Peruntukan Area Perumahan Bersubsidi Harus Diperbanyak

Jika ingin bersinergi dengan pengembang rumah subsidi, Pemerintah harus mengoreksi kebijakan, terutama soal RUTR.

rumahtapak-rumahhokie-dedy mulyadi-dok
Perumahan menengah ke bawah untuk rakyat (Foto: Dok. RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Cikarang) – Merintis karirnya sebagai pengusaha properti tentu bukan jalan yang mulus bagi pria satu ini. Sebelum terjun di bisnis properti, sempat pula ia merasakan pahitnya menjalankan usaha sebagai kontraktor.

Lewat perjalanan itu, akhirnya Asmat Amin, Managing Director PT Sri Pertiwi Sejati (SPS Group) mulai merambah ke bisnis properti.

“Awalnya, kami membangun perumahan Kota Mega Regency. Setelah proyek tersebut sukses terjual, kami kembangkan Kota Serang Baru,” ucap Asmat.

Baca juga: Asmat Amin: Kami Bangga Bisa Sediakan Hunian Layak Bagi MBR

Selanjutnya di Cikarang, SPS Group meluncurkan Grand Cikarang City. Mengulang kesuksesannya, developer ini kemudian melakukan ekspansi bisnisnya dengan membangun Villa Kencana Cikarang dan Grand Vista Cikarang.

Sejak tahun 2004, hunian yang sudah dikembangkannya mencapai 50.000 unit. Selain fokus pada hunian bersubsidi, SPS Group juga membangun proyek mixed use development yaitu Chadstone Cikarang.

“Saat ini kami memang agresif. Dalam satu tahun saja, kami bisa meluncurkan tiga sampai empat proyek baru,” tegas Asmat.

Menurutnya, geliat bisnisnya mulai gencar dilakukan pada 2014 hingga saat ini.

Meski pada dua tahun terakhir bisnis properti melemah. Berkat insting dan kejelian yang dimilikinya. Segmen yang ditawarkannya nyaris tidak terpengaruh oleh kondisi pasar.

Segmen Rumah Subsidi Tahan Banting
“Dalam segala kendala, pangsa pasar khusus rumah bersubsidi termasuk sektor bisnis yang tahan banting,” katanya.

“Kami optimis, bisnis ini akan terus berjalan, karena segmentasi ini dibutuhkan oleh kalangan menengah bawah yang benar-benar memerlukan tempat tinggal yang layak,” papar Asmat.

Perlu diketahui, dalam mengembangkan rumah subsidi tidak sesederhana membangun proyek lain. Banyak aspek yang perlu diperhatikan.

“Proses pembelian lahan untuk kawasan hunian bersubsidi tidaklah gampang. Pembebasan lahan murni kami lakukan sendiri, tidak ada bantuan pihak manapun,” kupasnya.

Hal lain yang jadi aspek pertimbangan kata Asmat adalah akses transportasi. Lahan tersebut memiliki sumber air atau tidak? Jangan sampai ketika proses pembangunan, para penghuni tidak mendapatkan sumber air yang baik.

Jika ingin bersinergi dengan pengembang rumah subsidi Asmat menyarankan, Pemerintah harus mengoreksi kebijakan wilayah soal rencana umum tata ruang (RUTR). “Peruntukan area perumahan rakyak harus diperbanyak,” pungkasnya.

“Membangun rumah subsidi yang layak lebih sulit. Terutama tanahnya, harga jual rumah bersubsidi juga sudah dipatok tidak seperti rumah komersial,” imbuh Asmat.

“Satu sisi kami berusaha membantu masyarakat untuk memiliki rumah. Sisi yang lain, kami terbentur oleh cost produksi yang terus membengkak,” jelasnya.

Dedy Mulyadi
dedy.mulyadi@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda