Pertumbuhan Infrastruktur Kawasan ASEAN Jadi Daya Tarik Investor

Colliers International mencatat, para investo kini semakin berminat untuk melakukan investasi pada bidang properti di negara-negara ASEAN.

gedung perkantoran non cbd Jakarta
Ilustrasi gedung perkantoran di kawasan non CBD Jakarta. (Foto: Adhitya Putra-RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Hong Kong) – Konsultan real estat global, Colliers International melihat sejumlah negara ASEAN tengah melakukan pembenahan infrastruktur dan kebijakan demi menarik investor asing, untuk menanamkan modalnya dalam bidang properti.

Dalam laporan bertajuk Decoding South East Asia Real Estate, Colliers International menguraikan kondisi investasi real estat di negara anggota ASEAN, seperti Indonesia, Malaysia, Myanmar, Thailand, Filipina dan Vietnam.

Menurut David Faulkner, Managing Director Valuation & Advisory Services Colliers Asia
para investor kini semakin berminat untuk berinvestasi di negara-negara ASEAN, sejalan dengan pembangunan infrastruktur.

Baca Juga: Infrastruktur Beri Dorongan Positif Terhadap Pasar Properti Asia

“Negara-negara ASEAN telah melihat minat yang lebih besar dari para investor asing, terutama dari Asia Utara. Namun, para investor harus berhati-hati dalam menentukan apakah (pasar) layak untuk menjadi tambahan portofolio investasi mereka,” tutur David seperti dilansir dari siaran pers, Selasa (26/03/2019).

Di Indonesia, investasi asing dan domestik telah meningkat karena perubahan kebijakan pemerintah. Menurut Colliers, saat ini pasar properti Tanah Air terkonsentrasi di dua kota besar, yaitu Jakarta dan Surabaya.

“Pengembangan infrastruktur menjadi fokus utama bagi Indonesia. Hal itu menciptakan peluang untuk pengembangan kawasan industri dan berorientasi transit. Kami melihat yields yang ditawarkan antara 6% – 10%, tergantung jenis propertinya,” ungkap David.

Baca Juga: Prospek pasar properti Asia Tahun 2019 Dinilai Tetap Memiliki Peluang

Hal yang sama juga ditunjukan oleh negara Filipina yang sedang membenahi infrastruktur guna menarik minat para investor. Saat ini aktivitas ekonomi terkonsentrasi di sekitar kota Manila. Pemerintah Filipina berinvestasi dalam perbaikan infrastruktur dalam skala besar.

Hal ini berdampak pada pasokan ruang perkantoran di Manila yang bertumbuh 36%
secara year-on-year (yoy).

“Kami memprediksi imbal hasil untuk aset kantor yang di wilayah utama, bisa mencapai 5,6%. Sedangkan pada sektor residensial di tahun 2018, sebanyak 54.000 unit berhasil terjual,” katanya.

Baca Juga: Implikasi Profil Penghuni Terhadap Strategi Investasi Properti Komersial

Sedangkan di Malaysia, pemerintah setempat sedang mengusulkan insentif pajak untuk menstabilkan pasar properti, dan mengurangi biaya bisnis di negara tersebut. Mereka

Colliers melihat peluang pasar properti Malaysia terkonsentrasi pada sektor gedung perkantoran dan ritel di sekitar Kuala Lumpur. Mereka memperkirakan, keuntungan investasi berada di level 5,5% – 6,5%.

Di Myanmar, pasar ritel memberikan peluang investasi, dengan tingkat kekosongan sebesar 5%. Hal itu disebabkan pusat perbelanjaan kian menjadi tujuan gaya hidup di negara tersebut, seiring dengan jumlah keluarga berpenghasilan menengah di Myanmar meningkat, yang berdampak pada pola konsumsi yang lebih tinggi.

Adhitya Putra Pratama
adhitya.putra@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda