Populasi dan Daya Beli Bikin Sekolah Internasional Makin Diminati di Asia Pasifik

Menurut penelitian yang dilakukan konsultan properti JLL, pasar pendidikan swasta di Asia Pasifik diperkirakan bernilai USD370 miliar.

pendidikan- rumahhokie-sekolah internasional - rumahhokie - dok
Foto: Pixabay.com

RumahHokie.com (Jakarta) – Permintaan sekolah internasional bermutu dengan kurikulum berbasis bahasa Inggris makin diminati di kawasan Asia Pasifik. Ini menjadi peluang bisnis yang patut dicermati.

Menurut penelitian yang dilakukan konsultan properti JLL, pasar pendidikan swasta di Asia Pasifik diperkirakan bernilai USD370 miliar. Industri ini telah mengalami lonjakan permintaan disebabkan pergerakan demografi makro ekonomi dan tren demografi yang menguntungkan, seperti meningkatnya kesejahteraan ekonomi rumah tangga dan pertumbuhan populasi yang cepat.

Baca Juga: JLL: Volume Investasi Properti di Asia Pasifik Capai Rekor USD81 Miliar

“Dengan kelas menengah lokal yang sedang berkembang, jumlah anggota keluarga yang tidak banyak, dan bertambahnya rumah tangga yang berpenghasilan ganda, orang tua sekarang mencari pilihan akademis tingkat pertama yang diajarkan dalam bahasa Inggris untuk memberikan anak-anak mereka kelebihan dalam masyarakat yang semakin global,” kata Noeleen Goh, Director of Alternatives, Capital Markets JLL Asia Pasifik.

Di Hong Kong, imbuhnya, sekolah menengah internasional Inggris meningkat jumlahnya dari 92 di 2000 silam menjadi 177 pada di 2017. Jumlah pelajar juga meningkat lebih dari dua kali lipat selama periode tersebut.

Negara-negara tanpa kurikulum nasional bahasa Inggris yang memadai seperti Vietnam, Thailand, Jepang, dan China juga telah melihat lonjakan popularitas di kalangan orang tua terhadap sekolah-sekolah berbasis bahasa Inggris.

Baca Juga: Bersama India dan Indonesia, Vietnam Jadi Pasar Properti Potensial di Asia

“Berkembangnya sekolah-sekolah internasional di wilayah ini menandakan bahwa persaingan di antara para pelajar cukup sengit, sehingga kualitas pendidikan sekarang lebih tinggi dari sebelumnya. Ketika memilih tempat berdasarkan biaya sekolah untuk anak-anak mereka, orang tua banyak menekankan pada reputasi akademis keseluruhan, kurikulum, kualitas pengajaran, bahkan tingkat penerimaan universitas,” tambah Goh.

JLL juga mengungkapkan bahwa sekolah internasional pada umumnya telah mengalihkan fokus mereka kepada masyarakat lokal kelas atas. Hal tersebut dikarenakan menurunnya keluarga ekspatriat yang mendapatkan tanggungan perusahaan.

Negara-negara seperti Malaysia dan Thailand tidak memiliki batasan apa pun dalam pendaftaran masuk sekolah internasional, sementara Vietnam, juga telah melonggarkan peraturan dalam Decree 86 yang baru saja dikeluarkan, hal tersebut memungkinkan peningkatan hingga 50% pelajar lokal.

Masih Ada Tantangan di Beberapa Negara
JLL mencatat, investasi meningkat pada perusahaan-perusahaan yang mengoperasikan sekolah internasional. Mereka memiliki dukungan dari investor perusahaan, perusahaan ekuitas swasta, dan dana pensiun.

“Di sektor pendidikan swasta, adalah hal biasa bagi pengurus untuk memisahkan perusahaan yang menangani real estat (gedung sekolah) dari perusahaan yang menjalankan operasi pendidikan. Pasalnya, hal ini dapat memberikan pilihan kepada investor apakah ingin menanamkan modal mereka dalam pendidikan atau aset gedung sekolah,” papar Noeleen Goh.

Baca Juga: Investor di Asia Pasifik Bidik Sektor Properti Alternatif

Dia menjelaskan bahwa sebelumnya para investor dapat menyalurkan dana mereka untuk berinvestasi pada bisnis utama, yaitu layanan pendidikan. Namun di sisi lain, para investor properti dapat memaksimalkan nilai aset dengan menyewakan kembali fasilitas sekolah kepada pengurus sekolah yang terpercaya atau membangun kampus yang sudah dipesan terlebih dahulu dengan harga sewa tetap untuk terlindung dari inflasi.

Kendati demikian, JLL menyebutkan ada tantangan dalam memasuki pasar pendidikan swasta di beberapa negara, karena lisensi mengajar yang ketat, atau penduduk setempat yang diwajibkan untuk memiliki pendidikan dasar nasional dan dibatasinya kepemilikan aset untuk orang asing.

Goh mengatakan, biasanya, investor asing memasuki pasar dengan membentuk usaha bersama atau kemitraan dengan pengusaha lokal, karena mereka memiliki pemahaman yang baik tentang persaingan dan peraturan lokal secara keseluruhan.

“Meskipun ada beberapa rintangan, sektor ini masih sangat menarik bagi para investor dan siap untuk mengalami pertumbuhan eksponensial di masa depan,” tutup Goh.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

 

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda