Perlu Diketahui: 8 Kelebihan dan 9 Kekurangan Investasi Properti

Mengetahui kelebihan dan kekurangan properti perlu untuk menentukan strategi investasi dan mempertimbangkan cara meningkatkan value properti.

Foto: RumahHokie.com

RumahHokie.com (Jakarta) – Laiknya komponen investasi lain, properti memiliki kelebihan dan kekurangan. Sebagai investor, tentu Anda harus mempelajari kelebihan dan kekurangan tersebut.

Baca Juga: Tujuh Trik Jitu Memilih Investasi Properti yang Tepat

Hal ini sangat penting, untuk menentukan strategi investasi dan mempertimbangkan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengelola properti tersebut agar bertambah nilainya.

Kelebihan Investasi Properti
1. Pendapatan Tahunan (Income Appreciation)
Pendapatan tahunan diperoleh dari pendapatan sewa bulanan atau tahunan. Keuntungan lain yang bisa didapat adalah kenaikan harga sewa. Pasalnya, properti memiliki sifat kelangkaan (scarcity) yang membuatnya makin dicari. Itu sebabnya harga sewa properti dapat naik setiap tahun, setidaknya sebesar inflasi.

2. Peningkatan Nilai (Capital Appreciation
Hal ini merupakan “keharusan” dalam investasi properti, karena jumlah penduduk terus bertambah, sementara jumlah tanah tidak dapat bertambah. Untuk itu, pemilihan lokasi perlu dipertimbangkan agar capital gain bisa maik signifikan.

3. Nilai Tambah (Added Value)
Nilai tambah diperoleh setelah pengembangan bangunan di atas sebidang tanah kosong. Nilai tambah akan semakin tinggi, jika Anda membuat bangunan tersebut dengan menggunakan gaya arsitektur atau desain tertentu yang digemari.

Baca Juga: Pilih Investasi Properti Residensial atau Komersial, Simak Untung-Ruginya!

Kreativitas ini akan menghasilkan nilai jual lebih besar dibandingkan jumlah uang yang dikeluarkan untuk membeli tanah dan membangun bangunan tersebut.

4. Daya Pengungkit investasi yang Tinggi (high leverage investment)
Hal ini adalah salah satu keistimewaan investasi properti dibanding investasi lain. Contoh, jika Anda berinvestasi dengan uang Rp100 juta sebagai uang muka, Anda bisa memiliki investasi properti sebesar Rp500 juta atau lima kali lipat, karena sisanya (Rp400 juta) dibayar menggunakan pembiayaan dari bank.

5. Tahan Terhadap Inflasi (Hedge Of Inflation)
Kenaikan harga properti disebabkan oleh inflasi. Nilai kenaikan harganya lebih tinggi dari inflasi, lantaran properti memiliki sifat kelangkaan yang membuat supply cenderung selalu lebih tinggi dari demand.

6. Agunan yang Baik (Good Collateral)
Dibanding investasi lain, properti merupakan agunan yang baik. Artinya, pemilik uang tidak akan segan meminjamkan uang jika properti dijadikan agunan. Nilai pinjaman bervariasi hingga mencapai 80% dari nilai properti.

Baca Juga: Tips Sukses Investasi Properti dari Investor Andal!

7. Kontrol Personal (Personal Control)
Tidak seperti investasi keuangan macam deposito, saham, atau emas yang kenaikan harganya tidak dapat dikendalikan, pemilik properti memiliki kontrol personal untuk meningkatkan nilai propertinya. Misalnya saja, properti dapat direnovasi, di-upgrade, diperbaiki, atau diperluas.

8. Bangga Memiliki (Pride of Ownership)
Sebagian besar orang memiliki kebanggaan terhadap properti yang dimiliki, bahkan lebih tinggi dibandingkan mereka memiliki investasi lain. Properti juga menjadi bukti soliditas kekayaan seseorang.

Kekurangan Investasi Properti
1.
Investasi Padat Modal (High Capital Investment)
Kelemahan lain properti adalah investasi padat modal. Mengapa demikian? Karena semakin besar modal yang ditanamkan dalam properti, relatif semakin besar pula hasil yang didapatkan investasi properti tersebut.

2. Biaya Transaksi Tinggi (High Cost Transaction)
Untuk berinvestasi di sektor properti, Anda harus mengeluarkan biaya transaksi yang tinggi. Biaya-biaya tersebut biasanya berupa pajak, seperti PPh (dikenakan bagi penjual), BPHTB (dikenaan bagi pembeli), dan lain-lain.

Baca Juga: Pengembang: Perhatikan Tiga Poin Penting Investasi Properti

3. Keterjangkauan Investasi (Affordability Investment)
Hal ini menjadi salah satu kendala, karena harganya tinggi dan umumnya transaksi dilakukan menggunakan pembiayaan dari bank.

4. Investasi Jangka Panjang (long term investment)
Investasi properti dapat didefinisikan sebagai investasi jangka panjang yang memiliki horison (jangka waktu) investasi rata-rata 3 – 5 tahun untuk mendapat capital gain yang berarti.

5. Waktu yang Lama untuk Membeli (Time Consuming Acquisition)
Hal yang menjadi kelemahan investasi properti adalah waktu yang lama untuk membeli. Rata-rata, membeli properti yang bagus memakan waktu lebih kurang sebulan, mulai mencari data, melakukan survei, hingga transaksi.

6. Pengetahuan Terbatas (Lack of Knowledge)
Keterbatasan pengetahuan terkait dengan sifat properti yang localized (setempat). Jadi kenaikan harga properti di suatu daerah belum tentu sama dengan daerah lain.

7. Beban Perawatan (Management Burden)
Beban perawatan properti cukup tinggi. Agar mendapatkan income sewa atau kenaikan harga jual, properti harus dalam kondisi bagus. Artinya, Anda sebagai pemilik mesti mengeluarkan biaya perawatan.

8. Penyusutan Bangunan (Building Depreciation)
Investasi properti yang berbasis pada bangunan, secara teori memiliki usia yang mengalami penyusutan bangunan. Secara teori, bangunan dapat berumur 20, 30, atau 40 tahun, tergantung fungsi, kualitas, dan standar kekokohan bangunan (konstruksi).

9. Kehancuran Fisik Bangunan (physical hazard)
Investasi properti memiliki risiko kehancuran tanah dan bangunan yang bisa disebabkan gempa, tanah longsor, tsunami dan lain-lain. Namun, hal ini sebenarnya dapat diatasi dengan asuransi, sehingga secara praktis risiko kehancuran akibat bencana dapat dihilangkan.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda