Pengembang Keluhkan Sejumlah Hal Terkait Rumah Subsidi

Soelaeman mengatakan, ada beberapa permasalahan yang dihadapi dalam membangun rumah subsidi. Salah satunya lokasi pasokan dan permintaan yang berjauhan.

Perumahan subsidi Villa Kencana Cikarang
Perumahan subsidi Villa Kencana Cikarang (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Selama 2016 lalu, pembangunan rumah di Tanah Air tercatat mencapai 805.169 unit. Untuk kategori rumah subsidi yang menggunakan KPR FLPP, sebanyak konsumen dari sektor swasta menyerap 74%, diikuti PNS yang menyerap 13%, sektor wiraswasta (8%), dan TNI/Polri (4%).

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia (DPP REI) Soelaeman Soemawinata mengatakan, masih banyak permasalahan yang dihadapi pengembang dalam pengadaan rumah subsidi. Ini yang membuat pembangunan rumah rakyat belum maksimal.

“Salah satunya, (lokasi) supply dan demand tidak ketemu. Di beberapa daerah, seperti Semarang dan Serang kami menemukan supply berada di satu kawasan, sementara demand berada di kawasan lain yang berjauhan,” jelas Soelaeman dalam acara Diskusi Forum Wartawan Perumahan Rakyat (Forwapera) yang mengangkat tema “Kupas Tuntas Dua Tahun Program Sejuta Rumah”, Selasa (9/5/2017).

Eman—demikian Soelaeman akrab disapa—memaparkan, rumah subsidi tapak biasanya jauh dari pusat kota dan memiliki fasilitas transportasi publik yang lemah, sementara di sisi lain pembangunan rumah susun masih terkendala budaya.

Baca Juga: Dukung Pemerintah, REI Targetkan Bangun 200.000 Unit Rumah MBR

“Penetapan harga rumah subsidi berdasarkan zonasi pun masih bersifat umum, padahal di satu provinsi kemungkinan bisa terjadi perbedaan harga. Contohnya rumah di (Pulau) Mentawai harganya (biaya konstruksi) lebih mahal dari di Padang,” katanya.

Kasus lain terjadi di Bali, lanjut Eman. Harga lahan di Bali terlalu mahal untuk dijadikan rumah sederhana tapak, namun di sisi lain belum ada peraturan daerah (Perda) terkait apartemen atau rumah susun.

“Padahal, di Bali sudah banyak berdiri kondotel (kondominium hotel), namun pihak Pemda menganggap kondotel berbeda dengan rumah susun, karena kondotel dikelola secara profesional,” urainya.

Untuk itu, Eman mengusulkan agar Pemda Bali membuat peraturan agar pengembang dapat membangun rusunami dengan konsep low rise apartment. Pasalnya, tinggi bangunan di Bali secara adat dibatasi, sementara di sisi lain banyak pengembang yang tertarik mengembangkannya.

Eman menjelaskan, saat ini REI memiliki lebih dari 3.800 anggota, dimana sebanyak 2.500 – 3.000 adalah anggota aktif.

“Sebanyak 75% anggota REI bergerak di perumahan MBR (masyarakat berpenghasilan rendah), 5% memproduksi multiproduk (perumahan, apartemen, ritel, dan industri), sementara sisanya mengerjakan rumah menengah,” tuturnya.

Kendala Lahan dan Infrastruktur
Pada kesempatan yang sama, Asmat Amin, Managing Director PT Sri Pertiwi Sejati (SPS Group) mengeluhkan harga lahan yang terlampau mahal untuk mengembangkan rumah subsidi.

“Mahalnya harga tanah membuat pembangunan rumah subsidi harus bergeser ke pinggir kota. Dengan demikian, harus ada akses transportasi dan infrastruktur lain seperti air dan listrik,” jelasnya.

Dia memberi contoh perumahan Villa Kencana Cikarang yang dikembangkan SPS Group. Perumahan subsidi yang belum lama ini diresmikan Presiden Joko Widodo ini berada di lokasi yang memiliki air tanah yang mengandung merkuri sehingga tak layak minum.

Baca Juga: Presiden Jokowi Resmikan 8.700 Rumah Pekerja dengan Uang Muka Rp1 Jutaan

“Untuk pasokan air, kami harus menyediakan infrastruktur berupa pipa air untuk menyalurkan air dari PDAM. Nilainya tidak sedikit, bisa puluhan miliar rupiah,” tuturnya.

Di samping itu, Asmat mengaku pembebasan lahan untuk rumah subsidi terbilang sulit, bahkan di beberapa kabupaten, ada kepala daerah yang tidak setuju daerahnya dibangun rumah untuk MBR.

Hal yang aneh menurut Asmat adalah tanah hoek (kavling sudut) tidak bisa dijadikan rumah subsidi, padahal di setiap perumahan pasti ada lahan hoek.

“Dengan demikian, sistem bank tanah sudah harus dilakukan,” pungkasnya.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda