Pengamat: Harga Lahan Kawasan Industri Rp200 Ribu Tidak Masuk Akal

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia mengatakan harga tanah di kawasan industri (KI) tidak boleh lebih dari Rp200 ribu per meter persegi.

kawasan industri - ngoro industrial park - intiland - rumahhokie - anto erawan - dok
Ngoro Industrial Park, Mojokerto (Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Harga lahan kawasan industri yang diwacanakan bakal dipatok Pemerintah sebesar Rp200.000 per meter persegi, dinilai tidak masuk akal. Bahkan, untuk membebaskan lahannya pun lebih dari angka itu.

Hal ini disampaikan Ferry Salanto, Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia dalam acara Colliers Press Luncheon Kuartal IV, Rabu (8/1/2019).

Baca Juga: Kendal Industrial Park Buka Peluang Bagi Investor Asing di Indonesia

“Sepanjang yang saya pantau, harga lahan (kawasan industri) Rp200 ribu per meter persegi enggak make sense. Apalagi untuk kawasan industri tidak bisa sekadar mencari lahan murah di sembarang tempat. Mungkin ada lahan Rp200 ribu (per meter persegi) tetapi in the middle of nowhere, tidak ada akses dan tidak ada tenaga kerja yang bisa bekerja di situ,” jelas Ferry Salanto menjawab pertanyaan RumahHokie.com.

Baca Juga: Modern Halal Valley ModernCikande Fokus Tiga Jenis Industri

Untuk mengembangkan sebuah kawasan industri, imbuh Ferry, diperlukan beberapa syarat. Pertama, kedekatan lokasi dengan sumber energi. Kedua, sejumlah besar tenaga kerja yang akan dipekerjakan. Hal ini juga terkait dengan demografi kawasan tersebut. Ketiga, ketersediaan bahan baku. Keempat, target pasar dan distribusi produk.

Ferry mengatakan di sisi perizinan kawasan industri memang harus dipermudah, tetapi bukan berarti harga lahan dikontrol sampai serendah itu. Pasalnya, mekanisme harga lahan kawasan industri merupakan inisiatif pengembang swasta, sementara Pemerintah tidak punya cukup lahan untuk bisa mengontrol harga lahan.

Baca Juga: Punya Banyak Kelebihan, ModernCikande Jadi Kawasan Industri Percontohan

Sebelumnya, Selasa (7/1/2020), Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia mengatakan harga tanah di kawasan industri (KI) tidak boleh lebih dari Rp200 ribu per meter persegi. Hal itu dinyatakannya setelah mendapat banyak masukan dari asosiasi dan pelaku usaha yang mengeluhkan tingginya kenaikan harga tanah di kawasan industri.

“Sesuai dengan arahan Presiden, pembangunan ini tidak boleh dihambat-hambat. Jangan mempersulit perizinannya dan harga tanah tidak boleh lebih dari Rp200 ribu per meter persegi,” kata Bahlil Lahadalia dalam keterangan resmi yang dinukil dari laman Detik.com.

Baca Juga: Ironis, Jakarta Raup Rp18 Miliar per Tahun dari Kawasan Industri Karawang

Senada dengan Bahlil, Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal BKPM, Ikmal Lukman menjelaskan, banyak perusahaan China yang pindah ke Vietnam lantaran harga tanahnya lebih murah dan tawaran kepastian insentif investasi.

“Permasalahan harga tanah yang tinggi akan mempengaruhi daya saing investasi Indonesia,” imbuh Ikmal.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda