Potensi Besar, Pengembang Harus Bidik Pasar Menengah-Bawah

Segmen harga rumah antara Rp150 juta - Rp300 jutaan mengalami kenaikan hingga dua kali lipat, yakni sebesar 207,6%.

ali tranghanda - pop art - by anto erawan - rumahhokie - dok
Ali Tranghanda (ilustrasi: Anto Erawan - RumahHokie.com)

Oleh: Ali Tranghanda

RumahHokie.com (Jakarta) – Sebagai benchmark pasar perumahan nasional, pergerakan pasar properti di Jabodebek (Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi) – Banten dapat dijadikan barometer tren pasar perumahan di Tanah Air.

Memasuki semester II-2018, sebagian besar pelaku properti meyakini kondisi pasar perumahan saat ini relatif mengalami stagnasi, bahkan memiliki kecenderungan melambat atau menurun. Namun ternyata kesan ini tidak tergambar dari tren pasar berdasarkan riset terbaru yang dirilis Indonesia Property Watch (IPW).

Baca Juga: Di Tangan Pengembang BUMN, Proyek TOD Dinilai Kurang Greget

Meskipun secara kuartalan nilai penjualan mengalami penurunan, namun bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu, nilai penjualan di kuartal III-2018 mengalami peningkatan 37,3% (yoy).

Di sisi lain, jumlah unit yang terjual pun mengalami kenaikan sebesar 32,5% (yoy). Hal ini membawa harapan bahwa pasar perumahan akan mengalami tren positif ke depannya.

Kondisi pasar yang dirasakan pengembang lebih dikarenakan situasi pada akhir 2017 sampai awal 2018 yang memang mengalami penurunan. Akan tetapi, bila kita lihat lebih seksama, penurunan penjualan justru terjadi pada segmen harga di atas Rp500 jutaan.

Rumah Menengah-Bawah Naik Dua Kali Lipat
Berdasarkan data IPW, terjadi penurunan penjualan untuk rumah di segmen harga Rp500 juta – Rp1 miliaran sebesar 17,9%. Bahkan, penjualan rumah segmen di atas Rp1 miliaran anjlok hingga 71,2%.

Sementara itu, untuk segmen harga rumah antara Rp150 juta sampai Rp300 jutaan mengalami kenaikan hingga dua kali lipat, yakni sebesar 207,6%.

Baca Juga: Pasar Apartemen: Antara Investor, Pemilu, dan Ekonomi Global

Sebagian besar pengembang saat ini masih merasa pasar segmen atas lebih gurih dibandingkan dengan segmen menengah, bahkan bawah. Namun kenyataannya dengan kondisi saat ini pasar segmen menengah bawah yang relatif tahan terhadap gejolak pasar yang ada saat ini.

Pasar segmen menengah dan bawah dengan kisaran di bawah Rp500 jutaan relatif tidak terlalu terpengaruh gejolak politik saat ini. Sedangkan di pasar menengah atas tetap merupakan pasar besar namun saat ini relatif tidak banyak melakukan aksi pembelian karena kondisi politik.

Baca Juga: Pasar Properti Tidak Bisa Lagi Menyasar Generasi Milenial

Namun, tidak dapat ditampik bahwa tren pasar saat ini belum sepenuhnya menunjukkan tren kenaikan secara stabil, masih dimungkinkan terjadi perlambatan dan penurunan secara kuartalan.

Banyaknya pengembang yang terus membangun rumah menengah atas membuat pasar mengalami mismatch dimana secara umum pasar menengah bawah lebih besar, namun pasokan terus bertambah dan menyasar pasar segmen atas.

Baca Juga: Ini Sisi Positif Tahun Politik Terhadap Sektor Properti

Dalam kondisi saat ini, saya mengimbau agar para pengembang bisa lebih melakukan strategi ‘membumi’, karena sangat jelas pasar segmen menengah bawah sangat besar sedangkan pasokan relatif terbatas.

Hal ini juga diperkuat dengan data Bank Indonesia yang menyebutkan bahwa tingkat penjualan rumah tapak untuk tipe di bawah 70 meter persegi terus mengalami peningkatan dibandingkan rumah tapak dengan luasan lebih besar dari 70 meter persegi.

Pada akhirnya, yang menentukan pasar perumahan adalah pasar itu sendiri dengan terus bergeser ke pasar end user.

Ali Tranghanda adalah pakar properti nasional dan CEO Indonesia Property Watch. Artikel ini adalah pendapat pribadi penulis.

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda