanjiri Jakarta dalam tiga tahun ke depan, dengan total 59.968 unit.

Di 2018 diproyeksikan sebanyak 25.410 unit baru selesai dibangun, disusul 2019 (20.234 unit), 2020 (14.324 unit), dan 2021 (2.031 unit).

Survei Jakarta Property Market di kuartal I-2018 menyebutkan, suplai apartemen di tahun ini juga naik lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga: Sektor e-Commerce Dongkrak Permintaan Perkantoran di Jakarta

“Hal ini disebabkan beberapa alasan. Di antaranya, progres konstruksi yang lambat, menundaan ground breaking proyek sebagai akibat dari slow sales market, serta masalah perizinan proyek yang belum selesai,” jelas  Ferry Salanto, Senior Associate Director Colliers International Indonesia, Rabu (4/4/2018).

Kendati demikian, suplai apartemen baru sangat sedikit. Colliers mencatat hanya tiga proyek apartemen yang diluncurkan di kuartal pertama 2018 dengan total hanya 715 unit.

Pengaruh Pertumbuhan GDP
Di sisi lain, imbuhnya, permintaan apartemen diperkirakan tidak akan mengalami perubahan signifikan, akibat pasokan yang banyak pada tahun ini.

“Kami memprediksi rata-rata take-up rate akan berada di level 85% – 86% di akhir 2018 nanti,” kata Ferry.

Dia berpendapat bahwa industri properti butuh terobosan stimulus atau kebijakan yang implementatif agar bisa mendorong potential buyer untuk berinvestasi properti, terutama dari kelas menengah-atas dan kelas atas.

Baca Juga: Proyek-proyek Apartemen Baru di Jakarta

Sementara itu, harga apartemen diperkirakan akan naik sedikit sebesar 0,4% secara kuartalan dan sekitar 5% dibanding tahun sebelumnya.

Menurut Ferry, hal ini bisa disebabkan oleh proyek-proyek baru yang lebih rendah harganya dibanding harga rata-rata di pasar. Kedua, terjadi persaingan ketat di pasar, yang membuat developer menahan harga untuk menarik potential buyer.

“Take-up rate dan harga apartemen ini terkait dengan pergerakan GDP (gross domestic product). Tren GDP Indonesia menurun sejak 2013. Ini berarti daya beli juga menurun dan menurunkan minat pembeli apartemen, khususnya para investor,” terangnya.

Lantaran kelas menengah dianggap sebagai pilar pasar properti Tanah Air, jelas Ferry, para pengembang pun “dipaksa” untuk mengalihkan target mereka ke ceruk pasar ini, yakni dengan membangun apartemen seharga Rp500 juta – Rp1,5 miliar.

Banyak pengembang besar yang gagal mencapai target penjualan apartemen di 2017 (sumber: Colliers)

Aktivitas Pengembang
Beberapa pengembang besar pun terlihat gagal mencapai target penjualan apartemen strata-title selama 2017 silam. Menyusul kegagalan tersebut sebagian dari mereka pun mulai merevisi target di 2018 ini menjadi lebih realistis. (lihat gambar)

Baca Juga: Intiland Targetkan Rp2,6 Triliun dari Fifty Seven Promenade

“Salah satu pengembang yang berhasil melampaui target 2017 adalah Intiland (PT Intiland Development, Tbk). Dari target Rp2,3 triliun di 2017, Intiland berhasil membukukan penjualan Rp2,93 triliun berkat kesuksesan proyek Fifty Seven Promenade. Tak heran di tahun ini Intiland memasang target lebih tinggi, yakni Rp3,3 triliun,” urai Ferry.

Gempuran Pengembang China
Di lain pihak, pengembang-pengembang asing—terutama pengembang asal China—terpantau makin gencar memasarkan produk-produk apartemen di kawasan Jakarta dan sekitarnya.

“Pengembang China memang terlihat ekspansif dengan pengembangan skala besar. Misalnya, China Harbour yang membangun Daan Mogot City (Damoci).

Baca Juga: Apa Perbedaan Strategi Developer China dan Jepang di Indonesia?

Di sisi pembangunan, proyek ini bisa dilakukan dengan cepat dan efisien, sehingga harganya menjadi bersaing. Meski demikian, Ferry mengakui, soal kualitas produk properti besutan pengembang China belum teruji—berbeda dengan pengembang asal Jepang yang menomorsatukan kualitas, meski harga jual menjadi taruhannya.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda