Prestige Property, Ketika Gengsi Mengalahkan Investasi

Gaya membeli properti orang kaya pasti beda banget. Kamar 12, tapi tak pernah pulang. Tinggal di Singapore, sebab di Jakarta sering batuk. Udara kotor.

RumahHokie.com – Berapa nilai sebuah harga diri? Tak terhingga. Tetapi di properti, kemungkinan hanya 1,5%.

Kelompok-kelompok emotional buyer membeli dengan motif gengsi, status sosial, aktualisasi diri, bahkan pamer kekayaan.

Jadi hartawan itu sah, yang penting dermawan. Orang lewat, dikasih duit. Mangga Rp35 ribu sekilo ditawar Rp80 ribu.

Gaya membeli properti orang kaya pasti memilih yang mahal banget. Kamar 12, tapi tak pernah pulang. Tinggal di Singapore, sebab kalau ke Jakarta sering batuk. Udara kotor.

Jadilah properti tidak memberi guna. Cash inflow dari sewa nihil. Kalaupun disewakan pasti kecil: ya 1,5% itulah! Bahkan capital gain bukan hal penting.

Jadi, orang kaya itu otaknya diam. Orang miskin kalau otaknya libur, jadi beban sosial. Maka, orang miskin mikirin properti sebagai alat menuju kaya. Mari berpura-pura kaya.

Jika Anda beli rumah di Pondok Indah Jakarta, harganya sudah Rp60 miliar sebiji. Pada harga yang sudah up-skying begini, hasil sewa pasti melandai. Lama kelamaan tambah lebar.

Cap rate dari 8%, turun jadi 1%. Tapi capital gain memang yahud. Bisa 15% – 20% dalam pasar bullish.

Pembeli banyak, barang kosong. Pondok Indah jadi rebutan. Yang tak sabar bisa pindah harapan ke Pondok Gede atau Pondok Aren. Sama-sama pondok, beda saldo.

Gain 15% – 20% setahun itu bukan mainan menarik. Sebab jika Anda hold terus, capital gain tidak ada. Yang terbaca hanya meningkatnya portofolio aset.

Inilah yang dikejar oleh orang kaya karena meskipun intangible, itu jadi parameter hidup orang sukses. Jadi, ya memang prestige property. Sangat bernilai tinggi.

Makanya, yang tinggal pasti Ibu Ratu (godmother). Sanggulnya tinggi, tas Hermes dan ngoceh sambil jalan. Tante Sun, kata Bimbo.

Di dunia, perilaku orang kaya hampir semua sama. Jika ada over liquid, dia akan tanamkan di real estat.

Mengapa? Itulah aset yang nyata legalitasnya, tak harus ditongrongin sering-sering. Anti-maling karena tak bisa dipindah. Langka, tiap lokasi unik dan menambah gengsi.

Lho, semua kelebihan itu ternyata persis dengan Ibu Ratu ya. Isteri semakin tua yang karena cerewet ya memang jangan sering-sering ditongkrongin. Trus Anda kemana? Eitt….jangan macam-macam ya… Tiap lokasi itu unik!

Bersama F. Rach Suherman F. Rach Suherman
Mentor investasi properti nasional ini sebelumnya menjabat CEO di tiga perusahaan properti yang berbasis di Indonesia. Saat ini Suherman juga menjadi dosen dan aktif memberi seminar, pelatihan, dan konsultansi untuk perencanaan dan pemasaran properti.

Bila Anda memiliki pertanyaan, kirimkan ke: redaksi@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda