Pengamat: Pasar Properti Lesu Karena “Kesombongan” Pengembang

Sebenarnya tidak ada alasan pasar properti tidak naik, karena pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup baik, sementara suku bunga acuan Bank Indonesia berada di angka 5%.

ali-tranghanda-pasar-properti-koridor-timur-jakarta-by-anto-erawan-rumahhokie-dok
Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch saat menjadi pembicara dalam acara Jakarta Eastern Corridor Market Highlight 2020. (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Anomali siklus properti Tanah Air agaknya terjadi berlarut-larut. Pasalnya, setelah 2013 terdeteksi mati suri, hingga kini sektor properti masih belum terlihat menggeliat.

“Tahun 2017, bisnis properti seharusnya telah menanjak, tetapi hal ini tidak terjadi. Bahkan, kami melihat sepanjang 2018 sampai 2019, investor masih enggan berinvestasi properti, sehingga pasar properti tiarap,” tutur Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch (IPW) dalam acara Jakarta Eastern Corridor Market Highlight 2020, Senin (13/1/2020).

Baca Juga: Artikel-artikel Menarik Terkait Koridor Timur Jakarta

Dia menerangkan, sebenarnya tidak ada alasan pasar properti tidak naik, karena pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup baik (antara 4,9% – 5,1%) sementara suku bunga acuan Bank Indonesia berada di angka 5%.

Menukil survei yang dilakukan IPW, hingga kuartal III-2019, berdasarkan unit terjual, Tangerang dan sekitarnya menjadi penyumbang terbesar dengan angka 45,2%, Bekasi (24,3%), Bogor (15,9%), Serang – Cilegon (12,8%), dan Jakarta (1,8%).

Sementara, berdasarkan nilai penjualan, Tangerang dan sekitarnya masih yang terbesar dengan membukukan angka 42,1%, diikuti Bekasi (25,3%), Bogor (17,9%), Serang – Cilegon (7,5%), dan Jakarta (7,3%).

Perumahan Menengah Kurang Dilirik
Ali Tranghanda menggaris bawahi beberapa hal terkait bisnis properti di 2020 ini. Menurutnya, perumahan menengah bawah tetap memiliki potensi besar, namun rentan kebijakan Pemerintah.

Dia juga memprediksi perumahan menengah di kisaran Rp300 jutaan – Rp1 miliar masih menjadi primadona. Sedangkan, apartemen menengah berbasis TOD berkisar Rp 300 jutaan – Rp500 jutaan masih akan marak. Di sisi lain, pasar apartemen dan perumahan mewah di atas Rp1 miliar akan sulit, karena segmen ini banyak diserap investor.

Baca Juga: Penunggak BPJS Kesehatan Tak Bisa Dapat KPR, Ini Komentar Pakar Properti

Data IPW menunjukkan, penjualan rumah dengan harga di bawah Rp300 juta menyumbang 35,37%, rumah seharga Rp301 juta – Rp500 juta sebesar 24,27%, Rumah dengan harga Rp501 juta – Rp1 miliar sebanyak 30,27%, sedangkan rumah di atas Rp1 miliar hanya 10,09%.

Data lain yang dimiliki Indonesia Property Watch menunjukkan, harga rata-rata unit rumah terjual pada kurun 2018 hingga 2019 berkisar antara Rp441 juta – Rp626 juta.

“Penjualan hunian masih didominasi oleh rumah dengan harga jual Rp300 jutaan hingga Rp1 miliar dengan persentase lebih dari 54%. Sementara harga unit rumah berkisar Rp400 jutaan hingga Rp600 jutaan, tetapi pengembang terlihat masih berlomba-lomba membangun rumah kelas atas seharga Rp2 miliar atau lebih. Ini yang menyebabkan mismatch di pasar properti Tanah Air,” terang Ali.

Baca Juga: Potensi Besar, Pengembang Harus Bidik Pasar Menengah-Bawah

Dia melihat, pasar gemuk yang ada saat ini tidak digarap secara maksimal oleh pengembang, karena pengembang menginginkan keuntungan yang lebih besar.

Padahal, imbuh Ali, volume yang tinggi dari penjualan rumah menengah, lebih baik bagi cash flow pengembang, dibanding membangun rumah mewah namun sulit dijual, karena investor properti masih tiarap.

“Jadi sebenarnya pasar properti yang dibilang stuck oleh pengembang, lebih disebabkan (strategi) pengembang itu sendiri,” kata Ali. “Oleh sebab itu, pengembang sebaiknya lebih banyak membangun rumah menengah, karena bakal lebih mudah terserap pasar, karena pembelinya end-user yang memang membutuhkan hunian.”

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda