Pertaruhan Bisnis Perkantoran Jakarta Terjadi di 2021

Pasar perkantoran Jakarta sekarang ini mengalami "big jump", di mana pasokan sangat tinggi, sehingga harga strata title dan harga sewa terkoreksi cukup dalam.

pasar-perkantoran-thamrin-jakarta-rumahhokie-by-anto-erawan-dok
Kawasan Perkantoran CBD Jakarta (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Pasar perkantoran Jakarta, terutama di CBD (central business district) terlihat masih mengalami over supply. Hal ini diprediksi akan terus berlangsung hingga 2022. Demikian penuturan Bagus Adikusumo, Senior Director Office Services Department Colliers International Indonesia dalam laporan pasar properti kuartal III-2019, Rabu (9/10/2019).

Menurutnya, pertaruhan bisnis perkantoran di Jakarta akan terlihat di 2021, karena pasokan di 2021 cukup banyak, misalnya Thamrin Nine (97.500 m2) dan gedung-gedung yang dikembangkan developer asing seperti Gedung Mori (90.000 m2), dua tower Gedung Indonesia Satu milik China Sonangol (total 131.500 m2), serta Daswin Tower besutan Mitsubishi Estate (80.000 m2).

Baca Juga: Penyerapan Ruang Perkantoran Jakarta Dinilai Berjalan Positif

Over supply akan terus terjadi sampai 2021. Jadi setelah 2021, siapa pun yang mau membangun perkantoran, sebaiknya menunggu perkembangan hingga 2021,” kata Bagus Adikusumo menjawab pertanyaan RumahHokie.com.

Uniknya, Colliers International Indonesia mencatat tidak ada pasokan perkantoran baru di 2022. Bagus mengatakan, bila pasokan berhenti di 2022, maka akan seimbang antara supply dengan demand. Sementara sekarang ini terjadi big jump, di mana supply sangat tinggi, sehingga harga strata title dan harga sewa terkoreksi cukup dalam.

“Sekarang, pengembang berhati-hati dalam membangun gedung perkantoran meski tanahnya sudah dikuasai,” katanya.

Baca Juga: Pasar Perkantoran Ibukota Diprediksi Tertekan Hingga Akhir 2019

Dia memberi ilustrasi, hingga 2014 banyak developer berspekulasi membangun gedung kantor. Dahulu gedung bisa tersewa 2 – 3 tahun dari mulai beroperasinya, sementara sekarang lebih lama dari itu.

“Jadi, pengembang tidak bisa lagi membangun gedung perkantoran dengan spekulasi, karena akan berat mengisi okupansinya. Tapi bila ada uang banyak dan gedungnya diminati—misalnya dengan captive market 50%—silakan membangun. Bila tidak ada captive market sangat berisiko,” terang Bagus.

Di sisi lain, pemain-pemain asing yang membangun perkantoran mau tidak mau memulai pembangunan, karena SIPPT (Surat Izin Penunjukan Penggunaan Tanah) sudah dipegang dan uang pun ada.

Baca Juga: Pasar Perkantoran Sewa Jakarta Masih dalam Kondisi Stagnan

“Mereka ini merupakan long term player jadi nggak masalah. Memang saat ini pasar masih down, tapi pada saat market up, mereka akan merasakan keuntungan capital gain dan rental yield,” katanya.

Para pengembang perkantoran saat ini pun berusaha memaksimalkan proyek yang dikembangkannya. Jika dulu developer membangun gedung 30.000 m2, sekarang bisa mencapai 80.000 m2 – 100.000 m2.

“Ini disebabkan harga tanah sudah mahal dan KLB (koefisien lantai bangunan) di pusat Jakarta dinaikkan bisa 10 sampai 13,” pungkas Bagus.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda